
Pagi datang.
Liora yang sejak semalam tidak terlelap sedikitpun semakin merana hatinya, karena hingga kini Alden tetap tidak pulang. Berulang kali Liora coba menelpon namun nomor sang suami tidak aktif.
"Kamu benar-benar menguji ku Al," gumam Liora dengan suaranya yang parau, suaranya habis setelah menangis semalaman.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Liora turun dari atas ranjang dan mengemasi semua bajunya. hari ini juga dia akan pulang ke rumah sang nenek, tidak sanggup lagi untuk tetap di sini. Hati dan harga dirinya telah diinjak-injak oleh Alden.
Pria yang pernah benar-benar dia cintai. Namun kini tidak lagi, bahkan Liora tak peduli andai nanti Alden kembali bertemu dengan wanita bayaran itu. Ambil saja, ambil dan nikmati kemiskinan ini.
Sementara itu di rumah utama keluarga Carter. Dinda pun sudah memantapkan hatinya untuk bicara jujur, untuk mengatakan bahwa dia telah mengingat semua kenangan dan siap untuk pergi.
Dinda berencana untuk mengatakan itu semua setelah sarapan.
Kini Dinda dan Aleia berjalan beriringan menuruni anak tangga. Sejak kini Dinda sudah mulai merasa gugup, meski bibirnya tersenyum namun kedua tangannya telah basah dengan keringat dingin.
Dan jantung Dinda makin berdegup kencang saat dia dibawah sana Alden telah berdiri dan menatapnya tajam.
Deg!
"Alden," panggil Aleia, dia pun terkejut melihat sang kakak disini. Pagi-pagi sekali dan kakaknya itu sudah berada di rumah utama.
Langkah kaki Dinda yang turun seketika terhenti, sementara Aleia terus turun sampai berdiri tepat di hadapan Alden.
"Dimana Liora? kalian tidak datang bersama? kamu datang sendirian?" tanya Aleia bertubi, pertanyaan yang juga didengar oleh Dinda yang masih berdiri di beberapa anak tangga.
Tapi Alden tidak menjawab satu pun pertanyaan itu, karena matanya malah fokus menatap wanita di belakang sang adik. Aleia yang menyadari itu pun mengikuti arah pandang Alden, sampai dia pun akhirnya melihat Leia.
Sontak saja Leia menundukkan wajahnya dengan cepat, merasa takut luar biasa.
Diantara dia dan Alden memang dialah yang salah terlepas dari malam itu. Dia lah yang telah dibayar Gaida untuk menggoda Alden. Sejak awal dia yang salah, dia yang bermain api. Karena itulah meski Alden telah menoddainya, Dinda tak berani meminta pertanggungjawaban. Dia hanya berharap Alden mengerti bahwa Liora bukanlah wanita yang baik, bahwa Liora dan Gaida hanya mengagungkan harta di atas segalanya.
Bugh! Aleia memukul dada Alden cukup kuat, ingin membuat tatapan kakaknya ini putus menatapi Leia. Tatapan yang membuat Leia takut.
__ADS_1
"Jangan melihat Leia dengan tatapan seperti itu!" get Aleia, bicara pelan namun penuh dengan penekanan. Sungguh tak ingin Alden membuat Leia takut.
Tapi Alden hanya diam, bahkan tetap bergeming saat Aleia memukul dadanya. Sedikitpun dia tidak merasa sakit.
Pagi itu Alden ikut sarapan bersama keluarganya yang lain. Awalnya Jia selalu bertanya tentang Liora, namun seketika puas ketika mendengar Alden mengatakan jika Liora sedang bersama Gaida di apartemennya.
Ada Alden diantara mereka sungguh membuat Dinda merasa tak nyaman, bahkan berulang kali Alden menatapnya lekat. Tatapan yang seolah sedang menelanjjangi dia.
Dinda tidak berani untuk membalas tatapan itu, dia hanya menunduk menyembunyikan ketakutannya sendiri. Niatnya untuk mengungkapkan jati diri pun dia urungkan.
Sarapan telah usai, tapi semua orang masih duduk di meja makan.
"Tan-Em, Mom, aku, aku pamit ke kamar dulu," ucap Dinda terbata, susah payah dia mengendalikan diri dari rasa takut dan gugup sekaligus.
"Kamu kenapa sayang?"
"Ti-tidak apa-apa Mom, aku hanya, aku hanya sedikit mual."
"Kamu masuk angin? buar mommy bantu untuk mengoles minyak kayu putih."
Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi Dinda segera pergi dari sana. Menjauh dari pria yang membuatnya tak nyaman.
Diantara langkah kakinya tergesa menaiki anak tangga, Dinda tidak tahu jika Alden pun mengikuti langkahnya dibelakang.
Dinda terus berlari, menuju kamar yang baginya tempat teraman.
Namun saat dia berhasil masuk ke dalam sana, ternyata Alden pun ikut masuk.
"Akh!" teriak Dinda, namun dengan cepat Alden membekap mulutnya. Alden beralasan ingin naik ke kamarnya juga, padahal dia memang ingin mengejar Dinda.
"Kamu tidak lupa ingatan kan? kamu mengingatku kan?" tuntut Alden, dia bisa gila andai Dinda benar-benar mengalami amnesia. Rasa bersalah yang semakin besar akan membuat nya mati perlahan.
Dan kali ini Dinda tak bisa lagi melawan, tak bisa lagi berbohong.
__ADS_1
"Aku mohon Al, lepaskan aku, aku akan pergi dari rumah ini, aku akan melupakan semua yang terjadi diantara kita, ayo kita akhiri semuanya," ucap Dinda diantara air mata yang mulai mengalir dengan deras, tubuhnya pun bergetar.
"Jangan takut pada ku Din, aku tidak akan menyakiti kamu."
Dinda menggeleng, ini semua bukan perkara takut atau tidak. Namun dia benar-benar ingin memutus semua hubungan.
Alden, Liora dan Gaida adalah orang-orang yang menciptakan hal paling buruk di dalam hidupnya. Andai waktu bisa diulang, dia tak akan Sudi menerima tawaran Gaida. Andai waktu bisa diulang, dia akan langsung jual kesuciannya pada pria hidung belang.
Dengan begitu penderitaannya hanya sekali dia rasa, tidak berulang seperti ini.
"Lepaskan aku," ucap Dinda lirih, saat ini Alden masih mencengkram kuat pergelangan tangan kirinya.
"Aku akan melepaskannya setelah kamu mendengar semua ucapan ku."
"Tidak! aku mohon Al, jangan lakukan ini padaku, jangan disini, aku tidak mau nyonya Jia dan tuan Alex tahu tentang kita. Aku tidak mau Aleia, Arion dan Aaron tahu. Mereka terlalu baik untuk mengetahui kebusukan ku. Aku mohon Al, aku mohon lepaskan aku," pinta Dinda dengan buru-buru, ingin Alden dengar semua isi hatinya sebelum pria ini memutus ucapannya.
Tapi bukannya mengerti, Alden malah menatap nanar pada Dinda. Sebegitu nya wanita ini menanggung luka, sendirian.
"Maafkan aku Din."
"Lepaskan aku Al, aku mohon."
"Aku tidak menikah dengan Liora, aku akan menikahi mu."
Dinda menggeleng.
"Tidak!" jawabnya dengan cepat. Menikah dengan Alden hanya akan membuat hidupnya semakin sulit. Mereka sama-sama tahu, ini semua awalnya bagaimana.
"Aku tidak akan menuntut pertanggungjawaban pada mu. Aku bersumpah tidak menuntut apapun padamu suatu hari nanti. Tapi aku mohon, lepaskan aku sekarang. Sebelum mommy dan Daddy tahu," pintanya lirih, sangat lirih, di telinga Alden itu terdengar seperti sebuah permohonan.
Hatinya makin teriris melihat Dinda yang seperti ini. Wanita yang dia tahu begitu kuat, kini seolah telah rapuh.
Dengan perlahan Alden melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Dinda.
__ADS_1
Dan Dinda pun langsung menarik tangannya menjauh, mendekap tubuhnya sendiri yang gemetar.