
Mesjid Al Muhajirin.
Tiga hari berlalu semenjak kepergian Langit. Dunia dan sang ibu telah melewati hari hari yang sangat sibuk. Menerima ucapan belasungkawa dari sahabat dan rekan bisnis, juga menggelar pengajian untuk mengirim doa agar Langit mendapatkan pengampunan dari yang Maha Kuasa, semua terlaksana dengan baik.
Dan pagi ini, Dunia memutuskan untuk kembali menata kehidupannya. Memulai kembali aktivitas rutinnya yang sempat berantakan beberapa minggu terakhir. Terutama urusan bisnis dan perusahaan.
Dunia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah mesjid yang berada tak jauh dari kantornya sebelum memulai aktivitas. Semenjak kepergian sang kakak, pemuda tampan itu seolah tersadar bahwasanya jarak antara hidup dan mati itu sangat dekat, meskipun ia tak pernah berbuat hal yang dilarang agama, namun tetap saja ia merasa belum mempunyai cukup bekal untuk menghadapi takdir kematiannya nanti. Dunia bertekad akan lebih mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta.
Selepas melaksanakan ibadah, Dunia masih betah duduk berlama lama didalam mesjid yang ia datangi saat ini. Rasa hatinya begitu tenang dan nyaman. Ia terus berdoa untuk masa depan serta kehidupan yang akan dijalani ke depannya bersama sang ibu dan seseorang yang akan menjadi jodohnya nanti.
Tak jauh dari tempat Dunia berada, ada seorang pria paruh baya yang terus mengamati. Pria berpeci itu adalah seorang jemaah yang kebetulan juga sedang melaksanakan ibadah sunah di mesjid itu. Ia memandangi Dunia dengan tatapan iba, seolah memahami kalau pemuda di hadapannya saat ini tengah menanggung beban yang cukup berat. Pria itu bernama pak Syaiban.
\=\=POV pak Syaiban\=\=
"Pagi ini sebelum mulai membuka warung, ku sempatkan diri sebentar untuk sholat sunah di mesjid. Seperti biasa, suasana sepi dan tenang membuat tubuh renta ku seolah ter charge dengan full.
Namun ada pemandangan yang berbeda saat ini, seorang pemuda mengusik kenyamanan ku. Pemuda itu tampak khusuk berdoa dan sesekali mengusap wajahnya. Ia tampak begitu lelah seolah tengah menghadapi masalah besar. Persis diriku puluhan tahun lalu. Ah apakah yang tengah dialaminya, apakah sopan kalau ku dekati dia dan bertanya apa yang terjadi?".
.
__ADS_1
.
.
Suara seseorang mendekat mengusik lamunan Dunia. Ia menoleh kearah sumber suara dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri didekatnya dan tersenyum. Dunia membalas senyuman pria itu.
"Assalamualaikum nak" pria itu mulai membuka percakapan.
"Waalaikumsalam pak" Dunia menyambut salam ramah dari pria yang baru saja dijumpainya itu.
"Salam kenal nak, saya Syaiban" pria paruh baya itu mengulurkan tangan mengajak berkenalan.
"Nama yang unik" pak Syaiban mengomentari nama Dunia yang memang jarang dimiliki oleh orang kebanyakan.
"Apa bapak yang menjaga mesjid ini?" Dunia membuka obrolan.
"Tidak nak, saya pedagang buah di seberang mesjid ini" pak Syaiban menjelaskan.
Dunia hanya mengangguk pertanda mengerti. Obrolan pun berjalan santai diantara keduanya. Dalam waktu yang singkat mereka sudah terlihat akrab, sejenak Dunia lupa akan masalah hidup yang dialami.
__ADS_1
Pak Syaiban melirik jam di pergelangan tangan, rasanya sudah terlalu lama ia berada di dalam mesjid.
"Maaf ya nak, bapak harus segera membuka warung, takutnya pelanggan sudah menunggu" dengan ramah pria itu pamit mengundur diri.
"Oh baik pak, nanti kapan ada waktu saya akan berkunjung ke warung bapak" Dunia mengutarakan niatnya.
"Wah senang sekali, baiklah sampai jumpa" pak Syaiban pamit dan menghilang di balik lorong mesjid.
Selepas kepergian pria paruh baya yang tadi mengajaknya mengobrol Dunia pun mengemasi barang barangnya dan meninggalkan tempat itu. Semangatnya hari ini full untuk bekerja di kantor. Sementara waktu Lufita akan ditemuinya lewat doa saja, ia belum memiliki cukup waktu serta keberanian untuk bertemu kembali dengan gadis manis itu.
.
.
.
Lain di kota, lain pula di desa.
Lufita telah bersiap dengan mengenakan pakaian seragam rapi ke sekolah. Kondisinya beberapa hari ini bisa dibilang cukup baik. Obat serta vitamin yang diterimanya dari dinas kesehatan desa kemarin benar benar bereaksi dengan bagus di tubuhnya.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan ibunya, Fita melajukan motor matic kesayangannya untuk membelah kabut pagi menuju sekolah.