
Alex tahu, semua yang terjadi ini bukanlah kesalahan Alden sepenuhnya. Ada Gaida dan Liora yang patut dipersalahkan. Namun terlepas dari itu semua Alden tetap lah salah, apapun alasannya tindakannya itu tetaplah salah.
Sebagai seorang pria Alden terlalu lemah, sementara tanggung jawab yang harus dia pukul begitu besar.
Alex terpaksa harus meminta sang anak pergi dan menyelesaikan semua masalah itu sebelum dia bertanggung jawab pada Dinda. Apalagi saat ini Dinda dalam keadaan yang tidak baik, melihat Alden malah akan terus membuatnya terkenang malam kelam itu.
Dinda butuh waktu untuk sembuh. Butuh waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri yang telah kotor.
Bukan pula Alex ingin menutupi masalah ini untuk selamanya, tapi di posisi Dinda saat ini dia pun pasti ingin menutupi ini semua rapat-rapat, tidak ingin semua orang tahu jika dia telah hina. Manusia mana yang menginginkan aibnya diketahui oleh semua orang, tidak ada. Dan Alex yakin Dinda pun juga seperti itu.
Terlebih selama ini, Dia, Jia dan semua anak-anaknya pun pura-pura tidak tahu masalah itu. Yang mereka katakan pada Dinda hanyalah tentang bertanggung jawab karena kecelakaan dan amnesia yang di alaminya.
Alex sangat pusing.
Membuat Alden bertanggung jawab dengan Dinda saat ini sama saja semakin menyiksa wanita itu.
Karena itulah, Alden harus pergi dulu.
Sementara itu Alden pun tidak berusaha sedikiitpun untuk mencari pembenaran. Semua telah terjadi dan tak bisa dia ubah. Pada akhirnya Dinda lah yang paling banyak menanggung beban.
Pagi itu tanpa berpamitan pada semua orang, Alden memutuskan untuk pergi. Hari ini juga dia akan membuat Liora seolah akan dia ceraikan. Bertepatan dengan Derick yang mulai menukar semua barang-barang milik toko Gaida.
Dan tak berselang lama kemudian, dokter Sabrina pun sampai di rumah utama keluarga Carter. Jia langsung menyambutnya dan membawa sang dokter menuju kamar Leia.
Saat itu Aleia juga masih tetap tinggal di kamar, Dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan menemani Leia di rumah.
"Kamu mual?"
Dinda mengangguk, meski sebenarnya itu adalah bohong.
"Sejak kapan?"
"Tadi pagi."
__ADS_1
Sabrina terus melakukan pemeriksaan, dia bahkan lihat saat Leia meringis ketika dia menekan bagian perut bawah, juga ketika dia menekan pergelangan tangannya. Selama ini Sabrina sangat memahami tubuh Leia dengan baik, mengingat bayaran fantastis yang telah diberikan oleh Jia demi kesembuhan sang anak angkat. Sabrina bahkan tahu jika ada perubahan kecil di kedua payudarra milik Leia. Dari semua hasil pemeriksaan yang dia peroleh, Sabrina yakin jika Leia tengah hamil.
Usia kandungannya masih sangat muda, sekitar 3 atau 4 Minggu. Tepat di saat gadis ini datang ke rumah sakit waktu itu.
"Semuanya baik-baik saja, Anda hanya butuh istirahat lebih," ucap Sabrina, sebuah penjelasan yang membuat Dinda menghembuskan nafasnya lega.
Saat itu Sabrina sengaja tidak mengutarakan hasil pemeriksaannya secara langsung di sini.
Dan setelah memberikan obat pada Leia, dia pamit untuk pulang.
Jia mengantarkannya.
"Nyonya, bisakah kita bicara berdua?" ucap Sabrina ketika merek menuruni anak tangga.
"Tentu saja dokter, mari ikut saya," ajak Jia pula. Saat itu Jia mengajak Sabrina untuk masuk ke ruang kerja sang suami. Alex sedang tidak ada disana. Suaminya itu pergi ke perusahaan.
Jia dan Sabrina duduk berdekatan di sofa.
"Ada apa Dok? apa ada hal penting tentang Leia?"
Ha? Jia sangat terkejut, kedua matanya bahkan langsung membola ketika mendengar itu.
"Jangan asal bicara dok, kenapa tadi tidak dilakukan pemeriksaan testpack sekaligus? biar semuanya pasti!" sahut Jia, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya.
Dan saat itu Sabrina langsung menjelaskan alasannya. Sabrina takut, kabar kehamilan ini tidak ingin diterima oleh Leia. Sabrina takut kabar ini malah semakin membuat wanita malang itu terpuruk.
Dan mendengar semua penjelasan Sabrina, akhirnya Jia setuju untuk menyimpan hasil ini dulu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Dok? apa yang harus aku lakukan?" tanya Jia lirih, pedihnya jadi Leia bahkan sampai mampu dia rasakan. Hatinya begitu lembut, untuk Leia yang sebenarnya orang asing itu pun Jia bahkan sampai menangis.
"Semoga secepatnya Nona Leia mengingat jati dirinya Nyonya, dengan begitu mungkin dia juga akan menerima anak ini. Karena sejatinya janin itu tidak bersalah." Terang Sabrina.
Sementara Jia tak mampu berkata-kata lagi, seketika dia jadi lemah. Seolah seluruh kekuatannya telah hilang.
__ADS_1
Malang sekali nasibmu sayang, ya Tuhan. Batin Jia.
Dan setelah Sabrina benar-benar pergi dari rumah ini Jia pun kembali menemui Leia dan Aleia.
Kini wajahnya terlihat sendu, menatap nanar Leia yang masih berbaring di atas ranjang.
Siapa pria yang telah merusak hidupmu sayang, kamu masih sangat muda dan harus mengalami ini semua. Batin Jia, hanya mampu mengutarakan kesedihannya di dalam hati. Sementara yang dia tunjukkan di wajahnya hanyalah senyum yang dipaksakan.
"Mom," panggil Aleia.
Jia lantas mengelus lengan Aleia dengan sayang, andaikan ini terjadi pada anak kandungnya langsung Jia tak akan mampu untuk bertahan, dia juga pasti akan sangat hancur.
"Aleia, kamu temani Leia dulu ya. Tentang kantor tidak usah dipikirkan dulu."
"Iya Mom."
Hari itu Jia diam-diam terus mengamati Leia. Melihat gadis kecil itu yang senang sekali ketika makan buah-buahan yang masam.
Juga menolak saat Aleia memberinya sambal.
Padahal selama ini Leia suka sekali makanan pedas. Cukup lama tinggal bersama Leia membuatnya Jia pun menghapal kebiasaan gadis ini. Termasuk makanan kesukaannya.
Dan melihat semua perubahan itu, akhirnya Jia pun membenarkan pula tentang hasil pemeriksaan dokter Sabrina.
Juga mulai sadar, jika sepertinya Dinda pun tidak tahu jika saat ini dia tengah hamil.
"Leia," panggil Jia setelah mereka bertiga menyelesaikan makan siangnya.
"Dimana kamu mengingat tentang ibumu? mungkin kita bisa mendatangi tempat itu untuk mengingat kenanganmu yang lain," ucap Jia dengan suaranya yang lembut. Dia bertanya seperti ini karena dalam keadaan mendesak. Jia yakin, tentang kehamilan itu tak akan butuh waktu lama akan terbongkar.
Namun Dinda yang mendapati pertanyaan seperti itu berpikir lain, mulai merasa jika Jia mungkin ingin dia segera keluar dari rumah ini.
"Maaf Mom, aku tidak tahu pasti. Tapi aku akan berusaha untuk mengingatnya," balas Dinda, hanya jawaban itulah yang terdengar paling masuk akal untuk berkilah.
__ADS_1
"Iya sayang, tapi jangan terlalu dipaksakan. Mommy yakin kamu akan segera mendapatkan ingatan itu lagi."
Kali ini Dinda tidak menjawab apa-apa, dia hanya menganggukkan kepalanya kecil.