
"Apa maksud mu bicara seperti itu?" tanya Dinda, menatap aneh pada pria ini. Pria yang baru saja menguasai tubuhnya.
Sementara Alden tidak langsung menjawab, dia malah mengulum senyum, senyum-senyum sendiri.
Semalam sang ibu mengatakan padanya untuk terus menjaga Dinda. Mommy Jia berkata 'Jaga Dinda dengan baik, mungkin saja saat ini dia sedang mengandung anak mu.'
Saat mendengar ucapan itu Alden pun tidak terlalu menanggapi, dia masih ingat dengan jelas jika Dinda sudah dicekoki obat penggugur kandungan oleh Gaida dan Liora. Jadi tidak mungkin jika calon istrinya itu sampai hamil.
Tapi tadi pagi saat melihat Dinda yang mual dan muntah-muntah lalu berubah sikap sampai 180 derajat, Alden jadi menerka-nerka, jadi kembali terngiang-ngiang ucapan ibunya.
Tidak mungkin juga ibunya berkata seperti itu tanpa sebab apapun, seperti sebuah kode yang diucapkan dengan samar-samar.
Sampai akhirnya Alden mengambil sebuah kesimpulan bahwa Dinda saat ini tengah hamil, mengandung anaknya.
"Tunggu disini sebentar, aku akan keluar untuk membeli sesuatu," ucap Alden, dia bahkan melerai pelukannya pada Dinda dan bersiap untuk pergi ke apotik. Menyisir rambutnya rapi di depan cermin rias milik Dinda.
"Beli apa?"
"Beli Testpack."
"Kenapa membeli benda seperti itu? memangnya siapa yang hamil? aku? hahahaha, bercanda mu tidak lucu."
"Kalau kamu positif hamil, cium leherku sampai ada bekas merah."
"Cih, itu sih mau mu."
Alden tertawa pelan, "Aku pergi dulu," ucapnya lalu keluar dari dalam kamar.
Sementara Dinda hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap pria itu, Alden selalu bersikap di luar ekspektasinya.
"Hamil? mustahil," ucap Dinda, dia meraba sendiri perutnya yang masih rata. sedikitpun dia tidak merasa ada sesuatu yang tumbuh di sana.
Karena merasa sangat lapar jadi Dinda sarapan lebih dulu tanpa menunggu Alden yang sedang pergi ke apotek. Dia makan banyak sekali, tidak seperti biasanya.
Hanya saja Dinda menyingkirkan sambal yang ada di meja. Tiap kali mencium aroma sambal itu Dinda benar-benar merasa mual.
Tapi sudah seperti itu berulang kali, Dinda tetap juga tak berpikir ke arah kehamilan. Baginya memang sambal itulah yang salah, karena aromanya terlalu menyengat.
Masih menikmati makanannya, Alden pulang.
Pria itu langsung menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi.
"Ayo kita periksa dulu," ajak Alden, dia sungguh sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya. Tapi Dinda tidak ingin buru-buru apalagi dia masih sangat menikmati makanan ini.
"Sarapan saja lebih dulu nanti kita periksa sama-sama," jawab Dinda dengan mulut yang masih sibuk mengunyah makanan.
__ADS_1
Melihat itu Alden pun jadi tidak tega, akhirnya dia menuruti keinginan Dinda untuk sarapan lebih dulu.
Jika dilihat-lihat pagi itu porsi makan Dinda jauh lebih banyak daripada porsi makanan Alden.
Dan menyadari itu, Alden semakin yakin saja jika Dinda tengah mengandung anaknya.
"Ingat perjanjian kita tadi, kalau kamu hamil buat tanda merah di leherku," ucap Alden, ketika mereka berdua sudah selesai sarapan.
Dinda mencebik, sejak kapan mereka membuat perjanjian seperti itu. Jelas-jelas hanya Alden sendiri yang menyetujui sementara dia tidak.
Tapi karena merasa yakin bahwa dia tidak hamil Dinda pun menyanggupi perjanjian konyol itu.
"Baiklah, ayo cepat!" ajak Dinda pula.
Mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar, Alden menunggu duduk di tepi ranjang sementara Dinda masuk ke kamar mandi sendirian.
Beberapa menit kemudian Dinda keluar dengan membawa hasil dari tespek itu, garisnya masih belum ada yang muncul, Dinda masih menggerak-gerakkannya di udara.
Tapi dia tersenyum ke arah Alden menatap remeh pada pria itu, Dinda akan tunjukkan bahwa dia benar-benar tidak hamil.
"Kalau aku tidak hamil_"
"Kalau kamu tidak hamil maka aku akan membuatmu hamil," potong Alden dengan cepat, membuat Dinda langsung mengerucutkan bibirnya.
Dinda melihat hasil testpack itu dan Deg! seketika jantungnya seperti berdetak sepersekian detik.
Saking terkejutnya Dinda sampai tergugu.
Dan Alden yang melihat itu langsung mendekati wanitanya, melihat pula hasil dari testpack, 2 garis merah yang terlihat sangat terang.
Alden sama terkejutnya, namun dia lebih dulu merasakan kebahagiaan luar biasa. Tidak menyangka keajaiban ini akan mendatanginya secepat ini, janin itu tumbuh dan membuatnya jadi seorang ayah.
"Kamu hamil," ucap Alden, Dia langsung memeluk Dinda dan menggendongnya seperti pengantin baru. Sampai Dinda menjerit dibuatnya.
"AW! Alden!"
"Sekarang buat tanda merah sebanyak-banyaknya di leherku."
"Tidak mau!! itu pasti salah."
"Jangan berkilah!" Alden merebahkan Dinda di atas ranjang dan ditindihnya pelan.
"Kamu hamil sayang," ucap Alden lembut, panggilan sayang yang berhasil meluluh lantakkan sikap tegas Dinda selama ini.
Gadis ini mendadak jadi pendiam, jadi pemalu dan sangat penurut.
__ADS_1
"Tapi ini tidak mungkin Al, jelas-jelas aku meminum obat itu."
"Rencana Gaida dan Liora tidak akan pernah bisa melawan rencana Tuhan," balas Alden.
Saat mengatakan itu Alden menatap Dinda dengan tatapan dalam, ingin wanita ini mengerti bahwa Tuhan pun merestui mereka untuk bersama.
"Sekarang buat tanda merah dileher ku."
"Bukannya itu bercanda?"
"Bukan!" jawab Alden tegas.
"Tapi aku tidak bisa."
"Coba dulu."
Pagi itu akhirnya Dinda belajar caranya membuat tanda merah, tapi selalu gagal dan berakhir bibirnya yang sakit sendiri.
Jam setengah 9 pagi, Alden dan Dinda pergi ke kota S. Mereka tidak hanya pergi berdua, Derick ikut dan mengemudikan mobil mereka.
Sesaat Dinda sangat heran saat melihat Derick mengemudikan mobilnya dengan lancar, tanpa bertanya mana jalur yang benar. Seolah pria itu sudah pernah mendatangi rumah tantenya di kota S.
"Derick," panggil Dinda.
"Iya Nona."
"Nyonya Rick, sebentar lagi dia akan jadi istriku."
"Maaf Tuan."
Dinda menatap Alden tajam, ikut campur saja pikirnya.
"Memangnya kamu tahu jalan menuju rumah Tante ku?" tanya Dinda akhirnya, dia paling tidak betah menahan pertanyaan. Apapun yang ada diisi kepalanya akan langsung dia ucapkan.
"Maaf Nyonya, iya saya sudah tahu. Saat anda menghilang tuan Alden meminta saya untuk memeriksa keadaan ibu Anda, memastikan bahwa beliau baik-baik saja," jelas Derick apa adanya.
Sebuah penjelasan yang membuat Dinda langsung jadi terharu.
Dia menoleh dan menatap Alden yang duduk disampingnya.
Menatap dengan tatapan yang entah, seperti ingin mengucapkan kata terima kasih, namun ingin lebih dalam dari pada itu.
"Mau bicara apa?" tanya Alden seraya mengelus lembut wajah Dinda.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, kamu juga sudah bertahan dengan anak kita."
Entah kenapa mendengar itu Dinda menjatuhkan air matanya.