Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Mari bicara


__ADS_3

"Siapa yang bilang aku marah?" Dunia memulai pembicaraan.


"Jangan gampang bersedih Fita, hidup ini sangat indah, kita harus mensyukurinya" Dunia memberi sebuah nasihat kepada Fita.


"Maaf tuan, apa anda apa yang saya alami?, saya punya penyakit menular, apa anda gak takut tersentuh saya?" dengan polos Fita bertanya kepada Dunia.


"Tidak sama sekali, bahkan jika diijinkan, aku mau melakukannya sekali lagi" dengan jujur Dunia mengungkapkan apa yang ia rasa.


"Boleh aku tau kau sakit apa?" Dunia ingin memastikan kecurigaannya.


"Terimakasih atas pengertiannya tuan. Saya lega anda tak terganggu dengan insiden tadi siang. Maaf saya harus segera masuk" Fita merasa harus menghentikan obrolan ini. Ia tak ingin pria di hadapannya ini mengetahui lebih dalam apa yang terjadi dalam hidupnya.


"Fita tunggu, bolehkah saya mengenal mu lebih jauh?" dengan tanpa disadari ucapan itu meluncur dari mulut Dunia.


"Jangan tuan, seperti ini saja, saya ini wanita kotor" sambil berjalan tergesa Lufita menanggapi ucapan Dunia. Air matanya kembali mengalir. Ia tak suka perasaan seperti ini. Ia kembali mengingat betapa kelamnya masa lalu, betapa tak berharganya dirinya saat ini.


Dunia terdiam tak percaya atas ucapan Lufita. Tajam dan begitu menusuk hatinya. Kepergian Lufita terus ditatapnya hingga gadis itu menghilang di balik pintu.


.

__ADS_1


.


.


Malam masih panjang. Dunia tak bisa memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat. Ia terus terngiang ngiang ucapan Lufita yang berkata kalau ia kotor dan tak pantas.


"Lavender beauty" .


Sebuah petunjuk yang tadi didapatnya dari Bu Rima sebelum berpamitan membuat Dunia bergegas menyalakan laptopnya.


Berkat kelihaiannya memancing Bu Rima bercerita, akhirnya Dunia tau kalau saat masih di Jakarta dulu, Fita pernah memenangkan lomba karya tulis membuat sebuah novel. Namun identitasnya selalu disembunyikan lewat sebuah nama pena bernama Lavender Beauty.


Aura wajah Bu Rima begitu berbinar saat tadi sore menceritakan mengenai prestasi putri semata wayangnya itu. Dunia merasa bersalah dalam dirinya melihat kondisi wanita paruh baya itu sekarang. Karena ulah kakak kandungnya, wanita bersahaja itu harus menanggung kesedihan melihat nasib anaknya sepanjang sisa hidupnya.


Dunia mulai berselancar di dunia maya. Ia tak menemukan satu artikel pun mengenai karya tulis yang dibuat oleh gadis itu. Yang muncul di layar laptopnya hanyalah artikel mengenai cara merawat kecantikan dan artikel ringan lainnya.


"Kenapa tak ada satupun yang bisa kutemui?" Dunia bermonolog sendiri di depan benda pipih itu.


Dunia nyaris putus asa. Hampir satu jam ia berselancar di dunia maya. Rasanya semua aplikasi pencarian data dan informasi terbesar sudah dicobanya. Namun hasilnya nihil.

__ADS_1


"Huffttt..." sebuah helaan nafas berat lepas dari paru parunya.


"Udah hampir jam satu malam, sebaiknya aku paksakan tidur, besok pagi aku harus mengisi materi di kelas Fita" lagi lagi Dunia bermonolog sendiri.


Sebelum Dunia menutup seluruh aplikasi yang dibukanya di laptop, tiba tiba sebuah iklan mengenai kesuksesan seorang blogger ternama muncul di berandanya.


"Berbagi kisah hidup dengan orang orang terdekat mu" begitulah bunyi iklan yang muncul tersebut.


Dunia merasa tertarik menelusuri lebih lanjut iklan tersebut. Ia merasa sebuah petunjuk dihadirkan oleh sang Maha Kuasa lewat iklan yang tiba tiba muncul itu.


Rasa kantuk yang tadi melanda seketika hilang. Tubuh pemuda itu terasa begitu segar. Ia bersemangat untuk membuka aplikasi pencarian blogger blogger ternama. Ia berharap dapat menemukan seorang blogger cantik misterius yang bernama Lavender Beauty.


"Zzz....zzzz".


Benda pipih canggih keluaran terbaru berlogo buah digigit setengah itu tiba tiba mendesis. Sebagian layarnya berwarna merah keunguan, sebelum akhirnya layarnya gelap total. Laptop yang menjadi sumber harapan pria itu rusak.


"Shitt" Dunia mengumpat.


Ia ingat kalau tadi siang laptop itu tersiram air kopi panas dan belum sempat ia cek. Awalnya ia berharap akan baik baik saja, namun sekarang, saat ia benar benar membutuhkan benda itu, justru malah tak dapat digunakan.

__ADS_1


"Arghhh" Dunia kesal sendiri, dengan gerakan kasar ia menutup benda pipih itu dan meletakkannya di atas meja di sebelah ranjang.


"Besok aku akan mendapatkan informasi itu" tekadnya begitu kuat. Pikirannya terus menerawang sebelum akhirnya rasa kantuk kembali menyerang. Kali ini sangat kuat hingga tak dapat lagi ditahan. Dunia terlelap dengan tubuh dan pikiran yang lelah.


__ADS_2