Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Guru dan murid


__ADS_3

Malam tengah sangat larut. Dunia terlelap di kursi teras tempat sebelumnya iya memantau Lufita. Serangan nyamuk yang brutal akhirnya menyadarkan Dunia dan ia berpindah kedalam rumah. Pria tampan itu kembali tidur lelap di kasir tipis lusuhnya.


Tokkk...tokkk...


Suara pintu diketuk dari luar membangunkan Dunia dari mimpi indah. Pemuda itu menggeliat sekejap sebelum akhirnya berjalan melangkah kearah pintu.


Deg...


Jantung Dunia kembali berdetak tak karuan saat mendapati siapa yang tadi mengetuk pintunya. Lufita berada di jarak yang sangat dekat dengannya kini.


"Maaf tuan, ibu mengirimkan makanan ini untuk anda, untuk sarapan" Lufita menyerahkan rantang yang dipegangnya. Penampilan Lufita sudah kembali seperti semula, menggunakan masker penutup wajah, kacamata serta sarung tangan karet berwarna putih, tak lupa sebuah hoodie menutupi rambut hitamnya.


"Te...terimakasih" Dunia tak menemukan kata kata lain saat menerima rantang pemberian gadis itu.


Lufita mengangguk dan berjalan kembali ke rumahnya.


"Matanya sangat indah" Dunia kembali terpesona.


"Arghhhh" pria itu mengacak acak rambutnya sendiri. Ia tak kuasa mengendalikan debaran jantungnya. Sepagi ini ia sudah mendapatkan serangan fajar.


.


.


.


Makanan menggugah selera yang dikirimkan oleh Lufita tadi sangat membantu Dunia mempersiapkan harinya. Ia bersiap memulai hari baru sebagai guru tamu spesial yang akan mengajar di sekolah Lufita.


Saat membuka pintu rumahnya, Dunia kembali berpapasan dengan Lufita. Gadis itu sepertinya juga akan berangkat ke sekolah. Ia menggunakan motor matic sederhana.


Lufita hanya menunduk sopan saat bertemu dengan Dunia. Ia segera menstarter motornya dan berlalu dari pandangan pria itu.


Sementara itu Dunia menyempatkan diri mampir ke rumah Bu Rima. Ia bermaksud mengembalikan rantang dan mengorek sedikit informasi tentang Lufita.


"Selamat pagi Bu, saya kesini untuk mengembalikan rantang ini, dan sekaligus saya ingin berlangganan catering dengan ibu selama saya berada di desa ini" Dunia mengutarakan niatnya.


"Maaf tuan, makanan yang saya buat hanya makanan kampung, apakah pantas untuk anda?" Bu Rima merasa sangat tersanjung dengan permintaan tuan kaya raya itu.

__ADS_1


"Justru saya sangat menikmati masakan buatan ibu, sangat nikmat" Dunia memuji dengan tulus.


"Baiklah tuan, jika itu kemauan anda, saya akan siapkan" Bu Rima memenuhi permintaan tuan muda itu. Mulai pagi itu resmilah Dunia semakin dekat dengan keluarga Lufita.


.


.


.


Suasana kelas Lufita.


"Selamat pagi anak anak, hari ini ada pengumuman penting. Sekolah kita kedatangan guru tamu yang akan mengajar mata pelajaran bisnis" kepala sekolah yang masuk ke ruangan kelas memberikan informasi.


Suasana kelas langsung riuh melihat seorang pria tampan maksimal berdiri di depan kelas berdampingan dengan kepala sekolah.


"Ya ampun, apakah ini yang dinamakan surga?" seorang murid perempuan mengeluarkan celetukan menggoda Dunia. Ya pria tampan itu adalah Dunia.


Semua murid tertawa mendengarnya, kecuali satu orang. Siswi yang penampilannya tampak mencolok karena berbeda dari yang lain. Siswi yang duduk di bagian paling belakang dengan Hoodie serta alat pelindung dirinya. Ia adalah Lufita, Dunia tau pasti.


Lufita hanya menunduk tampak tak peduli dengan apa yang sedang dibahas teman temannya. Ekspresi wajahnya tak terlihat karena masker di wajahnya itu.


"Nama saya Dunia prakarsa, kalian bisa panggil saya Dunia" pria itu memulai perkenalannya sembari matanya terus fokus menatap Lufita.


"Uuuuu,,,Duniaku" para gadis di kelas kembali menggoda.


"Pak izinkan saya menjadi penghuni abadi Dunia" seorang murid perempuan kembali menggoda guru baru yang tampan itu. Dunia hanya tersenyum tipis mendengar godaan demi godaan yang didapatnya. Sebagai makhluk yang terlahir tampan, ia terbiasa dari dulu menjadi pusat gombalan gadis gadis.


.


.


.


Setelah perkenalan Dunia di hadapan murid muridnya, kini saatnya pria itu mengambil alih kelas. Aksi pertama Dunia adalah meminta semua murid di kelas itu memperkenalkan diri.


Satu persatu murid memperkenalkan diri. Nama panjang, panggilan serta hobi menjadi fokus utama. Tibalah saatnya kini giliran murid perempuan memakai hoodie berwarna hitam itu memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya Lufita Mustika Putri, bisa dipanggil dengan Lufita" gadis itu memulai gilirannya.


"Hai Lufita" Dunia antusias menyapa dengan senyum sumringah.


Lufita membalas senyum Dunia dengan sikap sopan dan kembali duduk.


"Apa hobi kamu, belum disebutkan" Dunia terus mencari celah untuk berbicara dengan Lufita.


"Fita hobinya menyendiri pak" beberapa orang siswa menanggapi pertanyaan itu. Sementara Lufita sendiri tampak cuek tak peduli.


Dunia terdiam, bingung bagaimana harus bersikap, hingga akhirnya ia meminta murid yang lain melanjutkan perkenalan diri.


.


.


.


Step pertama berbaur di dalam kelas bersama Lufita telah dilaksanakan dengan baik oleh Dunia. Berdasarkan kuasa yang dimilikinya atas yayasan sekolah itu, ia bisa dengan bebas menentukan jadwal mengajarnya. Dan siang ini ia memilih untuk menyudahi urusannya di sekolah. Ia segera pulang kembali ke rumah.


"Selamat siang Bu" Dunia menyapa Bu Rima yang sedang sibuk dengan usaha konveksi nya. Ada beberapa bahan pakaian menumpuk di meja kerjanya.


"Eh tuan Dunia, anda sudah kembali" Bu Rima tampak kaget.


"Wah lagi sibuk rupanya" Dunia duduk di sebuah kursi di samping meja kerja Bu Rima.


"Alhamdulillah tuan, semua kain kain ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kami serta biaya pengobatan untuk Lufita" Bu Rima tak sengaja membocorkan informasi penting.


"Obat Lufita?, sakit apa Bu?" Dunia terkejut dengan penuturan polos Bu Rima.


"Oh itu, ada sebuah virus di tubuhnya" Bu Rima gugup. ia hanya menjawab secara umum dengan pertanyaan Dunia.


"Apa yang sedang dialaminya?" Dunia membatin sendiri. Ia tak berani melanjutkan bertanya kepada Bu Rima karena wanita itu tampak tak nyaman.


"Maaf Tuan, apa anda mau makan siang sekarang, biar saya siapkan" Bu Rima mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Dunia kembali membahas mengenai penyakit putrinya.


"Nanti saja Bu, saya belum terlalu lapar, kalau boleh nanti kita makan siang bersama sekalian dengan Lufita saat ia pulang sekolah" Dunia sangat berharap.

__ADS_1


"Baiklah tuan, saya akan melanjutkan pekerjaan saya terlebih dahulu" Bu Rima pamit dan berpindah ke meja lain bagian pemotongan kain. Dunia hanya memperhatikan dari jauh. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang membingungkan.


__ADS_2