
"Aku sangat ingin memiliki perlengkapan desain lengkap".
Catatan pertama yang ditandai oleh Dunia. Sebuah rencana sudah diproses di dalam otaknya.
.
.
.
Pemuda tampan itu terbangun saat matahari telah berada di tengah bumi. Wajar jika ia terbangun begitu siang, karena semalaman membaca lembar demi lembar halaman tulisan milik Fita. Ia seolah tersihir untuk terus membaca semua yang ada didalam blog itu. Hingga saat kumandang adzan subuh bersahutan Dunia baru tersadar, segera ia menjalankan kewajiban ibadahnya dan selanjutnya tertidur pulas.
Dunia menandai beberapa hal yang akan dilakukannya hari ini. Hal pertama yang dilakukannya adalah menghubungi sang asisten. Dunia meminta orang kepercayaannya itu untuk segera datang kerumah. Zayn tak kuasa menolak permintaan atasan sekaligus sahabatnya itu. Meskipun hari liburnya terganggu karena perintah mendadak ini.
"Ada apa sih, gue gak pernah disuruh kerja di hari libur gini sama bokap gue" Zayn meluapkan kekesalannya.
"Gak ada urusan sama bokap loe, cepat kesini" Dunia menutup sambungan telepon seenaknya, tak memperdulikan protes dari Zayn.
Tak menunggu lama, Zayn yang memang memiliki loyalitas tinggi datang menemui sang atasan. Ia langsung masuk kedalam kamar Dunia setelah mendapatkan izin dari Bu Bintang yang tadi menyambutnya diruang tamu. Secara kebetulan, wanita paruh baya itu sedang merawat tanaman hias yang memenuhi ruangan tamu dan terasnya.
__ADS_1
"Halo bos" Zayn menyapa. Tak terlihat tulus sama sekali. Ia datang dengan rasa kesal yang memuncak.
"Pesan secepatnya peralatan desainer pemula, pastikan barangnya berkualitas dan lengkap" tanpa basa basi Dunia memberi perintah Zayn.
Zayn mengernyitkan dahi berusaha mencerna perintah yang baru saja didengarnya.
"Peralatan desainer? jahit menjahit?" Zayn mencoba memastikan.
"Yes, desainer" Dunia menjawab singkat. Ia terus fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya. Ia tak mempedulikan reaksi kebingungan Zayn.
"Pastikan sore ini sudah bisa dikirim ke desa, tepatnya Lufita konveksi" Dunia memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Pantas semalam Lila si cewek seksi yang godain loe ditolak" Zayn menggoda Dunia.
"Jangan terlalu banyak bicara, kerjakan urusan loe sekarang!" Dunia memasang mode galak. Mengingat kembali wanita genit yang menggodanya tadi malam membuat Dunia sedikit kesal.
"Astaga, orang lagi kasmaran gini amat ya, gak bisa diajak becanda" Zayn menggerutu sembari berlalu meninggalkan kamar Dunia. Diikuti dengan tatapan tajam dari Dunia.
.
__ADS_1
.
.
Sore hari menjelang.
Sepanjang hari itu Dunia fokus dengan rencana yang sedang disusunnya. Ia bahkan tak keluar kamar sama sekali. Beberapa kali asisten rumah tangga mengantarkan makanan kepadanya untuk memastikan kondisinya aman, tentu saja atas perintah sang ibu. Bu Bintang beranggapan kalau Dunia tengah serius mengerjakan sebuah proyek pekerjaan. Karena itu ia memilih tak mengganggu putra kesayangannya itu. Ia hanya memastikan putranya itu tetap makan dan istirahat yang cukup.
.
.
.
"Barang siap dikirim, mau ditulis apa nih?" sebuah pesan masuk ke ponsel Dunia. Pesan dari Zayn sang asisten handal.
Dunia berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk tak menulis apapun. Fita tak boleh mengetahui apa rencananya. Biarlah semua menjadi rahasia. Dunia telah mempersiapkan seolah olah semua benda impian Fita itu adalah bantuan dari kepala desa.
"Pastikan dikirim ke alamat kepala desa" Dunia hanya membalas singkat pesan Zayn.
__ADS_1
Sebuah harapan tulus dikirim Dunia bersama dengan benda itu. "Semoga kamu menyukainya Fita".