
"Tok...tok..."
Sebuah ketukan yang terdengar panik mengusik kesunyian malam di kediaman Dunia.
Pria itu baru beberapa menit terlelap setelah menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Rencananya untuk mencari blog pribadi Lufita pun harus tertunda karena rasa kantuk yang menyerangnya begitu hebat.
"Jam 01.00"
Mata Dunia mengerjap melihat jam di dinding rumahnya. Siapa yang tengah malam begini menggedor gedor pintu rumahnya. Meskipun dengan malas, ia tetap bangkit dan berjalan menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
"Ma..maaf Tuan saya mengganggu istirahat Anda, tolong bantu saya Tuan, tolong anak saya Fita" Bu Rima terisak di depan pintu meminta pertolongan Dunia.
Seketika rasa kantuk yang mendera pria itu menghilang. Ia bergegas bersama bu Rima menuju ke rumah wanita itu.
.
.
.
Dunia mengusap kasar wajahnya. Saat ia sampai di kamar Lufita, gadis itu tengah meringkuk kedinginan, dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
"Fita" Dunia berhambur mendekat kearah Lufita. Dengan spontan ia menarik gadis itu kedalam pelukannya. Ia tak mempedulikan posisi Bu Rima yang ada di ruangan itu.
"Ya Tuhan, panas sekali tubuhnya" Dunia terkejut dengan suhu tubuh Lufita yang berada di pelukannya.
"Fita harus segera dibawa ke rumah sakit tuan, dia tidak bisa menunggu lama. Sedikit saja ia terinfeksi kuman atau bakteri akan berakibat fatal bagi kesehatannya" Bu Rima kembali terisak. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi putri semata wayangnya itu.
"Tenang ya Bu, kita ke rumah sakit sekarang" Dunia sigap mengambil keputusan.
Karena keterbatasan transportasi saat itu, ditambah lagi suasana malam pedesaan yang begitu sepi, Dunia memutuskan untuk membawa Fita yang setengah sadar menggunakan motor.
"Kita jalan ya Bu" Dunia memberi aba aba kepada Bu Rima.
"Dug...dug...dug..." jantung Dunia bak genderang perang. Ia merasakan sensasi berbeda saat gadis yang selalu di pikirannya itu kini dalam keadaan memeluknya. Meskipun kondisi Fita setengah sadar atau bahkan tak menyadari apa yang terjadi.
Sepanjang perjalanan, perasaan Dunia bercampur aduk, antara khawatir dan nyaman. Ia tak bisa berpikir jernih saat ini. Yang menjadi fokus utamanya adalah secepatnya sampai di klinik desa untuk mendapatkan pertolongan pertama untuk Lufita.
Butuh waktu hampir dua puluh menit sebelum akhirnya Dunia beserta Lufita dan ibunya sampai di klinik desa. Dunia dengan sigap dan hati hati menggendong tubuh Lufita yang lemas masuk kedalam ruang pemeriksaan.
Jantung Dunia semakin berdebar saat tatapan sayu dari mata Fita yang menahan sakit terus mengarah kepadanya. Tak ada obrolan apapun, mereka larut dalam pikiran masing masing.
.
__ADS_1
.
.
"Maaf tuan, sebaiknya anda mengganti pakaian, ini kebetulan tadi saya membawa baju ganti untuk anda. Baju ini masih baru dan bersih kok tuan, saya ambil stok dari konveksi" Bu Rima mencoba menjelaskan agar pria kaya itu tak merasa risih menerima baju darinya.
"Tak apa Bu, saya mau tunggu kabar Fita dulu dari dokter yang masih memeriksa didalam" Dunia terlalu mencemaskan Fita hingga ia tak mau beranjak sedikit pun dari pintu pemeriksaan.
"Tapi, itu ada darahnya, nanti ada bisa terinfeksi penyakit seperti Fita" Bu Rima tak tahan dengan apa yang dipikirkannya.
"Kenapa Bu?, se menular apa penyakit Fita sampai noda darah di baju ini bisa membahayakan saya juga" Dunia mengambil kesempatan untuk mendengar penjelasan dari wanita paruh baya itu.
"Fi...Fita menderita H*V tuan" Bu Rima terisak. Kalimat itu begitu berat untuk diucapkannya.
"Duaaarrrr" ....
Akhirnya Dunia mendengar langsung dengan jelas apa yang dihindarinya selama ini.
"Saya mohon jangan berpikiran buruk tentang putri saya, dia gak bersalah, bukan keinginannya mendapatkan penyakit itu" Bu Rima histeris. Ia kembali teringat masa masa perjuangan saat ia dan putrinya harus mendapatkan hujatan dari orang orang di sekitarnya.
"Tenanglah Bu, saya percaya" Dunia berusaha menanggapi Bu Rima yang sedang menangis di hadapannya. Ia ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh wanita itu.
__ADS_1