Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Penyakit menular?


__ADS_3

Dunia terus memandangi Lufita yang perlahan menghilang dibalik pintu, sepertinya ia menuju kelas.


"Ayo pak lanjutkan makannya, mumpung si gadis aneh sudah pergi" Mia mulai membuka pembicaraan dengan pak guru tampan itu.


"Apa Fita selalu seperti itu?" Dunia berusaha mengorek informasi dari teman sekelas Lufita yang genit ini.


"Iya begitulah pak, dia tak pernah mau bergaul, misterius dan sedikit menakutkan, sepertinya ia merencanakan sesuatu di sekolah ini" Mia berbisik seolah sedang menceritakan sesuatu yang sangat rahasia.


Dunia mengangguk perlahan, ia mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan Mia. Karakter Lufita yang pendiam membuatnya tak memiliki teman di sekolah bahkan dimusuhi, ia hidup dalam kesunyian.


Bubur panas yang sudah diacak acak oleh Dunia tak lagi menggugah seleranya, ia berniat pergi secepatnya menyusul Lufita.


"Saya sudah selesai, kalian silahkan lanjutkan makannya, hari ini biar saya yang traktir, pesanlah sesuka kalian" Dunia berbicara kepada ketiga murid perempuan di depannya itu.


"Asyik" Mia dan kedua sahabatnya bersorak kegirangan. Pak Dunia yang tampan begitu baik kepada mereka, Mia semakin tergila gila.


.


.


.


Dunia memutuskan kembali ke ruangan guru. Ia merasa perlu mendekatkan diri dengan guru guru lain sebelum nanti menggali informasi lebih lanjut mengenai Lufita. Tujuannya saat ini hanyalah Lufita dan Lufita, ia tak tertarik dengan apapun selain gadis manis itu.


"Selamat siang Bu Ira" Dunia menyapa seorang guru perempuan yang duduk di sebelah mejanya.

__ADS_1


"Selamat siang pak Dunia" Bu Ira membalas dengan ramah sapaan dari pak guru magang itu.


"Kemana guru yang lain Bu, kok sepi?" Dunia kebingungan dengan kondisi ruangan yang lengang. Hanya Bu Ira sendirian di ruangan itu.


"Kalau jam istirahat begini, rata rata semua guru makan siang di rumah masing masing pak, kan lumayan waktu satu jam digunakan untuk makan siang bersama keluarga" Bu Ira menjelaskan.


"Oh begitu ya Bu" Dunia menganggukkan kepala membenarkan ucapan Bu guru Ira.


"Bagaimana kesan bapak mengajar di sekolah ini pak?, apakah menyenangkan?" Bu Ira kembali memulai obrolan dengan topik seputar sekolah dan profesi mereka.


"Sangat menyenangkan Bu, murid dan guru di sekolah ini menyambut saya dengan baik, saya merasa sangat dihormati" Dunia menjawab dengan tulus, karena memang itulah kenyataan yang dirasakannya.


"Oh syukurlah, apa bapak sudah bertemu dengan murid kelas tiga kami yang sedikit berbeda dengan yang lain?" Bu Ira memberikan pertanyaan yang membuat Dunia terkejut.


"Itu loh pak, Lufita, apa bapak sudah mengajar di kelas Lufita?" jiwa ibu ibu komplek Bu Ira muncul. Dia mulai membicarakan hal hal yang sebenarnya ingin digali oleh Dunia.


"Iya, anak itu sungguh kasihan, menurut berita ia menderita penyakit menular sejak lahir, teman temannya tak mau mendekatinya karena itu, padahal ia anak yang pintar. Meskipun di kelas tak terlalu aktif tapi nilai nilainya saat ujian selalu tinggi" Bu Ira terus berbicara tanpa menyadari perubahan wajah pada lawan bicaranya saat ini.


"Penyakit apa yang diderita oleh Lufita Bu?" nada suara Dunia terdengar bergetar, lagi lagi ketakutan menghantuinya.


"Saya tak tau pasti pak" Bu Ira menjawab singkat hingga membuat Dunia semakin gelisah. Pembicaraan mereka terputus karena guru guru lain mulai berdatangan. Dalam sekejap suasana ruangan telah ramai dan kesibukan kembali berjalan. Tak seorangpun menyadari aura wajah Dunia yang berubah, ia gelisah dan tak tenang.


.


.

__ADS_1


.


Hari berlalu, perkembangan hubungan Dunia dengan keluarga Lufita masih belum ada perubahan. Hanya interaksi biasa tanpa ada sesuatu yang berarti.


Dunia melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan kelas dimana Lufita berada. Hatinya sangat bersemangat karena tujuan utamanya mengajar di sekolah itu adalah hanya untuk mendekati Lufita. Namun demi menjaga situasi tidak mencurigakan, Dunia terpaksa harus mengajar di seluruh kelas tiga tanpa terkecuali, ia harus bersikap adil.


Seperti kebiasaan awal, Dunia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan menyapa murid murid yang telah duduk rapi di kelasnya. Matanya terpaku ke sebuah kursi kosong di bagian belakang. Kursi yang biasanya dipakai oleh Lufita, kini tak berpenghuni.


"Deg.." Dunia gelisah karena siswi incarannya tak ada di kelas.


Dunia berusaha mengatur emosinya yang berkecamuk, ia tak ingin tampak terlalu memberi perhatian lebih kepada Lufita, karena bagaimanapun lingkungan tempatnya berada saat ini adalah lingkungan sekolah, ada hati murid murid lain yang harus dijaganya.


Dunia mengabsen satu persatu muridnya hingga sampai pada nama Lufita Mustika Putri.


"Fita izin sakit pak" beberapa orang murid menyahut panggilan dari Dunia.


"Sakit? Fita sakit apa?" rasa penasaran pria itu semakin menjadi.


"Ya biasa pak, dalam sebulan dia pasti libur sakit satu atau dua hari" Mia nyeletuk menjawab pertanyaan Dunia.


"Setiap bulan selalu izin sakit?" Dunia kembali mengulangi pernyataan Mia.


"Iya pak, dia kan punya penyakit menular" Mia berkata dengan ekspresi seolah Fita adalah makhluk menjijikkan. Wajah Dunia memerah menahan amarah. Dia tak suka cara Mia mengejek Lufita seperti itu.


Dunia bergegas keluar ruangan kelas. Ia takut tak bisa mengendalikan diri. Dunia tak mempedulikan tatapan dari murid muridnya yang kebingungan melihat sikapnya yang tak profesional.

__ADS_1


Tanpa pamit kepada siapapun, Dunia bergegas pulang ke rumah, ia ingin memastikan keadaan Lufita.


__ADS_2