Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 63 - Ambisi


__ADS_3

Tidak ingin semakin parah hasrat ini menguasai dirinya, Alden pun mengakhiri ciuman dia dengan Dinda. Lalu membelai lembut wajah wanita ini dan membawanya ke dalam dekapan.


Dia peluk erat, sangat erat. Jika ingat bagaimana dulu dia nyaris putus asa untuk mencari Dinda, rasanya kini Alden tak ingin lagi berpisah jauh. Ingin selalu membuat Dinda berada di dekatnya.


Dinda pun membalas pelukan itu, kini aroma tubuh Alden sudah seperti candu untuknya. Saat masih berpelukan seperti ini, tiba-tiba tatapan Dinda teralihkan saat dia melihat sesuatu yang indah di balkon kamar. Terlihat jelas dari balik pintu kaca itu.


Sebuah meja yang sudah dihiasi bunga dan lilin yang menyala.


"Apa malam ini kamu mengajakku untuk candle light dinner?" tanya Dinda, sebuah pertanyaan yang membuat Alden akhirnya melerai pelukan di antara mereka berdua. Dia kemudian menatap Dinda dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Dan Dinda menyambut itu dengan sebuah senyuman. Alden membuatnya benar-benar melupakan malam kelam itu, dan kini merubahnya menjadi kenangan yang manis. Malam yang membuat mereka saling terhubung.


Disaat Alden dan Dinda sedang menikmati malam mereka yang indah, saat itu juga Liora tengah berkubang dalam kesedihannya sendiri.


Sore tadi dia mendapatkan kabar jika sang nenek telah di tahan, penahanan itu dilakukan karena neneknya berniat untuk melarikan diri. Sebuah tindakan yang membuat Gaida jadi semakin tak bisa menghindar dari jeratan hukum.

__ADS_1


Pengacara mereka bahkan mengatakan pada Liora bahwa dia harus menjual beberapa aset untuk membayar ganti rugi pada semua penggugat. Termasuk membayar ganti rugi pada Alden.


"Arght!!" Liora pusing sekali, saat ini rasanya kepala dia mau pecah.


Perusahaan sudah tak bisa diharapkan, bahkan pihak kepolisian pun sudah mengelilinginya menggunakan garis polisi.


Liora amat sangat terpuruk. Yang dia ingat hanya satu, ucapan sang nenek dalam sambungan telepon sebelum Gaida masuk ke dalam penjara.


Menikahlah dengan tuan Aston, sejak lama dia sangat menginginkan mu Lio. Tidak apa jadi istri keduanya, yang penting setelah ini semua berakhir kamu dan nenek tetap bisa bertahan hidup.


Alden bahkan tak lagi menatap ke arahnya.


Di tengah keterpurukan itu, dia hanya bisa mengingat Darwin. Seorang pria Casanova yang selama ini selalu menemani dia.


Malam itu Liora menghubungi Darwin dan menghabiskan malam bersama. Melebur semua kegundahan ini dalam desah panjang dan peluh yang bercucuran.

__ADS_1


"Malang sekali nasibmu sayang, sudah menggugurkan anak kita dan kamu tidak bisa mendapatkan pria itu," ucap Darwin setelah mereka selesai bercinta, kini masih saling memeluk erat.


Liora sudah sering meminum obat penggugur kandungan, sampai akhirnya dia divonis tak bisa memiliki anak lagi. Hanya Darwin yang mengatahui perihal itu, karena itulah dia tidak pernah mau menikahi Liora.


Tapi dia selalu ada untuk wanita ini andai Liora membutuhkannya.


"Aku memang tidak jadi menikah dengan Alden, tapi aku akan menikah dengan Aston."


"Kamu memang benar-benar gadis yang cerdik."


Puji Darwin, namun pujian itu tidak membuat Liora bahagia. Diam-diam dia menyembunyikan wajahnya di dada Darwin dan meneteskan air mata.


Nasib yang benar-benar sial.


Tapi dari semua kesialan itu dia sadar satu hal, bahwa ambisi dia dan ambisi sang nenek lah yang membuatnya jadi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2