
Di dalam kamar mandi itu bukan hanya terdengar suara gemericik air, namun terdengar pula suara desahaan Dinda yang menggema.
Tiap hentakan yang diberikan oleh Alden dari balik punggungnya, maka keluar pula lah desahaan itu. Desah tanda kenikmatan yang tak sudah-sudah.
Satu minggu berlalu dan mereka terus bercumbu tanpa mengenal waktu. sampai Akhirnya tiba dimana mereka akan menjemput Julia untuk ikut bersama mereka tinggal di rumah ini.
Tentang permintaan Liora waktu itu, Alden benar-benar mengacuhkannya. Bahkan memerintahkan Derick untuk terus menghalangi wanita itu andai dia ingin menemuinya dan Dinda.
Sampai akhirnya Liora hanya bisa menyerah, dan pasrah pada keadaan yang akan membelenggunya. Terlebih saat sang nenek dinyatakan bersalah dari semua kasus dan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara. Luruh sudah semua pertahanan Liora. Sebagian hartanya habis hanya untuk membayar ganti rugi.
Tapi Alden sudah tak ingin peduli lagi, baginya mereka telah berjalan di jalan yang terpisah.
Pagi-pagi sekali setelah sarapan, Alden dan Dinda bertandang ke rumah Julia.
Alden mengetuk pintu rumah ibu mertuanya lalu menoleh ke arah Dinda di samping dan tersenyum. Mereka saling tukar senyum.
__ADS_1
"Mama Julia tidur di kamar mu ya?" tanya Alden dan Dinda mengangguk.
"Jadi ingat kejadian di kamar mandi."
"Iihh." kesal Dinda, dia mencubit perut suaminya dan saat Alden gaduh kesakitan Julia pun membuka pintunya.
Sontak saja Julia tersenyum ketika melihat anak dan menantunya saling bertukar canda seperti itu.
Mereka bertiga akhirnya masuk, duduk di ruang tengah.
"Ma, lebih baik mama ikut tinggal bersama kami. agar tidak kesepian disini," ucap Alden, langsung mengutarakan apa maksud kedatangannya dan Dinda.
Karena itulah dia masih betah disini, masih berharap pria itu akan kembali datang.
"Terima kasih Al, tapi mama tidak ingin merepotkan kalian. Disini mama juga tidak sendirian. ada 2 pelayan yang selalu menemani Mama. Jadi kalian tidak perlu khawatir," jawab Julia, menolak keinginan itu.
__ADS_1
"Tapi Ma_"
"Dinda, nikmatilah waktu kalian bersama, nanti setelah anak kalian lahir baru mama akan ikut tinggal di rumah kalian," potong Julia saat Dinda ingin buka suara.
Dan mendengar penjelasan yang kedua dari sang ibu, Dinda cukup merasa lega, karena jujur saja dia pun tak tega meninggalkan ibunya hanya sendiri disini. Meski sebenarnya masih ada 2 pelayan yang menemani, tapi tetap saja, Dinda pun ingin merawat ibunya sendiri. Selalu bersama seperti sebelum-sebelumnya.
Saat itu Julia juga mengatakan jika mereka masih bisa sering bertemu meski tidak tinggal dalam satu rumah.
Gelagat ibunya yang seolah kukuh ingin tinggal di rumah ini membuat Dinda curiga, menerka-nerka jika ibunya masih menunggu sang ayah.
Namun Dinda tak ingin berpikir terlalu jauh, dia hanya menghargai apapun keputusan sang ibu.
Bagi Dinda, perihal ayahnya pun sudah dia anggap tidak ada.
Siang itu Alden dan Dinda makan siang disana, Dinda bahkan tak canggung menyuapi ibunya sendiri ketika ada Alden.
__ADS_1
Melihat kedekatan itu malah membuat Alden merasa sangat bersyukur.
Dinda adalah wanita terbaik yang dikirimkan oleh Tuhan untuknya.