
"Aku mohon Din, aku mohon minta Alden untuk menyelamatkan perusahaan ku," pinta Liora diantara keputusasaan yang sudah menguasai dia.
Namun ketika mendengar ucapan itu Dinda dengan segera memutus panggilan telepon diantara mereka. Ada sesak di dalam dadanya ketika mendengar Liora memanggil nama suaminya, memangil Alden diantara isak tangis yang mampu dia dengar dengan jelas.
Rasa yang sangat Dinda yakini jika namanya adalah cemburu.
Wanita ini lantas membuang nafasnya pelan, tetap ingin tenang meski hatinya begitu gundah.
"Kenapa?" tanya Alden yang tiba-tiba berdiri di belakang Dinda. Sontak saja Dinda terkejut, jantungnya bahkan sampai berdenyut.
Dengan wajahnya yang gelagapan Dinda berbalik menatap suaminya. Kedua matanya terus berkedip tidak tenang.
"Siapa yang telepon?" tanya Alden lagi, tapi tidak mungkin menceritakan semuanya disini, disaat masih banyak anggota keluarga yang berkumpul. Jadi Dinda malah langsung memeluk tubuh suaminya, seraya menjawab dengan suara pelan ...
"Nanti di rumah aku ceritakan."
"Tidak ingin keluarga kita tahu?"
Dinda mengangguk, kepalanya yang bergerak-gerak itu langsung menyentuh dada Alden.
"Baiklah, lebih baik sekarang kita pamit pulang."
Dinda mengangguk lagi.
__ADS_1
Setelah makan malam bersama akhirnya mereka berdua pamit pulang, awalnya Alden ingin mengantar mama Julia lebih dulu. Tapi ternyata Julia akan diantarkan oleh Alex dan Jia serta anak-anaknya yang lain. Semua orang malah meminta Alden dan Dinda pergi lebih dulu, hanya pergi berdua.
Jam 8 malam Alden dan Dinda sudah berada di dalam mobil mereka, melaju membelah jalanan kota.
"Katakan sekarang, siapa yang menelpon mu tadi?" tanya Alden, tepat disaat mobil mereka berhenti di lampu merah.
"Kenapa tanya sekarang? kan sepakatnya bicara di rumah."
"Di rumah nanti urusannya lain lagi sayang." Balas Alden, lengkap dengan sebelah matanya yang berkedip genit.
Dinda yang merasa geli sendiri pun reflek saja mencubit lengan sang suami.
"AW!"
Alden terkekeh, " Sekarang katakan, siapa yang menelpon mu tadi?"
"Liora," jawab Dinda langsung, sebuah jawaban yang seketika menciptakan suasana hening di dalam mobil itu.
"Liora?" ulang Alden dan Dinda mengangguk.
Setelahnya Dinda menceritakan semua yang ada dalam panggilan telepon tadi, tentang tangis Liora dan tentang permohonan wanita itu. Memohon agar Alden mau menyelamatkan perusahaan keluarga mereka.
"Lalu bagaimana? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dinda lirih, menatap lebih lekat pada sang suami.
__ADS_1
Sementara Alden yang sudah benar-benar memutus semua hubungan dengan keluarga itu merasa tak ada sedikitpun niat untuk membantu.
Apalagi jika ingat kesalahan Gaida dan Liora yang nyaris saja membuat anaknya tiada.
Pria itu menggelengkan pelan, dia putuskan untuk tidak melakukan apapun. Bagaimana pun hasilnya tentang semua kasus hukum itu adalah bayaran yang setimpal untuk Liora dan Gaida.
"Dia punya banyak teman, tidak perlu meminta bantuan pada kita. Jadi abaikan saja permintaan itu." Jelas Alden.
Dinda memang sangat berharap Alden bicara seperti itu, mengatakan untuk menolak memberi bantuan pada Liora.
Namun ketika dia mendengar langsung jawaban itu, ternyata hatinya tak suka. Ternyata dia malah semakin iba pada Liora.
"Tapi kan kasihan Al, dia sampai memohon seperti itu," balas Dinda, lengkap dengan kedua matanya yang sayu. Seolah berharap Alden berubah pikiran.
"Meskipun Liora kehilangan perusahaan itu dia tidak akan mati sayang, hanya saja mungkin hidupnya berubah. Dari bergelimang harta jadi hidup sederhana. Kalau dia bisa mengatur dirinya sendiri dengan baik, semua itu bukan masalah." terang Alden lagi.
Liora saja yang melebih-lebihkan semuanya. Dasar wanita itu saja yang tidak bisa hidup sederhana.
"Apa benar seperti itu?"
"Iya."
Alden mengelus puncak kepala Dinda dengan sayang, ingin menciumnya tapi lampu sudah berubah jadi hijau.
__ADS_1