Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 37 - Jangan Pada Kami


__ADS_3

"Tante, apa itu foto seluruh keluarga Tante?" tanya Dinda, dia juga menunjuk sebuah foto yang sempat membuatnya terkejut.


Pasalnya dia melihat seorang anak laki-laki yang begitu mirip dengan Alden. Pria yang paling dia benci. Tapi karena masih berpikir tak mungkin pria miskin itu bagian dari keluarga ini, jadi Dinda coba mengalihkan perasaannya. Kembali melupakan Alden dan fokus saja pada keluarga ini.


"Iya sayang, ini foto waktu anak-anak Tante masih kecil, saat usia Arion dan Aaron masih 2 tahun. Sekarang sulit mau mengumpulkan mereka semua. Sudah sibuk sendiri-sendiri," terang Jia, lalu dia memeluk lengan Leia dan diajaknya keluar untuk menikmati taman di


pagi hari itu.


"Nanti kalau kamu sudah pulih betul, lebih baik ikut Aleia, bekerja di tempat WO milik Tante," terang Jia lagi, dia dan Alex sudah membicarakan banyak hal tentang Leia, tentang masa depan gadis malang ini. Tak masalah jika nanti Leia mengingat semua tentang dirinya, Alex dan Jia akan tetap membantu hidupnya.


Mendengar itu Dinda terseyum lebar, tiap kali dia melihat Jia, jadi teringat pula dia akan sang ibu. Sudah 3 hari ini Dinda tidak menelpon Julia. Ponsel dan semua data dirinya masih tertinggal di rumahnya. Saat kabut Dinda tak ingat tentang apapun, hanya ingin segera pergi dari sana.


Diantara senyumnya yang masih terukir, Dinda pun memikirkan bagaimana caranya dia bisa menghubungi sang ibu.


Dinda melihat saat tadi Jia meletakkan ponselnya di atas meja di ruang tengah. Mengingat itu Dina berencana untuk mengambil ponselnya dan coba menghubungi sang ibu. Namun masih sedikit ragu, takut ada pelayan ataupun karena CCTV yang mengintai.


Tapi kalau bukan sekarang kapan lagi? mumpung di rumah ini sedang sepi.


"Tante, a-aku izin ke kamar mandi dulu ya?" pamit Dinda seidkit ragu, namun berusaha merasa agar ketakutannya tidak sampai terbaca oleh Jia.


"Iya sayang, kamar mandi di dapur saja, lebih dekat."


"Iya Tante."


Dengan langkah kaki yang ragu, akhirnya Dinda pergi meninggalkan taman itu dan kembali masuk ke ruang tengah. Seperti pencuri dia mengambil ponsel Jia di atas meja dan langsung membawanya ke dalam kamar mandi dapur.


Tanpa mengulur waktu dia pun langsung menelpon sang ibu.

__ADS_1


Untunglah saat itu panggilannya langsung mendapatkan jawaban.


"Ma_"


"Ya Tuhan Dinda, kamu kemana saja sayang? Mama telepon nomor mu tidak aktif, apa ini nomor baru mu."


"Bu-bukan Ma, ponselku hilang dan ini milik orang baik yang aku pinjam. Mama tenang, aku baik-baik saja disini, hanya saja mungkin aku akan jarang menghubungi."


"Kenapa begitu Nak? gajian kamu nanti langsung lah beli ponsel, tidak perlu mengirim mama uang."


"Iya Ma, ini juga aku tidak bisa lama-lama. Orangnya menunggu ku. Pokoknya mama harus sehat-sehat terus, aku disini juga baik-baik saja." Terang Dinda, tak setelah itu dia bahkan langsung memutuskan sambungan telepon di antara mereka.


Panggilan telepon yang sangat buru-buru, karena Dinda pun takut membuat Jia menunggu terlalu lama dan curiga.


Ya Tuhan, sampai kapan aku hidup seperti ini. Batin Dinda. Meski pikirannya sangat kacau, namun dengan segera dia keluar dari dalam kamar mandi itu. Mengembalikan ponsel Jia ke tempat semula dan kembali menghampiri Jia seolah tidak terjadi apa-apa.


"Rayden tinggal di rumah Daniel Mom, ada proyek baru dan jaraknya lebih dekat dari sana," terang Alex, menceritakan apa yang dia kerjakan hari ini. Jia pun mengangguk, seraya menyandarkan kepalanya di lengan sang suami.


Masih menghabiskan waktu berdua seperti itu, tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka dan melaporkan sesuatu ..


"Maaf Tuan, Nyonya, tapi ada seorang tamu di luar sana. Katanya beliau adalah neneknya Nona Liora, calon istri tuan Alden," jelas pelayan itu, seraya menundukkan kepalanya merasa bersalah telah menggangu waktu berdua majikannya.


Mendengar itu Jia mengerutkan dahi, tak biasanya ada tamu yang datang tanpa membuat perjanjian dulu. Baik Jia ataupun Alex memiliki asisten pribadi masing-masing, melalui asisten itulah mereka mengatur jadwal temu.


Jika Jia merasa bingung, tapi tidak dengan Alex. Dengan segera dia bangkit dan menghampiri Gaida di ruang tamu. Sementara Jia pun mengikuti.


Mereka akhirnya bertemu dengan suasana yang sangat canggung.

__ADS_1


"Selamat datang nyonya Gaida," sapa Jia pula, dia lebih dulu menyambut sang tamu.


"Terima kasih Nyonya Jia, beruntung sekali saya bisa bertemu dengan Anda," balas Gaida pula. Dia ingin menyapa Alex, namun pria dengan wajah angkuh itu malah langsung duduk di kursinya.


Jia juga heran saat melihat sikap sang suami, seolah Alex tak suka jika Gaida berkunjung ke rumah mereka. Padahal sebentar lagi mereka akan jadi keluarga.


"Maaf Nyonya Gaida, apa ada sesuatu yang mendesak sampai Anda repot-repot datang kemari?" tanya Jia, semalam mereka sudah bertemu dengan Liora, rasanya tak mungkin tanpa sebab kini gantian Gaida yang datang.


"benar Nyonya Jia, memang ada sesuatu yang ingin saya utarakan. Ini tentang pernikahan Alden dan Liora nanti."


"Baik, silahkan," terang Jia.


"Mana mungkin pernikahan mereka dilakukan tanpa pesta, saya tidak setuju dengan itu. Pernikahan mereka haruslah diadakan dengan sangat mewah dan mengundang banyak orang," terang Gaida, dia bicara menggebu seraya menggerakkan kedua tangannya.


Jia ingin menjawabi namun kalah dengan cepat dengan Alex yang lebih dulu buka suara.


"Yang akan menikah adalah Alden dan Liora, jadi terserah mereka mau bagaimana? keluarga kamu akan tetap mendukung apapun keputusan mereka, termasuk pernikahan tanpa pesta," jawab Alex, bicara dengan suaranya yang sangat dingin, juga tatapan tajam. Tidak terlihat seperti sedang berbicara dengan calon besan.


Jia bahkan cukup terkejut dengan jawaban suaminya itu, juga cara Alex ketika bicara seperti sedang memendam amarah. Padahal tentang hal ini bisa mereka bicarakan dengan baik-baik.


"Mana bisa seperti itu Tuan Alex, ini adalah pernikahan pertama di keluarga kita berdua, harusnya diadakan dengan sangat spesial, bukan hanya melakukan ke pencatatan sipil."


"Semalam masalah ini sudah kami bahas, jika ada yang harus diubah, maka tanyakan langsung pada Alden dan Liora. Jangan pada kami." Putus Alex, setelahnya dia bangkit dan mempersilahkan Gaida untuk keluar dari rumahnya.


Jia terperangah, namun tak berani pula untuk membantah kehendak sang suami.


Cih, sombong sekali kamu! batin Gaida. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau. Siang itu dia pamit pulang meski dengan hati yang teramat kesal.

__ADS_1


__ADS_2