
Dalam waktu tak sampai sepuluh menit Dunia sampai di depan rumah Lufita. Ia bergegas masuk dan mengucapkan salam. Namun ia tak dapat menemui Lufita dan ibunya, ia hanya bertemu pegawai konveksi Bu Rima yang sedang fokus bekerja.
"Mba, Fita ada di rumah?" tanpa basa basi Dunia bertanya kepada pegawai itu.
"Bu Rima dan mba Fita lagi ke klinik tuan, mungkin sebentar lagi kembali" wanita yang tengah menjahit itu menjawab pertanyaan Dunia dengan sopan.
Dunia tak sabar menunggu untuk memastikan kondisi Lufita. Ia berniat menyusul Lufita dan ibunya ke klinik yang dimaksud oleh mba pegawai tadi.
"Mba kliniknya dimana?, jauh dari sini?" Dunia bertanya.
"Di dekat gerbang perumahan ini Tuan, paling ujung sebelah kiri" Dunia mendengarkan penjelasan.
Tak membuang waktu, Dunia segera bergegas menuju tempat yang ditunjukkan.
Semesta kembali mendukung, baru saja Dunia keluar dari rumah Lufita, Wiryo melintas dengan sepeda bututnya. Jarak dari lokasi Dunia saat ini ke gerbang perumahan itu lumayan jauh, akan memakan waktu lama kalau Dunia berjalan kaki, sebuah ide muncul di benaknya.
"Wiryo, saya pinjam sepeda mu ya" Dunia mencoba bernegosiasi.
"Mau kemana tuan?, apa mau saya antar?" pemuda itu sedikit kebingungan.
"Saya ada urusan, mau sendiri saja ke gerbang depan" Dunia menolak tawaran Wiryo. Yang dia butuhkan hanyalah sepeda untuk mempercepat langkahnya menuju klinik untuk menyusul Lufita.
"Oh kalau begitu, silahkan tuan" Wiryo yang masih kebingungan merelakan sepeda kesayangannya diambil oleh sang tuan tanah penguasa wilayah itu.
"Ini buat kamu jajan di warung sambil menunggu saya" selembar uang berwarna merah diberikan kepada pemuda tanggung itu. Senyum sumringah Wiryo tak kuasa disembunyikan. Baru pertama kali ia mendapat uang jajan sebanyak itu.
__ADS_1
"Silahkan pakai sepeda saya sepuas anda tuan, dikembalikan besok juga tak apa" Wiryo kegirangan. Sementara Dunia sudah meninggalkan tempat itu menuju ke klinik tempat Lufita berobat.
.
.
.
Dunia memarkirkan sepeda pinjaman itu di depan klinik. Tak sulit baginya mencari tempat fasilitas umum di kampung kecil itu. Dengan langkah perlahan ia masuk kedalam klinik dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia tak sabar menemui Lufita dan memastikan keadaan gadis itu baik baik saja.
Dunia tak menemukan Fita maupun ibunya di aula klinik. Tempat itu sangat ramai dengan berbagai macam orang. Ada yang sedang merintih kesakitan, ada yang duduk diam menunggu antrian obat dan lain lain kegiatan yang sangat dihafal Dunia. Aroma obat seperti ini mengingatkan ia akan kakaknya Langit. "Bagaimana keadaannya sekarang?" Dunia bergumam sendiri.
Saat menoleh ke bagian pasien rujukan, Dunia berhasil menemukan Bu Rima yang sedang duduk berbincang dengan seorang petugas, namun Lufita tak nampak ada bersama sang ibu.
"Tidak ada pilihan lain Bu, mungkin rumah sakit di kota masih ada stok, maaf sekali kami tak bisa membantu ibu kali ini, cuaca buruk yang terjadi beberapa hari belakangan ini membuat pengiriman obat obatan terganggu, kami harus menunggu beberapa hari ke depan untuk mengisi stok obat obatan yang kosong. Itupun tak bisa kami pastikan obat yang putri ibu butuhkan tersedia, karena seperti yang kita tahu, penyakit putri ibu tak sembarangan, membutuhkan obat yang spesial" petugas klinik berbicara dengan kalimat yang sangat sopan kepada Bu Rima. Tampak wajah wanita itu sayu dengan mata berkaca kaca. Dunia menduga duga apa yang tengah terjadi.
"Ini surat rujukan untuk ibu menebus obat ke kota, sebaiknya segera Bu, maksimal dalam tiga hari ini putri ibu sudah harus meminum obatnya, akan sangat fatal dan memperburuk kondisi jika ia terlambat meminum obatnya" sang petugas memberikan informasi tambahan.
Bu Rima mengambil surat yang diserahkan oleh petugas medis dan bergegas masuk kedalam ruangan perawatan kembali. Sebuah ruangan tertutup berlabel "ruangan isolasi".
Sepeninggal Bu Rima, Dunia datang menghampiri petugas medis yang tadi baru saja memberikan surat rujukan.
"Selamat siang pak, bisa saya minta waktu sebentar?" Dunia mengeluarkan aura penguasanya.
Sang mantri penjaga klinik sedikit terkejut saat melihat siapa lawan bicaranya.
__ADS_1
"Tu..tuan Dunia?" mantri muda tersebut gugup menghadapi sang penguasa wilayah. Dia mengenali dengan jelas tuan muda itu, karena pada saat penyambutan pertama kali Dunia datang ke desa mereka, mantri ini ada sebagai pendamping pak lurah mempersiapkan semua keperluan.
"Terimakasih anda mengenali saya dengan baik, ada hal penting yang harus saya bahas, bisa berbicara sebentar, tapi di ruangan tertutup, saya tidak mau disini" Dunia menjelaskan keinginannya.
"Baik tuan, mari ikuti saya" Mantri muda itu mengajak Dunia masuk kedalam sebuah ruangan kecil yang sepertinya digunakan sebagai tempat pertemuan.
"Baiklah, saya mau menanyakan sesuatu, tolong dijawab dengan singkat, jangan berbelit belit" Dunia mulai mengintimidasi.
"Lufita Mustika Putri, pasien disini, anda mengenalnya bukan?" Dunia memulai pertanyaannya.
"Iya tuan, beliau pasien kami disini" pak mantri menjawab pertanyaan Dunia.
"Apa penyakit yang dideritanya?" Dunia langsung ke inti permasalahan. Ia sungguh tak bisa menahan diri lagi untuk segera mengetahui apa yang sedang dialami Lufita.
"Ma...maaf tuan, bukan saya bermaksud membantah anda. Mengenai penyakit pasien, itu merupakan sebuah kerahasiaan. Saya tidak berhak memberitahukan itu kepada siapapun. Kami sebagai petugas medis sudah disumpah tuan, maafkan saya, saya tak bisa melanggar itu semua" mantri itu menunduk ketakutan karena tak bisa memenuhi keinginan sang tuan besar.
Wajah Dunia merah padam. Emosinya bergejolak, ia tak terbiasa menghadapi penolakan. Tapi di satu sisi ia paham, ia tak bisa memaksa sesuatu yang sudah menjadi hal mutlak. Ia tak boleh membuat petugas di depannya melanggar sumpah profesi.
Dunia mengusap kasar wajahnya. Sebuah helaan nafas berat meluncur dari bibirnya. Rasanya ruangan itu sangat pengap tanpa oksigen, ia butuh melonggarkan pernafasannya.
"Maafkan saya, sekarang cukup beritahu ke rumah sakit mana Lufita anda rujuk?" Dunia mengganti tema pertanyaannya.
"Rumah sakit Keluarga Sehat di kota tuan" sang mantri menjawab cepat.
"Baiklah, terimakasih,,,kau petugas medis yang berdedikasi, pertahankan" Dunia menepuk nepuk pundak pria itu sebelum meninggalkan ruangan.
__ADS_1