
"Tidak perlu tinggal bersama dan tentang pergi bekerja aku bisa minta tolong pak Ramsey untuk selalu mengantar dan menjemputku sampai di halte," tolak Dinda, dia kemudian keluar dari tempat persembunyian itu dan berjalan cepat menuju rumahnya yang tinggal beberapa meter saja.
Sementara Alden merasa gagal, dia lantas buru-buru mengejar Dinda dan kembali mengiringi langkah wanita ini.
"1 malam saja, malam ini saja izinkan aku menginap di rumah mu. Aku benar-benar cemas dua orang itu kembali lagi Din," pinta Alden, dia buat suaranya seserius mungkin. Agar Dinda yakin dengan ucapannya.
"Pak Ramsay saja tidak akan cukup untuk melindungi kamu," ucap Alden lagi, membuat Dinda menghentkan langkahnya. Alden pun mengikuti, kini mereka berdua berdiri persis di depan gerbang rumah Dinda.
"Hanya malam ini," jawab Dinda akhirnya, keputusan sulit yang dia ambil. Tapi entah kenapa, isi hati dan kepalanya seolah berbeda pendapat. Dalam benaknya Dinda sungguh tak ingin Alden untuk menginap, namun dalam hatinya dia menginginkan itu, merasa tenang ketika pria ini ada di sekitar.
Ah entahlah. Batin Dinda. Dia masuk ke halaman rumah dan Alden pun mengikuti, terus mengikuti seperti itu sampai akhirnya masuk ke dalam rumah juga.
2 pelayan Dinda bahkan sampai terkejut ketika melihat Alden masuk, biasanya sang tuan muda yang satu ini hanya diperbolehkan datang sampai di teras rumah, tapi sore ini Alden berhasil masuk.
"Memangnya kamu tidak mengambil baju ganti?" tanya Dinda dengan sinis, meski sudah mengizinkan Alden untuk menginap di rumah ini tapi tetap saja dia belum bisa berlaku dengan baik.
"Derick akan mengambilnya."
"Mobil mu? bukannya masih ada di ujung Gang."
"Derick juga yang akan mengambilnya."
"Memangnya siapa Derick?" tanya Dinda lagi, karena dia memang tidak mengetahui siapa pria itu.
"Dia asisten pribadi ku, kamu tidak lupa kan kalau aku keturunan keluarga Carter?"
Cih! Dinda berdecih kecil, tidak sedikitpun terpesona dengan kekayaan yang dimiliki Alden, meski sebenarnya dia pun hanya akan menikah dengan pria kaya. Agar bisa membantu perekonomian keluarganya.
Tanpa banyak kata lagi Dinda masuk ke dalam kamarnya.
Sementara untuk Alden, pria itu akan tidur di sofa, akan mandi di kamar mandi dapur. Rumah ini tidak terlalu besar, tidak pula banyak kamar. Kamar yang dulu milik Julia kini ditempati oleh 2 pelayan wanita disana. Sementara kamar kosong yang ada di paling belakang digunakan untuk Ramsey.
Jadi Alden hanya akan tidur di sofa panjang di ruang tengah.
__ADS_1
Dinda tidak peduli akan hal itu, bukan maunya juga Alden menginap di rumah ini.
Sementara itu di tempat lain, Alex semakin tak habis pikir saat melihat Alden mencium Dinda di balik pagar rumah orang lain.
Kini dia jadi cemas lagi, Alden dan Dinda menjalin hubungan terlarang. Belum ada ikatan pernikahan di antara mereka, namun sudah begitu intim.
Tak ingin Alden dan Dinda kembali mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya malam ini dia putuskan untuk menceritakan semuanya kepada sang istri. Dia akan memberitahu Jia tentang kebenaran ini dan meminta sang istri untuk merestui keduanya segera menikah.
Hanya restu saja, sementara keputusan untuk menikah atau tidak tetaplah ada pada Dinda.
Selesai makan malam Alex langsung mengajak sang istri untuk kembali ke dalam kamar mereka. Jia tahu, jika sudah seperti ini pasti ada sesuatu yang ingin diceritakan oleh sang suami.
"Apa ini tentang Alden?" tanya Jia pula, saat mereka berdua sudah duduk berdampingan di sofa kamar itu.
Alex mengangguk kecil.
"Pertama maafkan Daddy karena harus merahasiakan ini cukup lama, kedua maafkanlah Alden."
"Alden dan Liora tidak benar-benar menikah."
Jia mendelik dan dia terus tak bisa berkata-kata tiap mendengar satu per satu cerita yang diucapkan oleh sang suami.
Liora selama ini tidak benar-benar tulus mencintai anak mereka, Gaida bahkan berniat untuk memisahkan keduanya. Menggunakan Dinda mereka menjebak Alden hingga terjadilah malam naas itu. namun setelah malam itu Liora dan Gaida baru tahu jika Alden adalah anak mereka, jadi Gaida berubah pikiran dan menginginkan Liora dan Alden segera menikah.
Tapi saat itu Alden pun sudah mengetahui niat jahat mereka berdua, Alden mencari Dinda untuk bertanggung jawab. Tapi dia terlambat, Gaida dan Liora lebih dulu menemukan Dinda. Dinda kabur sampai akhirnya menabrakkan diri ke mobil mereka.
Air mata Jia jatuh, deras sekali, sampai tidak bisa berhenti.
Sementara Alex terus menceritakan semuanya, termasuk pernikahan palsu itu.
"Kenapa Dad? kenapa Daddy baru mengatakannya sekarang pada mommy?" tanya Jia, tidak terima saat dia jadi orang yang paling bodoh.
Ternyata yang telah membuat Dinda menderita seperti itu adalah anaknya sendiri, Liora dan Gaida.
__ADS_1
"Alden tidak sepenuhnya salah Mom."
"Apapun alasannya Dad, merusak seorang gadis bukanlah perkara yang mudah dimaafkan. Bagaimana jika itu terjadi pada anak kita? apa kita akan memaafkannya begitu saja ketika orang itu mengatakan melakukannya tanpa sadar?" tuntut Jia, dia marah sekali. Tak menyangka jika orang yang diam-diam dia kutuk di dalam hatinya ternyata adalah Alden, anaknya sendiri.
Malam itu juga Alex menelpon Alden, meminta sang anak untuk segera datang ke rumah utama.
Mendapatkan perintah seperti itu Alden yakin jika ayahnya telah mengatakan semuanya pada sang ibu.
Setelah panggilan teleponnya putus Alden pun menemui Dinda untuk pamit pergi.
"Aku akan ke rumah Daddy, aku bawa kunci rumah sendiri, jadi tidak perlu menunggu ku pulang," ucap Alden.
"Kenapa malam-malam begini Daddy memanggil mu."
"Daddy dan Mommy sudah tahu tentang kita."
Deg!
"Jangan bercanda!" tuntut Dinda dengan suaranya yang meninggi.
"Tidak, sudah sejak lama aku mengatakannya pada Daddy. Aku ceritakan semuanya bahwa aku telah merusak hidupmu. Dan malam ini, ku rasa malam ini Daddy memberi tahu mommy."
"Jahat kamu Al, tidak puas-puas kamu terus menyakiti aku!" ucap Dinda dengan suaranya yang bergetar. Tak bisa dia bayangkan bagaimana kecewanya Alex dan Jia padanya nanti. Karena sejatinya dia adalah wanita bayaran, dia lah yang diminta Gaida untuk menggoda Alden.
Tentang malam itu jelas Dinda lah yang akan disalahkan oleh Alex dan Jia. Bagaimanapun Alden adalah anak mereka, sementara dia hanyalah orang asing.
"Tidak bisakah kamu melupakan semua itu Al? tidak bisakah kita kubur saja kenangan menyakitkan itu? aku malu, aku malu andai semua orang tahu!!" pekik Dinda.
Belum sempat Alden menjawab, Dinda kembali lebih dulu berucap.
"Kamu selalu seperti itu, selalu menyakiti aku."
"Aku tidak ingin menyakiti kamu Din, aku ingin mempertanggungjawabkan semuanya, Aku ingin kita menikah."
__ADS_1