
Fita menjalani harinya di sekolah pagi ini seperti biasa, sepi dan sendirian. Ia tak pernah berbincang dengan siapapun. Jika waktu istirahat ia akan menggunakannya untuk memakan bekal yang dibawanya dari rumah, sesekali ia akan membelinya di kantin dan menikmatinya sendirian.
Apabila ada jam kosong, Fita memilih menghabiskannya di perpustakaan. Ia akan betah berlama lama didalam ruangan itu, hening, sunyi dan membuatnya nyaman.
Seperti saat ini, seharusnya hari ini adalah mata pelajaran manajemen bisnis yang diajarkan oleh pak guru Dunia. Namun pria tampan itu tak menampakkan batang hidungnya. Tak ada berita apapun mengenai dirinya, seolah hilang ditelan bumi. Kasak kusuk di kalangan murid murid wanita pun beredar. Banyak yang mengkhawatirkan kondisi guru favorit mereka itu. Lufita mendengar itu semua namun memilih mengabaikannya.
Di tengah keseriusannya dalam membaca buku, Fita dikejutkan oleh sebuah sapaan dari seseorang.
"Hai, boleh duduk disini?" suara itu meminta persetujuan.
Fita mendongakkan kepalanya dan melihat lawan bicara di depannya.
Seorang pria seumuran dengan wajah penuh jerawat dan kacamata tebal. Wajahnya tertutup sebagian karena buku tebal yang dibawanya begitu banyak.
Fita menolehkan pandangan ke kiri dan ke kanan, memang semua kursi sudah terisi penuh, pantaslah siswa ini memilih tempat di mejanya.
" Silahkan" Fita mempersilahkan orang itu duduk dan memasang masker wajah yang tadi sempat dilepasnya sebentar.
Fita kembali fokus ke buku di tangannya, tak berniat berinteraksi dengan orang di depannya.
__ADS_1
"Hai, perkenalkan aku Andra" siswa itu mengulurkan tangan ke arah Fita.
Fita melipat tangannya di dada dan menyambut perkenalan Andra dengan cara yang sopan.
"Aku Fita" gadis itu memperkenalkan namanya.
Andra menurunkan kembali tangannya dengan canggung. Namun sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Ia tak tersinggung sama sekali atas penolakan Fita.
"Aku anak baru di kelas tiga" Andra mencoba memulai obrolan dengan Fita.
"Oh selamat bergabung Andra, Aku juga di kelas tiga, kita satu angkatan tapi beda kelas, semoga betah ya di sekolah ini" Fita sangat ramah dan sopan menanggapi teman barunya itu.
Tak berselang lama, bel tanda pelajaran selanjutnya pun berbunyi. Fita mengemas buku yang tadi diambilnya di rak dan kembali merapikannya di tempat semula. Ia berpamitan duluan kepada Andra.
.
.
.
__ADS_1
Drtttt....drtttt...
Ponsel Dunia bergetar pertanda sebuah pesan masuk kedalamnya.
Andra, seorang bawahan kepercayaannya baru saja mengirimkan pesan. Pesan mengenai kondisi Lufita pagi ini di sekolah.
Selama Dunia tak berada di Kalimantan, ia mengirim Andra untuk menjadi teman Lufita. Saat melihat Fita di sekolah selalu sendirian, ada rasa iba dihati Dunia. Gadis itu dijauhi oleh teman temannya yang lain karena dianggap bisa menularkan penyakit.
Dunia bisa merasakan sepi dan sedihnya hidup yang dijalani Fita. Ia ingin setidaknya gadis itu ada yang melindungi selama berada di sekolah. Terutama dari gangguan Mia dan geng centilnya yang selalu membully Fita.
Dunia menyimpan kembali ponselnya dan bersiap meninjau perusahaan. Sudah beberapa hari ia tak ke kantor. Banyak dokumen menunggunya untuk ditanda tangani.
Begitu Dunia sampai di lobby kantor, Zayn sang asisten utama sumringah menyambutnya.
"Selamat pagi tuan muda, syukurlah kau masih ingat jalan menuju perusahaan" Zayn menggoda bos sekaligus sahabatnya itu. Sebuah tatapan tajam sukses membungkam Zayn. Tanpa banyak berkata kata. Dunia melangkah menuju ruangannya, diiringi Zayn yang berjalan dengan senyuman kecut.
.
.
__ADS_1
.
Pertemuan dengan beberapa orang klien hari ini dijalani Dunia dengan setengah bersemangat. Pikirannya terus terbagi antara Kalimantan dan Jakarta. Sebuah rasa aneh selalu muncul di dadanya kala mengingat seorang gadis yang sedang ia tinggalkan disana. Gadis dengan senyuman manis dan bola mata indah. Dunia merindukan Fita. Ia merindukan suasana desa yang damai dan tentram nan jauh disana.