
Seperti janji Alden pada Dinda dan keluarganya, setelah menikah dia akan kembali memimpin di perusahaan keluarga Carter.
Alden akan jadi pemimpin di kantor cabang yang selama ini dipimpin oleh Derick.
Di hari pertamanya berkerja sebagai direktur utama kantor cabang itu Alden membawa Dinda bersamanya. Tak perlu ada perkenalan ini dan itu atau pengumuman apapun. Karena kini semua karyawan disana sudah tahu siapa Alden sebenarnya.
Acara pernikahan yang digelar mewah saat itu seolah sebuah tabir yang akhirnya terbuka lebar, tentang identitas Alden yang ternyata bukan orang biasa. Apa yang mereka lihat selama ini ternyata tak nyata.
Pria miskin yang hanya menggunakan motor untuk kendaraannya, ternyata adalah seorang CEO di kantor mereka bekerja.
Jam 7 pagi Alden dan Dinda bersiap.
"Sayang, aku tidak suka melihatmu memakai baju warna itu, ganti," titah Dinda, dia telah selesai bersiap dan duduk di tepi ranjang. Sementara Alden masih sibuk memilih baju, karena sedari tadi Dinda selalu mengeluh tak suka pada apapun yang dia pakai.
Andai Alden menolak pasti Dinda akan menangis dan bersedih, seharian tidak mau makan. Kata Mommy Jia dan mama Julia, itu bawaan bayi.
Akhirnya Alden hanya bisa pasrah, apapun keinginan sang istri akan dia penuhi.
"Ini sudah yang ke 6 kalinya sayang, kamu sebenarnya mau aku pakai baju apa?" tanya Alden, bicara dengan suaranya yang sangat lembut.
"Terserah sayang mau pakai baju apa, tapi jangan yang itu," jawab Dinda, tak kalah lembut bicaranya.
__ADS_1
Alden membuang nafasnya pelan, dia melangkahkan kakinya, bukan mendekati lemari untuk mengambil baju ganti yang baru tapi untuk mendekati sang istri yang duduk di tepi ranjang.
"Sepertinya yang salah bukan bajunya, tapi anak kita," ucap Alden, bicara ambigu hingga membuat Dinda bingung.
"Apa maksud nya sayang?" tanya Dinda, menatap dengan kedua matanya yang bulat, ssngat menggemaskan.
"Dia minta di jenguk," jawab Alden, sebuah jawaban yang membuat Dinda langsung mendelik.
Semakin mendelik lagi saat Alden mendorongnya hingga terbaring di atas ranjang dan kedua kakinya dibuka lebar. Bukan menjerit minta dilepas, Dinda malah mendesah.
Penyatuan itu tak bisa dihindarkan lagi. Hentakan teratur yang paling memabukkan.
Sama-sama mengerang nikmat di saat penyatuan itu sampai di titik terdalam. Alden kemudian melepaskan diri. Lebih dulu bangkit dari atas ranjang dan menetralkan deru nafasnya yang memburu.
Dan setelah penyatuan itu usai, kini Dinda tidak repot lagi meminta Alden untuk terus mengganti bajunya. Apapun yang dipakai Alden tetap terlihat indah, semakin membuat suaminya itu tampan.
Meski hanya menggunakan kemeja putih yang digulungnya sampai batas lengan.
Sementara Dinda menggunakan gaun pres body yang cukup seksi, perutnya yang sudah sedikit membuncit dapat terlihat dengan jelas.
"Siap ke kantor?"
__ADS_1
"Siap Tuan," jawab Dinda patuh.
Sebuah jawaban yang membuat Alden terkekeh pelan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mereka tiba di gedung Carter Kingdom. Menggunakan mobil mewah berhenti tepat di pintu lobby perusahaan itu.
Alden dan Dinda keluar bersama. Dinda sedikit berlari untuk segera memeluk suaminya itu. Semakin hari Dinda jadi semakin manja saja, bukan lagi jadi wanita mandiri dan keras kepala, kini dia jadi sangat cengeng dan penurut.
Bawaan bayi.
Dinda memeluk lengan Alden dan mereka berjalan masuk ke dalam gedung. Sontak saja kedatangan mereka berdua mencuri perhatian semua orang. Para karyawan langsung menundukkan kepalanya memberi hormat.
Memberi jalan wanita bayaran dan CEO ini masuk, bukan, tapi sang CEO dan istri sahnya.
...TAMAT...
Sekarang pindah ke Rayden dan Aresha ya, sampai jumpa disana ...
Karya baru author Lunoxs
My Geeky Doctor
__ADS_1