
"Ibu sadar dengan apa yang baru saja ibu ucapkan?" Dunia kembali mengulang pertanyaannya.
"Fita mendapatkan penyakit itu dari siapa Bu?, ia menderita selama ini dan menjalani kehidupan tak seperti orang lain pada umumnya itu karena siapa Bu?" Dunia benar benar berusaha mengendalikan amarahnya.
"Itu semua karena perbuatan kak Langit Bu. Perbuatan putra kesayangan ibu" tangis Dunia pecah. Hatinya sakit saat mengingat kembali kebiadaban kakak kandungnya itu.
"Belum tentu Langit melakukannya sendiri. Bisa saja perbuatan menjijikkan itu dilakukan rame rame. Jadi gak sepenuhnya salah Langit" Bu Bintang beralibi.
"Astaghfirullah ibu, sadar Bu, ucapan ibu sangat menyakitkan" Dunia benar benar tak mengenali siapa wanita di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Sudahlah, ibu tak mau berdebat. Secepatnya urus kepulangan kita" Bu Bintang menghentikan perdebatan dan berlalu meninggalkan Dunia yang dilanda emosi tingkat tinggi.
Baru saja Dunia hendak berbalik kembali ke meja kerja sementaranya, sebuah ketakutan terbesar yang selama ini menghantuinya baru saja muncul. Fita berdiri di depan pintu dengan linangan air matanya dan memegangi dadanya. Sepertinya gadis itu tengah menahan sesak teramat sangat.
"Ya Allah" Dunia gelagapan. Ia tak bisa memastikan apakah semua perdebatan yang baru saja terjadi antara ia dan sang ibu didengar oleh Fita. Dunia lupa bahwa saat ini ia berada di sebuah rumah desa berdinding kayu yang tak cukup luas. Suara yang sedikit kencang bisa terdengar sangat jelas oleh orang lain yang berada di sekitar. Dan tadi saat bersama sang ibu nada suaranya sempat meninggi beberapa kali.
"Aku bisa jelaskan Fita. Tolong dengarkan penjelasan ku" Dunia memohon kepada wanita itu. Ia benar benar sangat ketakutan saat ini. Mimpi buruknya baru saja dimulai.
"Jahat, kalian orang jahat"
__ADS_1
Brughhhh...gadis itu pingsan sesaat setelah mengeluarkan kata kata itu. Dunia gerak cepat dengan menangkap tubuh kecil itu sebelum mendarat dengan keras di lantai.
Dunia semakin panik saat ia hendak mengangkat tubuh Fita, tubuh gadis itu mengejang dengan hebat. Seluruh tubuhnya bergetar tak terkendali. "Tidak, Fita bertahanlah" Dunia histeris dan berlari membopong tubuh Fita menuju keluar rumah.
Masalah baru muncul. Dunia tak mendapatkan mobil yang bisa digunakannya untuk membawa Fita secepatnya ke rumah sakit. Di desa ini sangat jarang warga yang memiliki mobil pribadi. Beberapa tetangga yang mendengar keributan di rumah Fita berinisiatif ke rumah kepala desa untuk meminjam mobilnya. Hanya kepala desalah yang memiliki kendaraan roda empat itu. Sementara menunggu, Dunia terus memastikan kondisi Fita. Ia menahan agar lidah gadis itu tak tergigit oleh giginya sendiri dengan cara memasukkan jarinya ke dalam mulut Fita. Ia menahan sakit saat Fita tanpa sadar mengigit nya. Kondisi kejang merupakan salah satu respon dari tubuh seseorang dengan penyakit ini apabila sebuah tekanan di bagian syarafnya terjadi. Dan Dunia paham kondisi ini karena beberapa kali juga terjadi pada mendiang kakaknya Langit.
Tak sampai sepuluh menit mobil telah sampai dan siap membawa Fita ke rumah sakti terdekat. Sungguh sepuluh menit yang sangat lama bagi Dunia saat itu. Pikiran buruknya berkecamuk. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi dengan gadis di pangkuannya saat ini. Akankah secepat ini semuanya berakhir, ia belum mampu mendapatkan hati gadis itu, bahkan ia belum berjuang sama sekali.
"Fita, ini belum saatnya. Masih ada banyak hal yang mau aku lakukan untuk menebus semua kesalahan ini. Bertahanlah Fita, aku mohon" Dunia terus memberikan afirmasi positif di telinga gadis lemah itu sepanjang perjalanan. Pelukan hangat yang diberikannya kepada tubuh gadis itu mampu meredam kejang yang sempat berlangsung beberapa kali. Saat ini tubuh Fita hanya terkulai lemas dengan kondisi setengah sadar. Ia sadar bahwa saat ini ada seorang pria yang memeluknya namun tak mempunyai kemampuan sedikitpun untuk menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1