
Malam hari menjelang.
Suara tawa beberapa orang di ruang tamu mengusik Fita yang sedang berada didalam kamar.
"Sepertinya diluar rame" gadis itu bermonolog sendiri.
Awalnya Fita tak berniat untuk bergabung dengan keramaian di luar kamarnya itu, tapi suara panggilan dari sang ibu membuatnya terpaksa keluar.
"Sayang, ada pak Lurah dan tuan Dunia sedang bertamu, tolong bikinkan mereka minum ya" Bu Rima menjelaskan maksudnya memanggil Lufita di kamar.
"A...ada tuan Dunia ya Bu?" Fita masih terbayang kejadian tadi siang. Ia takut dunia akan marah kepadanya, karena bersikap tak sopan.
"Iya, ada tuan Dunia, ia datang kesini mau memperkenalkan bi Imas, asisten yang baru dibawanya dari kota. Ia mau kita bantu bi Imas agar nanti bisa betah di desa ini" Bu Rima menjelaskan.
"Bu, aku di kamar aja ya" Fita berat hati memenuhi permintaan sang ibu.
"Loh kenapa? apa ada masalah?" Bu Rima kebingungan melihat sikap putri semata wayangnya itu.
"Emmm, itu" Fita gugup, bingung bagaimana menjelaskan kejadian yang tadi dialaminya dirumah Dunia.
"Ya udah Bu, Fita buatkan minum" akhirnya ia mengambil keputusan. Ia tak ingin membuat sang ibu bersedih atas penolakannya. Ia segera bergegas ke dapur sebelum sang ibu bertanya lebih jauh mengenai apa yang terjadi.
.
.
__ADS_1
.
Tak berselang lama, Fita selesai membuatkan minum dan beberapa cemilan untuk tamu sang ibu. Ia masuk ke ruang tamu membawa hidangan itu dengan memakai perlengkapan pelindung medisnya, masker kesehatan yang menutup wajahnya serta sarung tangan medis.
Fita terus berjalan menunduk sampai akhirnya meletakkan hidangan di meja. Ia menyadari sepasang mata menatap tajam kearahnya. Mata milik sang tuan besar Dunia.
"Silahkan dinikmati pak, Bu" Fita selesai dengan tugasnya dan bermaksud kembali ke kamar. Ia tak berniat ikut bergabung dengan orang orang itu.
"Fita, gabung disini aja bersama kami" suara berat Dunia mencegah kepergian Lufita.
"Gak lagi sibuk kan?" Dunia kembali berbicara.
Fita hanya mampu menunduk untuk menanggapi pertanyaan Dunia. Ia beringsut duduk ke sebelah sang ibu.
"Iya Bu" Fita menjawab singkat ucapan ibunya. Ia dilanda rasa takut akibat kejadian tadi siang bersama Dunia.
Suasana obrolan begitu hangat. Semua terlibat percakapan, termasuk Dunia. Ia tetap menanggapi jokes ala bapak bapak yang dilontarkan lawan bicaranya meskipun matanya terus menatap lekat kearah Lufita. Membuat gadis itu semakin gugup.
"Maaf pak, Bu, Fita pamit kedalam ya, ada tugas sekolah" Fita yang tak tahan dengan suasana mencekam yang dirasakannya berinisiatif untuk pergi.
"Silahkan neng" pak lurah yang tak tau akan kegundahan Fita menyambut dengan ramah.
Fita bergegas secepat kilat menjauh dari tempat itu. Jantungnya dag dig dug menahan ketakutan tak terkendali.
.
__ADS_1
.
.
"Udahan belajarnya?" sebuah suara mengejutkan Lufita yang sedang bermenung di taman kecil di belakang rumahnya.
Setengah jam berlalu semenjak ia berpamitan untuk belajar kepada tamu sang ibu. Fita tak sepenuhnya bohong, ia memang mengerjakan tugas dari sekolah, dan itu dapat diselesaikannya dengan cepat. Dan kini ia memilih menikmati suasana malam di taman belakang rumah sendirian, merenggangkan otot syarafnya yang tegang akibat bertemu Dunia.
"Tu...tuan" Fita gugup melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya saat ini. Orang yang mati matian dihindarinya dari tadi siang kini sedang tersenyum dengan jarak tak lebih dari beberapa meter darinya.
"Kenapa menghindariku?" Dunia bertanya dengan nada suara begitu lembut.
"Ma..maafkan saya tuan. Tadi saya gak sengaja menyentuh anda. Saya gak berniat tuan, dokter bilang saya gak menularkan virus ini dengan mudah, saya mohon maaf tuan,,hik" tangis Lufita pecah. Dengan bibir bergetar dan air mata yang begitu deras Lufita menumpahkan isi hatinya yang tersimpan sedari tadi.
"Hei, tenanglah" Dunia syok melihat reaksi Lufita. Ia tak menyangka gadis itu ketakutan dan berpikir ia akan marah karena mereka saling bersentuhan tadi siang.
"Hik...hik" Fita masih terisak di tempatnya berdiri saat ini. Posisinya yang lebih pendek daripada Dunia, membuat pria itu hanya bisa melihat bahu Fita bergetar dan menunduk.
Ingin rasanya ia menarik gadis itu kedalam pelukannya. Tapi jika ia melakukan itu saat ini, bukan tak mungkin Fita akan kembali lari lagi, menjauh dan akan sulit untuk didekatinya lagi.
"Fita, tenanglah, bisa kita bicara?" Dunia kembali membujuk gadis itu.
"Jangan menangis, aku mohon" Dunia penuh harap. Ia ikut larut dalam kesedihan gadis di depannya ini.
"Ayo duduk disana" Dunia berjalan mendahului Fita. Dengan polos gadis manis itu mengikuti Dunia. Meskipun masih tersisa tangisan, ia tetap jadi gadis penurut yang mengikuti perintah orang yang lebih tua darinya.
__ADS_1