Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Cerita Wiryo


__ADS_3

Dunia mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan. Semua ucapan Bu Rima benar. Dunia melakukan kesalahan yang tak disengaja dan ia sangat menyesalinya.


"Sebaiknya anda meninggalkan tempat ini tuan. Fokuslah untuk tujuan awal anda ke desa ini, urusan Fita biar menjadi tugas saya" Bu Rima mengakhiri kalimat panjangnya. Wanita paruh baya itu melangkah masuk kembali kedalam rumah. Meninggalkan Dunia sendirian dalam penyesalannya.


"Arghhh" Dunia mengepal tangan menahan amarah atas kebodohannya.


"Drttt..drtttt" getaran ponsel mengembalikan Dunia ke alam nyata. Perlahan Dunia melangkah menjauh meninggalkan teras rumah Fita. Suasana hati yang tadinya bersemangat menggebu gebu berubah menjadi suram dan kelabu.


"Bos, cek email sekarang" pesan singkat dari Zayn sang asisten dibaca Dunia dengan malas, ia mengabaikan pesan itu dan kembali menyimpan ponsel kedalam kantong celana.


Dunia berjalan kaki menyusuri jalanan desa yang lembab sisa hujan berhari hari. Dunia berjalan tak tentu arah, hanya mengikuti langkah kakinya hendak kemana. Beberapa orang yang berpapasan dan menyapanya diabaikan begitu saja. Ia larut dalam pikirannya sendiri.


Hingga sampailah Dunia di kolam air terjun indah yang dulu sempat disinggahinya bersama Lufita. Sedikit kenangan manis perlahan muncul. Di tempat ini Fita melepaskan senyumannya. Senyuman yang membuat hati Dunia bergetar. Senyuman yang tak pernah bisa dilupakan pria itu. Dan senyuman yang membuat Dunia yakin akan perasaannya, perasaan cinta. Ya, Dunia jatuh cinta, iya jatuh cinta kepada Fita, gadis sederhana nan malang.

__ADS_1


"Halo tuan Dunia" sebuah suara menyapa Dunia yang sedang melamun di pinggir kolam.


Dunia mendongakkan kepala melihat siapa yang berbicara dengannya.


"Hai Wiryo" Dunia melempar senyum kepada bocah anak kepala desa yang pernah ditemuinya beberapa kali di desa ini. Dunia bahkan pernah meminjam sepeda Wiryo saat terburu buru mencari keberadaan Fita di puskesmas kala itu.


"Ngapain disini?" Dunia mengajak Wiryo mengobrol. Anak ini sangat ramah dan Dunia cukup akrab dengannya.


"Mau memancing" Wiryo menjawab sembari tangannya sibuk mengeluarkan peralatan yang akan digunakannya untuk memancing.


"Sendirian lebih enak tuan, bisa santai dan semau kita, gak ada yang atur" Wiryo menanggapi ucapan Dunia.


"Biasanya kalo kak Fita gak sakit, dia pasti mau menemani aku mancing disini, dia senang lihat ikan" Wiryo mulai berceloteh.

__ADS_1


Yang tak Wiryo sadari, ia membahas seorang gadis yang kebetulan sedang dipikirkan oleh lawan bicaranya.


"Fita itu seperti apa orangnya? apakah ia selalu murung begitu?" Dunia mulai menggali informasi lewat pemuda polos ini.


"Kak Fita orang baik, dia selalu ikut membantu acara apapun yang diadakan pemuda desa disini. Walaupun selalu memakai penutup wajah dan sarung tangan. Itu menjadi ciri khas kak Fita, misterius dan cantik, hahaha" Wiryo bercerita dengan tingkah menggemaskan.


Dunia tersenyum mendengar cerita dari Wiryo. Setidaknya selama ini Fita tak mengurung diri seperti apa yang dibayangkan pikirannya.


"Kata orang orang disini, kak Fita punya penyakit berbahaya, makanya dia gak boleh terkena debu dan kotoran bisa infeksi" Wiryo kembali menambahkan.


Dunia mengangguk setuju atas apa yang diucapkan Wiryo.


"Apa kamu tau apa penyakitnya?" Dunia mencoba memancing.

__ADS_1


"Entahlah, tak tau" Wiryo menggelengkan kepala, ia kembali fokus kearah pancingannya.


"Jagain kak Fita terus ya, bantuin dia kalau dalam kesulitan. Dia gadis baik baik" Dunia mengusap punggung Wiryo sembari menyampaikan pesan.


__ADS_2