Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Waktu untuk tenang part 3


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu. Tak ada hal yang berarti yang terjadi dalam kehidupan Dunia ataupun Fita. Semua berjalan seperti biasa.


Pagi ini Dunia menyempatkan waktu untuk kembali mengunjungi makam sang kakak. Rencananya sebelum ke kantor Dunia akan singgah sebentar ke pemakaman.


"Pagi Bu" Dunia menyapa wanita paruh baya yang sangat dihormatinya itu, tak lupa ia mengecup kening sang ibu. Saat ini Bu Bintang tengah menunggu putranya itu untuk makan bersama di ruang makan. Setelah kepergian Langit, Dunia sangat mengutamakan waktu berkualitas untuk sang ibu. Setiap pagi Dunia menemani wanita itu makan bersama, sesibuk apapun pekerjaan di kantor.


"Bu, hari ini aku mau ke makam" Dunia memulai obrolan disela kegiatan makan mereka.


"Pergilah, sampaikan salam ibu buat kakakmu ya" Bu Bintang tersenyum senang mendengar rencana sang putra.


"Ibu mau ikut sekalian?" Dunia mencoba mengajak.


"Lain waktu ya nak, ibu mau istirahat hari ini, kepala ibu terasa berat sekali" Bu Bintang menolak ajakan putranya itu dan menjelaskan alasannya.


"Ibu sakit?, kita ke dokter saja ya, atau mau ku panggilkan dokter" Dunia sangat khawatir. Memang setelah kepergian Langit kondisi kesehatan Bu Bintang naik turun. Ia lebih sering sakit dan lelah. Dunia memahami hal itu dan karena hal itu jugalah ia memutuskan untuk selalu menyempatkan waktu lebih banyak untuk ibunya itu.


"Ibu cuma mau istirahat nak" Bu Bintang terharu dengan perhatian sang putra. Ia tak ingin membuat Dunia bertambah khawatir.

__ADS_1


"Ibu yakin mau aku tinggal?" Dunia mencoba memastikan sekali lagi kondisi wanita kesayangannya itu.


"Iya" Bu Bintang menjawab singkat dengan gerakan mengangguk, seulas senyuman diberikan untuk membuat putranya itu tenang.


"Baiklah Bu, nanti kalau butuh apapun panggil Bi Narti ya" Dunia mengingatkan apa saja hal yang harus dilakukan.


"Iya sayang, tenanglah" Bu Bintang mengusap lembut baju sang anak untuk menenangkannya.


.


.


.


Dunia seolah telah memiliki rutinitas khusus sebelum memulai harinya yang sibuk di kantor.


Ia akan mampir ke mesjid yang berada di dekat kantornya untuk melaksanakan ibadah sunah. Dan secara kebetulan karena hari ini ia memiliki waktu cukup banyak, pemuda tampan itu bermaksud mengunjungi sebuah kedai milik bapak tua yang beberapa waktu lalu berkenalan dengannya di mesjid. Ia menempati janjinya untuk berkunjung.

__ADS_1


Dunia melajukan mobilnya ke tempat yang akan dituju. Ia terbiasa menyetor sendiri kendaraannya. Zayn sang asisten hanya disuruh menemani disaat tertentu saja, selebihnya Dunia merasa nyaman melakukan segala sesuatu sendiri. Sedikit sifat introvert yang terpendam dalam diri pemuda itu.


"Assalamualaikum pak Haji" Dunia menyapa Pria berpeci yang tengah sibuk merawat tanaman herbal di sebuah pot di depannya.


"Waalaikumsalam" Pak Syaiban menoleh kearah sumber suara yang mengucapkan salam kepadanya.


"Masih ingat dengan saya pak?" Dunia menyapa dengan ramah.


"Tentu saja, tentu saya masih ingat, kamu pemuda yang punya nama sangat unik, Dunia, benarkan?" Pak Syaiban menjawab pertanyaan Dunia.


Seketika Dunia tersenyum mendengar celotehan pria paruh baya itu. Entah mengapa ia selalu merasa nyaman saat mengobrol dengan pria itu.


"Apa saya mengganggu?" Dunia kembali membuka obrolan dengan ramah.


"Tidak sama sekali, orang tua seperti saya ini merasa sangat senang sekali dikunjungi" pak Syaiban bersemangat menjawab pertanyaan Dunia.


Dunia mengangguk setuju dengan ucapan pak Syaiban. Ia senang dengan sambutan tak berlebihan yang diberikan. Dunia melirik jam tangannya dan bergumam sendiri, "masih ada satu jam sebelum ke makam kak Langit".

__ADS_1


Segera pria itu menarik kursi yang ada di dekatnya, pria itu duduk tanpa dipersilahkan tuan rumah yang masih sibuk mengurus tanaman obat obatannya.


__ADS_2