
Kesal karena secara tidak langsung Alden selalu memberinya perintah, jadi kini Dinda lagi-lagi memutus panggilan telepon di antara mereka berdua secara sepihak.
Dan dengan langkah yang sedikit menghentak, dia akhirnya menuju meja nakas di samping tempat tidur. membuka semua lacinya dan menemukan satu kotak lampu.
"Huh!" Dinda membuang nafasnya dengan kasar, entah kenapa rasanya jadi kesal sekali ketika orang lain begitu menghafal seisi rumahnya dibanding dia sendiri.
Tak ingin berlarut-larut dalam mengumpat Alden, jadi Dinda langsung keluar dari dalam kamar itu dan memanggil sang penjaga keamanan.
Karena tidak ada pos jaga di depan rumahnya jadi sang penjaga pun tinggal di rumah yang sama dengan dia dan dua pelayan yang lai, pak Ramsey namanya.
"Pak, lampu di kamarku rusak, ini ada lampu yang baru, tolong dibetulkan ya?"
"Baik Nona," jawab Ramsey patuh. Saat itu Dinda juga mengatakan jika tangganya ada di gudang.
Dan setelah semuanya beres, akhirnya Dinda pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia berulang kali menarik dan membuang nafasnya pelan, merasakan kedamaian ketika dia tinggal di rumah ini.
"Huh, kamu tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan Din. Hidupmu harus terus berjalan, cari kebahagiaanmu sendiri," ucap Dinda, bicara pada dirinya sendiri seraya menatap langit-langit kamar ini.
Sebenarnya Dinda sangat sadar tentang malam itu memanglah bukan kesalahan Alden sepenuhnya. Dia bahkan tidak ada ada niat untuk menuntut pertanggungjawaban.
Yang Dinda inginkan hanyalah satu, Alden pergi dari hidupnya dan berhenti mengganggu dia.
Karena bukanlah hal yang mudah bagi Dinda untuk memiliki sebuah hubungan dengan seorang pria yang telah merenggut kesuciannya.
Tidak, Dinda tidak akan pernah bisa melakukan itu. Dia ingin melupakan semua kenangan pahit, jadi satu-satunya jalan adalah mengakhiri semua hubungan dengan Alden.
Sudah berulang kali Dinda katakan pada pria itu tapi Alden tidak pernah mau dengar, Hal itulah yang semakin membuat Dinda jadi merasa benci.
Hal yang seharusnya sederhana, namun Alden membuatnya jadi sulit.
Siang menjelang sore saat itu, akhirnya Dinda tertidur juga. Tidur yang sangat nyenyak.
Sementara itu di tempat lain, Gaida dibuat tidak tenang ketika pengacara yang sudah dia siapkan untuk melawan semua orang kini mulai melaporkan banyaknya kasus yang sedang dihadapi oleh Gaida.
__ADS_1
Pertama tentang kasus Alden da kedua tentang kasus penipuan tas palsunya. Dua kasus itu masuk di waktu yang bersamaan, seolah sekali tepuk dalam menghancurkan citra dan martabat Gaida.
Surat panggilan untuk dimintai keterangan oleh polisi pun mulai berdatangan ke rumahnya.
Gaida benar-benar marah, tidak terima ketika orang terhormat seperti dia diperlakukan layaknya penjahat seperti ini.
"Liora!" panggil Gaida dengan suara yang keras.
Gadis yang namanya dipanggil pun langsung menghampiri sang nenek di ruang tamu.
"Ada apa Nek?"
"Temui lah Alden, minta dia untuk mencabut laporan ini! dia punya semua bukti, kalau sampai laporannya diproses nenek akan benar-benar masuk penjara!!" titah Gaida dengan sangat geram. Dan semakin marah saat dilihatnya Liora malah menunduk, seolah tak bisa untuk pergi menemui pria itu.
"Liora! jangan diam saja! cepat pergi sana!!" bentaknya tanpa ampun.
Saat itu Liora tidak punya pilihan lagi, meski dengan langkah kaki yang dipaksakan akhirnya dia keluar dari rumah itu dan mencari keberadaan Alden.
Liora mengemudikan mobilnya sendiri menuju apartemen Alden. Dia bahkan langsung naik ke Unit apartemen sang kekasih, menekan password yang selama ini dia tahu.
Menyadari itu entah kenapa dada Liora jadi terasa sangat sesak. Dia masih belum terima jika hubungannya dengan Alden akhirnya jadi seperti ini.
Masih berdiri di depan unit apartemen itu, Liora coba untuk menghubungi nomor Alden.
Tersambung, namun cukup lama dia menunggu dan tidak juga mendapatkan jawaban.
Liora tidak langsung menyerah, dia coba kembali menghubungi. Dan di percobaan kedua akhirnya panggilan itu dijawab oleh sang kekasih.
"Al," panggil Liora lirih, mengisyaratkan semua penyesalannya atas apa yang terjadi di antara mereka.
"Kenapa? kamu ingin aku mencabut laporan untuk nenekmu?" tanya Alden langsung, sudah pasti inilah tujuan Liora menghubungi dia.
"Aku mohon Al, hukum saja aku, tidak usah nenek."
__ADS_1
"Kalian berdua sama saja dan kenapa aku harus memilih salah satu saat aku bisa menghancurkan kalian berdua sekaligus," balas Alden tanpa belas kasih, tubuh Liora bahkan langsung gemetar ketika mendengar ucapan itu, apalagi saat Alden mengucapkannya dengan suara yang begitu dingin.
Liora benar-benar sudah tidak mengenal siapa pria ini. Alden tidak lagi seperti dulu, pria itu kini berubah jadi sangat dingin. Belum lagi dengan kekuatan yang Alden punya, makin membuat Liora merasa takut.
"Al_"
Tut! belum selesai Liora bicara, Alden sudah lebih dulu memutus panggilan telepon di antara mereka.
Dan di antara kegamangan yang sedang dirasa oleh Liora, ponselnya tiba-tiba kembali berdering. Bukan panggilan dari Alden, tapi dari sang nenek.
"Cepatlah pulang! siang ini juga nenek akan ke kantor polisi, kamu harus mendampingi Nenek."
"Iya Nek," balas Liora patuh.
Semenjak hari itu kehidupan mereka Jadi semakin tidak tenang. Setiap hari kasus yang mereka hadapi seperti bola salju yang semakin membesar.
Semuanya jadi semakin kacau ketika kestabilan perusahaan mereka pun jadi ikut terguncang.
Para investor tidak ingin mengalami kerugian yang semakin besar, jadi mereka buru-buru menjual semua aset dan membagi rata hasil penjualan itu untuk mereka sendiri, tanpa memperdulikan keberlangsungan perusahaan ataupun Gaida dan Liora.
Sementara di perusahaan itu masih ada banyak karyawan yang beroperasional.
"Arght! SIAL!!" teriak Gaida, dia membanting vas bunga yang ada di atas meja kerjanya. Sementara Liora hanya tertunduk merasa ketakutan dengan kemarahan sang nenek.
"Alden Lio! Harusnya Alden ada disini membantu kita!!" pekik Gaida, terakhir dia lihat pria itu adalah saat datang ke rumahnya dengan mengendarai mobil mewah. Mengingat itu tentu membuat Gaida semakin banyak berharap, bahwa Alden akan kembali menjalin hubungan dengan sang menantu hingga dia pun bisa sedikit menguasai harta keluarga Carter.
"Tapi Alden tidak akan pernah mau membantu kita Nek, dia sudah terlanjur marah. Dia tahu jika selama ini aku pura-pura tidak mengetahui identitasnya, dia tahu bahwa kita hanya mengincar harta keluarga mereka."
"Bodoh! kamu itu yang bodoh! temui dia dan menangis lah! gunakan air matamu!!" geram Gaida, saat ini pikirannya tengah buntu, entah bagaimana caranya keluar dari semua kesulitan ini. Andai tidak ada suntikan dana yang besar di perusahaan mereka maka bisa dipastikan jika perusahaan ini akan gulung tikar.
"Valerie, dimana wanita itu sekarang?" tanya Gaida pula. Jika Alden membenci mereka sudah dipastikan jika pria itu bersekutu dengan Valerie, itulah yang diyakini oleh Gaida saat ini.
Maka untuk mendapatkan Alden lagi, dia harus lebih dulu mendapatkan wanita bayaran itu.
__ADS_1
Jangan mati dulu Val, biar aku menemukan mu lebih dulu. Batin Gaida.