
Malam datang.
Di rumah utama keluarga Carter telah bersiap menyambut kedatangan pengantin baru.
Jia juga sudah menyiapkan makan malam mewah untuk merayakan pernikahan ini.
Di meja makan bukan hanya berisi makanan khas pesta, namun juga diahiasi dengan bunga mawar merah dan mawar putih yang sangat indah.
Arion, Aaron dan Alex lebih dulu selesai. Para pria ini keluar lebih dulu dari dalam kamar mereka. Sementara Jia, Aleia dan Leia masih berada di dalam kamar berdandan secantik mungkin.
Jia pun berdandan di kamar sang anak, ketiga wanita berbeda generasi ini saling bantu untuk terlihat sempurna malam ini.
"Wah mommy curang, bagaimana bisa mommy jadi lebih cantik daripada kami?" puji Aleia pada sang ibu dan Jia langsung mencubit pipi anaknya gemas.
"Kamu juga cantik Aleia, sangat cantik," kini giliran Leia yang bicara.
"Tapi sebenernya yang paling cantik adalah kamu sayang," puji Jia seraya mengelus lembut lengan anaknya.
Aleia hanya mengangguk-anggukan kepalanya setuju. Darah blasteran yang mengalir di tubuh Leia tak bisa dipungkiri. Leia terlihat sangat cantik malam ini. Apalagi selama ini seluruh keluarga Carter tidak pernah melihat Leia yang berdandan, jadi malam ini penampilan Leia begitu spesial.
"Tante_"
"Tidak, jangan panggil Tante lagi, panggil lah Mommy dan Daddy Alex, ya?"
"Tapi_"
"Mommy tahu, kamu sedikit mengingat jika kamu memiliki seorang ibu kan. Kamu juga takut jika ibumu pasti akan cemas memikirkan mu yang entah dimana. Tapi percayalah sayang, pertemuan kita itu atas izin Tuhan. Dan mommy akan sangat senang jika kamu pun menganggap mommy seperti ibumu sendiri," terang Jia.
Beberapa hari lalu Dinda mengatakan pada Jia jika dia berhasil mengingat sedikit tentang masa lalunya. tentang dia yang memiliki seorang ibu, tapi Dinda tidak mengatakan tentang namanya. Masih berpura-pura amnesia tentang hal itu.
"Semoga saja kamu segera ingat semuanya, setelah itu kita bersama-sama menemui ibu mu, ya?" ucap Jia lagi, seraya bertanya.
Dan Dinda hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Juga merasakan saat Aleia pun memeluk dirinya.
Maafkan aku. Batin Dinda. Entah bagaimana caranya dia membalas kebaikan keluarga ini.
Dengan sedikit canggung, akhirnya Dinda memberanikan diri untuk memanggil Jia dengan panggilan mommy. meski rasanya Dia seperti orang yang tidak tahu malu ketika mengucapkan satu nama itu.
"Mom, kalau boleh tahu siapa nama istrinya Alden? selama ini Mommy dan semuanya tidak ada yang memberitahuku," tanya Dinda.
"Itu rahasia sayang, lagi pula selama ini kamu juga belum pernah bertemu dengan Alden kan? jadi sekalian saja nanti berkenalan dengan mereka berdua secara langsung."
Mendengar jawaban sang ibu, Aleia hanya terkekeh saja. Seolah ini adalah kejutan untuk Leia.
"Kak Rayden tidak pulang Mom?" kini Aleia yang bertanya, Rayden adalah kakak tertuanya. Kakak yang jarang sekali pulang meski masih tinggal di rumah ini.
__ADS_1
"Mommy sudah memintanya pulang, tapi tidak tahu pulang atau tidak."
"Tapi dia tahu kan kalau Alden sudah menikah?"
"Tahu, Daddy yang memberi tahu kak Rayden."
Aleia mengangguk-anggukan kepalanya.
Jam 7 malam semuanya telah siap menyambut kedatangan Alden dan Liora. Mereka sudah berkumpul di ruang tengah.
Sementara itu kedua orang yang sedang ditunggu masih juga belum tiba.
Saat itu Alden dan Liora masih berada di jalanan. Entah bagaimana bisa tiba-tiba motor Alden jadi mogok, sementara bengkel masih jauh dari tempat mereka berhenti.
Liora terus menggerutu, mengutuk nasib sial yang telah dia dapatkan.
"Sudah ku bilang sejak awal, tidak usah pakai motor busuk mu ini! kita naik taksi saja!!" geram Liora, dia bicara dengan suaranya yang terdengar tinggi, seirama dengan banyaknya suara kendaraan yang berlalu lalang disana.
"Jangan hanya bicara, dorong motor ini," jawab Alden pula, tanpa perasaan dia memerintahkan itu pada sang istri.
Liora menganga, tak menyangka Alden akan mengucapkan kalimat itu. Malam ini adalah malam pertama mereka menjadi suami dan istri, malam ini mereka juga akan makan malam spesial untuk merayakannya, tapi apa yang terjadi sekarang? Alden malah memintanya untuk mendorong motor butut itu.
Liora menggeleng pelan, sampai mati pun dia tidak akan mau menuruti perintah itu.
"Aku tidak mau!"
"Astaga Al, kita mau makan malam dan ini ditengah jalanan, untuk apa merepotkan diri dengan motor jelek itu. lebih baik tinggalkan motor itu di sini dan kita pergi menggunakan taksi!!"
"Tidak, kalau kamu mau naik taksi silahkan saja, pergilah sendiri ke rumahku."
"Bagaimana bisa aku pergi sendiri?! apa kata orang tuamu nanti!!" geram Liora, rasanya sulit sekali untuk bicara dengan Alden, apa yang ada di dalam kepalanya seolah sulit sekali untuk diterima oleh pria ini.
"Karena itulah dorong motornya, aku yakin di depan sana ada bengkel."
"Astaga, kamu serius memintaku melakukan itu?" tanya Liora, kini dia benar-benar sudah seperti berputus asa. Sumpah tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini.
"Cepatlah, Jangan membuat waktu terbuang terlalu lama."
Liora menggeleng, tidak, dia tidak akan pernah mau melakukan itu.
Namun Alden langsung menatapnya dengan tajam, seolah jika Liora tak mau mendorong motornya maka Alden akan pergi meninggalkan dia sendiri disini.
Akhirnya mau tidak mau malam itu Liora mendorong motor sang suami, gaun malamnya tak sempat dia pegang hingga terjuntai ke jalanan yang kotor. Baru beberapa menit dia mendorong dan mulai ada peluh yang keluar dari dahinya.
Seumur hidup Liora tak pernah semenderita ini, apapun yang dia inginkan meski hal itu mustahil pun bisa terkabul hanya dengan sekali perintah.
__ADS_1
Diantara langkah kakinya yang lemas, Liora menangis. Namun Alden sungguh tak peduli.
Dan lama mendorong tak juga ada bengkel yang mereka temukan. Sampai akhirnya Alden coba hidupkan motor itu kembali dan ternyata bisa.
Ha? Liora menganga, seolah motor itu memang sedari tadi memang tidak rusak.
"Apa kamu sengaja melakukan ini padaku Al? apa sebenarnya motormu tidak rusak?" tanya Liora dengan nada dingin, dia tak terima dan ingin marah.
"Tidak usah banyak bicara cepatlah naik sebelum malam semakin larut," jawab Alden pula. daripada menjawab semua pertanyaan Liora, Alden lebih pilih untuk memberikan perintah yang lain pada istrinya itu.
Liora tersenyum getir, Alden benar-benar berubah. Tidak pernah lagi pria ini memperlakukannya manis seperti dulu.
Lantas dengan hatinya yang sudah terluka, akhirnya Liora pun naik ke atas motor itu.
Jam 8 malam lewat dan mereka baru tiba di rumah utama keluarga Carter. Saat itu yang menyambut sudah tidak lengkap, hanya tinggal Alex dan Jia, sementara yang lainnya sudah mulai sibuk sendiri.
Tapi mereka belum memulai makan malam itu, sengaja menunggu Alden dan Liora sayang.
"Astaga, apa yang terjadi? kenapa kalian berantakan begini?" tanya Jia dengan cemas, Alden dan Liora terlihat berantakan.
Liora hanya diam saja, seolah sudah hilang hasratnya tentang malam ini.
"Al, bawa Liora ke dalam kamar mu dulu. Bersihkan tubuh kalian baru setelahnya kita makan malam," titah Jia pula dan Alden mengangguk.
Liora pun hanya patuh saja, karena sungguh saat ini dia benci sekali pada Alden.
Tanpa ada pembicaraan lagi, Alden dengan segera membawa Liora untuk masuk ke dalam kamarnya yang ada di rumah ini. Kamar yang ada di lantai 2 dan bersebelahan dengan kamar milik saudara-saudaranya yang lain.
"Bersihkan bajumu, aku akan pinjamkan baju Aleia," ucap Alden, baku yang Liora kenakan saat ini terlihat sekali jika sudah kotor.
Liora tak menjawab, dia hanya mengangguk.
Setelah Alden pergi Liora pun dengan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu, Alden langsung mengunjungi kamar Aleia. Mengetuk pintunya berulang dan memanggil nama sang adik. Kakak sebenarnya, tapi karena sikap kekanak-kanakan Aleia membuat Alden pun menganggapnya seperti adik.
"Aleia!" panggil Alden, namun lama tidak ada sahutan akhirnya Alden pun membuka pintu itu begitu saja.
Dan ...
Deg!
Betapa terkejutnya Alden ketika kedua matanya bertatapan dengan mata coklat itu ...
Bukan mata milik Aleia.
__ADS_1
Tapi Dinda.
"Dinda."