
Sampai fajar menjelang Alden masih terus mengawasi Dinda melalui sambungan CCTV yang terhubung ke rumahnya.
Pagi itu semua orang telah bersiap untuk pergi. Alden pun buru-buru menyusul kemana kira-kira semua orang itu pergi.
Ternyata seluruh keluarganya dan Dinda mendatangi rumah ini. Rumah yang sudah dia benahi sejak hari pertama Dinda meninggalkannya.
Bibir Alden tersenyum smirk saat menyadari Dinda tidak lagi memiliki kunci rumah itu, sementara kuncinya ada di dalam dompetnya dan selalu dia bawa. Kunci rumah itu ada 3, sementara yang dia selalu dia bawa hanya 1 dan 2 lainnya masih dia simpan di rumah.
Dengan penuh percaya diri Alden menghampiri semua orang dan menyerahkan kunci itu pada sang pemilik.
"Ini kuncinya," ucap Alden sekali lagi dan Dinda langsung merampasnya dengan kasar.
Benar-benar sebuah interaksi yang membuat semua orang bertanya-tanya. Hanya Alex yang tidak heran sedikitpun.
"Alden," ucap Aleia, sangat bingung, bingung, bingung sekali.
"Kenapa kamu ada disini? dan kenap kamu punya kunci rumah milik Dinda?" cerca Aleia lagi, dua pertanyaan yang juga ada di benak Arion, Aaron dan Jia. Mereka berempat menatap Alden dengan lekat, sama-sama menunggu jawaban yang aman Alden lontarkan.
Namun saat itu Alden tidak fokus pada pertanyaan sang adik, dia malah melihat Dinda langsung menunduk dan meremat kedua tangannya sendiri. Merasa takut.
Dinda pasti takut semua orang tahu bagaimana hubungan mereka selama ini.
"Kemarin saat pulang aku melihat Leia menjatuhkan kunci itu, dan tadi aku tidak sengaja lewat sini," jawab Alden akhirnya dengan kedua mata yang masih terus menatap ke arah Dinda.
"Oh." Aleia dan Jia merasa lega mendengarnya, tapi tidak dengan Arion dan Aaron, si kembar itu tetap menaruh curiga pada sang kakak. Tatapan Alden pada Dinda mengisyaratkan jika ada sesuatu di antara mereka.
Dalam benak keduanya Alden sangat keterlaluan, bagaimana bisa dia tertarik dengan Dinda disaat sudah punya seorang istri.
Dengan cepat Aaron pun mengambil kunci di tangan Dinda dan membuka gerbang. Setelah semua orang masuk Arion bahkan menarik lengan Dinda untuk segera masuk ke dalam rumah. Bersama keluarga Cater yang lain Dinda merasa aman, hanya dengan Alden dia merasa jijik.
"Lebih baik kamu pergi," ucap Alex pada Alden, dia masuk paling akhir bersama sang istri.
"Dad, kenapa tidak diajak masuk dulu Aldennya?"
"Bukannya dia ada urusan? tidak sengaja lewat sini kan?" tanya Alex pula.
Dan Alden hanya mampu menganggukkan kepalanya.
"Iya Mom, aku akan pergi."
"Baiklah sayang, salam untuk Liora ya."
__ADS_1
Lagi-lagi Alden mengangguk.
"Mom, bolehkah aku bicara berdua dengan Daddy?"
"Baiklah sayang, tapi mommy curiga, kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari mommy," balas Jia pula, ini sudah kedua kali dua orang ini bicara tanpa ingin melibatkan dia.
Tapi saat itu Alden hanya tersenyum, sementara Alex mengelus puncak kepala sang istri dengan sayang.
"Masuklah lebih dulu, aku akan menyusul."
Jia mengangguk, lalu melangkahkan kakinya menyusul anak-anak masuk ke dalam rumah itu.
Meninggalkan Alex dan Alden tetap berdiri di depan pagar rumah itu.
"Dad, aku ingin memberi tahu mommy tetang ini semua, tentang Dinda dan Liora yang tidak pernah benar-benar aku nikahi."
"Biar Daddy yang katakan, kamu urus saja kedua wanita itu."
"Tapi kapan Dad? aku tidak mau menutupi ini terlalu lama lagi."
"Apa ini mudah bagi mommy? kamu sudah benar-benar mengecewakan kami berdua!" geram Alex pula. Mudah bagi Alden untuk mengakui kesalahan, tapi Alex dan Jia lah yang akan menanggung beban, merasa telah gagal mendidik anak-anak.
Bahkan tanpa menunggu jawaban Alden lebih dulu, dia langsung masuk ke halaman rumah itu.
Sementara Alden tetap berdiri di posisi yang sama, terus menatap punggung sang ayah yang semakin menjauh lalu hilang ketika sudah masuk ke dalam rumah itu.
Alex menutup pintunya dan ikut bergabung dengan yang lain.
Di rumah ini Dinda tidak akan sendirian, wanita itu akan tinggal bersama 2 pembantu dan 1 penjaga keamanan.
Diam-diam Alex pun sudah membayar beberapa orang yang akan terus mengawasi Dinda selama 24 jam, saat di rumah ataupun ketika diluar rumah.
Alex pastikan calon menantunya ini aman, terlebih dari ancaman Gaida dan Liora. Tidak akan dia biarkan kedua orang itu mendekati calon menantu dan cucunya.
Masuk ke dalam rumah ini, banyak foto keluarga milik Dinda, namun dari semua foto hanya ada Dinda dan ibunya, tidak ada satupun foto sang ayah.
"Din, kenapa foto ayahmu tidak ada?" tanya Aleia, kini dia dan Dinda sudah berada di kamar berdua. Sementara para pria duduk di ruang tengah, sedangkan Jia dan 2 pelayan yang lain memeriksa dapur dan mengisi lemari pendingin dengan berbagai jenis makanan.
"Papa ku sudah meninggal sejak aku kecil, mama ku juga tidak memiliki fotonya," terang Dinda asal, bukan bermaksud bohong, tapi rasanya sangat malas ketika membicarakan pria badjingan itu.
Hanya bersama dengan mamanya disaat masa sulit, lalu setelah hidupnya enak dia memilih untuk bahagia sendiri dengan menikahi gadis yang lebih muda. Parahnya lagi sang ayah memutuskan untuk kembali ke negeranya sendiri, membuat mereka kesulitan untuk menuntut.
__ADS_1
"Maafkan aku Dinda, kamu pasti sedih."
"Tidak apa Aleia, aku tidak sedih. Aku tidak punya perasaan apapun pada ayahku, mungkin karena selama ini aku tidak mengenalnya."
Aleia hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Apa yang kamu cari?" tanya Aleia lagi saat melihat Dinda yang seperti sibuk sendiri, sedari tadi membuka semua laci meja rias, laci meja nakas, bahkan lemari baju.
"Aku mencari ponsel ku, seingetku dulu ada di kamar, tapi kenapa sekarang tidak ada," jawab Dinda seraya masih terus mencari, dia bahkan memeriksa kolong tempat tidurnya.
"Tidak ada," ucap Dinda, sedikit merasa kecewa. Padahal di ponsel itu banyak nomor-nomor penting.
Dinda tidak tahu, jika ponselnya ada di tangan Alden. Pria itu menyimpannya dengan baik. Bahkan saling bertukar pesan dengan Julia berpura-pura menjadi Dinda.
"Nanti beli ponsel yang baru saja."
"Tapi_"
"Kan Daddy sudah memberimu kartu debit, pakai saja."
"Baiklah, nanti aku tanya Daddy dulu, boleh tidak beli ponsel."
"Hahaha, tidak usah tanya, kalau Daddy sudah memberimu kartu itu berarti boleh di gunakan untuk apapun."
"Tetap saja aku tidak enak."
"Iiss kamu selalu saja tidak enak."
Kedua gadis ini terus berdebat. Bahkan Alex sempat menegur keduanya ketika mereka tertawa keras. Namun dengan seperti itu Dinda merasa bahagia. Tidak diperlakukan istimewa malah membuat Dinda merasa nyaman.
Suasana di dalam rumah itu terasa begitu hangat, Alex dan Jia pun tersenyum ketika melihat Dinda mulai bisa tertawa. Sepertinya keputusan mereka untuk membuat Dinda pulang adalah keputusan yang tepat.
Suasana hangat itu berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh Alden.
Pria itu tidak benar-benar pergi, masih duduk di dalam mobilnya yang terparkir cukup jauh dari rumah itu. Tapi dari sini dia masih mampu melihat Rumah Dinda.
Diantara sepi yang menemani dia, Alden terus menunggu kapan seluruh keluarganya pergi dan terus berpikir bagaimana caranya dia bisa mendekati Dinda?
"Oh iya ponsel," gumam Alden.
Saat itu juga dia langsung menekan pedal Gas dan segera pulang mengambil ponsel milik Dinda, Alden sangat berharap ketika kembali nanti mobil-mobil milik keluarganya sudah tidak ada.
__ADS_1