Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Langit meninggal


__ADS_3

Sore hari di kediaman Dunia


"Drttt...drttt"


Ponsel Dunia berkali kali bergetar pertanda ada hal penting yang ingin disampaikan seseorang.


Dengan terpaksa Dunia merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel di dalamnya.


"Zayn" Dunia mendesis kesal.


"Pasti urusan kantor yang akan dibicarakannya" pria itu bergumam sendiri.


"Kondisi Langit drop, segera kembali" sebuah pesan mengejutkan Dunia. Pesan dari sang ibu muncul diantara puluhan notifikasi ponselnya.


Dunia segera menghubungi ponsel sang ibu, namun beberapa kali mencoba tak berhasil. Ponsel sang ibu tak lagi aktif.


Dengan panik, pria itu menghubungi Zayn yang ditugaskan menjaga ibu dan kakaknya selama ia di desa.


"Apa yang terjadi?, ada apa dengan kak Langit?" Dunia memberikan pertanyaan bertubi tubi kepada sang asisten begitu telpon tersambung.

__ADS_1


"Makanya kalo gue telpon diangkat" Zayn dengan kesal menanggapi pertanyaan bos besarnya itu.


"Tuan Langit tak menunjukkan respon kesadaran. Dokter menunggu persetujuan pihak keluarga untuk mencabut alat bantu nafasnya. Setelah prosedur itu dilakukan, kita harus siap dengan hal buruk yang akan terjadi" Zayn menjelaskan dengan sangat hati hati.


"Hufttt" Dunia menghela nafas berat. Otaknya mencerna dengan cepat bagaimana kelanjutan kalimat asistennya itu.


"Jemput gue sekarang" Dunia mengambil keputusan.


.


.


.


Ia dan sang ibu beserta beberapa orang kerabat lainnya berada di ruangan perawatan saat dokter melepas satu persatu alat bantu kehidupan pria bernama Langit itu.


"Maaf gue belum bisa menjalankan tugas dengan baik. Gue belum berhasil mendapatkan maaf dari gadis itu. Tapi tenanglah gue gak akan menyerah, demi loe bang, gue akan terus perjuangkan dia" Dunia berbisik di telinga Langit yang terbaring diam di ranjang perawatannya.


Lantunan ayat suci dan doa bergema di seluruh penjuru ruangan itu. Bu Bintang yang berada di samping tubuh anak sulungnya itu nampak tegar. Ia terus membisikkan nama Allah di telinga Langit agar pria itu dapat mendengar semua yang terbaik di sisa umurnya.

__ADS_1


Secara medis, Langit Prakarsa masih dinyatakan hidup, namun tak ada lagi yang dapat dilakukan. Tim medis hanya bisa memantau dan menunggu detik detik kematiannya.


.


.


.


Jakarta, 03.00 wib


Setelah hampir enam jam alat penunjang kehidupannya dilepas, akhirnya Bintang Prakarsa dinyatakan meninggal dunia. Tangis duka sekaligus lega bercampur di area rumah sakit.


Sebagai salah satu keluarga petinggi di kota ini, maka prosedur keamanan untuk para pelayat yang berkunjung telah disiapkan sedemikian rupa. Kabar berita pun dengan cepat telah menyebar ke seluruh penjuru kota. Kolega bisnis dan kerabat jauh pun perlahan mulai berdatangan memberikan support untuk Dunia dan sang ibu yang tengah berduka.


Zayn tentu saja menjadi orang yang paling sibuk mengatur semuanya. Dunia tak salah mempercayakan sahabatnya itu untuk menjadi asisten andalan. Semua diselesaikan dengan sempurna oleh pemuda itu.


"Istirahat sebentar saja ma, Dunia jagain" pria yang sedang berduka itu terus membujuk sang ibu yang tampak kelelahan untuk beristirahat. Sebuah ruangan khusus untuk keluarga inti telah disiapkan di area rumah sakit.


Bu Bintang yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di bahu Dunia kini mengangkat kepala. Ia memandang dalam kedua bola mata putranya yang kini tinggal satu satunya itu.

__ADS_1


"Mama takut", suara wanita itu begitu lirih. Isak tangis kembali pecah.


__ADS_2