Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Waktu untuk tenang part 2


__ADS_3

"Fita, apa kabar?" sebuah suara menyapa Fita di jam istirahat. Gadis yang tengah sibuk membaca buku ini menoleh sejenak kearah sumber suara.


"Hai Andra" Fita mengenali siapa yang menyapanya. Dialah Andra, anak baru yang beberapa waktu ini menjadi temannya di sekolah.


"Gimana kondisi kamu? dengar dengar dari teman sekelas katanya kamu sakit ya?" Andra memulai obrolan.


"Aku baik kok, sudah gak sakit lagi" Fita menjawab pertanyaan Andra dengan singkat.


"Oh syukurlah kalau begitu, baru saja hari ini aku berniat mengunjungi rumahmu untuk melihat kau sakit apa" Andra menjelaskan.


"Tak perlu repot, aku sering begini, sakit tiba tiba dan tak masuk sekolah berhari hari, lama kelamaan kau akan terbiasa melihat kondisiku" Fita menjelaskan kondisinya dengan santai.

__ADS_1


Andra yang sebenarnya mengetahui kondisi Fita hanya bisa memasang ekspresi datar. Ia tak menyangka gadis di hadapannya saat ini begitu tegar menceritakan keadaannya. Tak sedikit pun ada tingkah manja dan lemah yang ditunjukkan. Sungguh mengagumkan.


"Oh iya ini buatmu" Andra menyerahkan fotocopy catatan pelajaran yang sengaja dibuatnya untuk Lufita. Iya yakin gadis itu akan sulit mengejar ketinggalan materi yang beberapa hari ini tak diikutinya.


"Serius ini buatku?" wajah Fita tampak begitu sumringah menerima pemberian dari sahabat barunya itu.


"Iya, pasti kau sangat membutuhkannya kan?" Andra menanggapi.


"Syukurlah, terimakasih ya Andra, aku memang sangat butuh catatan ini" Fita tampak sangat bersemangat.


Sebuah senyuman terukir di wajah Andra. Pipinya bersemu merah menahan gemas melihat tingkah polos Fita.

__ADS_1


Fita memang kembali aktif di sekolah dan tak ingin memikirkan Dunia yang telah menghilang begitu saja dari desa selama beberapa hari ini. Secara tak sengaja, Fita mendengar gosip yang beredar di sekolahan kalau Dunia telah kembali ke kota dan tidak lagi mengajar di tempatnya menuntut ilmu itu.


Ada sedikit perasaan bersalah di batin Fita, sebersit tanya mengusik hatinya, apakah ini semua karena dirinya, tapi rasa itu lekas ditepisnya, Fita tak ingin memikirkan apapun saat ini. Ia akan fokus dengan pendidikan dan kesehatannya. Ia masih menyimpan asa untuk masa depan yang indah. Menjadi seorang desainer handal dengan hasil karya mendunia.


Yang tidak Fita ketahui, ribuan kilometer dari tempatnya berada saat ini ada seseorang yang terus memikirkannya. Tak sedetikpun waktu dalam hidup Dunia terlewat tanpa memikirkan Fita, ia menahan rindu.


"Tok..tok.." suara pintu ruangan diketuk dari luar membuyarkan konsentrasi Dunia. Zayn sang asisten masuk dengan setumpuk dokumen yang akan dibahas. Dunia menghela nafas melihat banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Mari kita mulai satu persatu" Zayn meletakkan dokumen yang dibawanya dan mulai bekerja. Untuk beberapa jam kedepan Dunia tak bisa diganggu, ia dalam mode slow respon untuk menyelesaikan semua yang tertunda ini.


"Hufttt.." malam menjelang. Dunia menghela nafas lega, semua pekerjaan selesai sesuai rencana. Saatnya ia kembali ke mode santai.

__ADS_1


"Sebuah pesan dari Andra" Dunia membaca layar ponselnya sekilas. Benda yang sedari tadi diabaikannya itu langsung disambar. Dunia sangat yakin ada sebuah informasi penting yang akan dibacanya.


"Deggg..." jantung Dunia berdegup kencang. Wajah Lufita yang sedang membaca buku dan diambil dari jarak cukup dekat terpampang jelas di pesan berupa foto yang dikirim Andra. Tak ada caption panjang di foto itu hanya sebuah kalimat "Dia sehat dan aman bos". Dunia mengusap wajah di foto itu, senyuman sumringah mengobati kepenatannya hari ini. Rasanya begitu bahagia saat melihat orang yang disayangi dalam keadaan baik baik saja. Segera Dunia mengganti wallpaper layar ponselnya dengan foto wajah Fita yang baru saja didapatnya itu. Sedikit rindunya terobati.


__ADS_2