
Awan gelap masih menggantung sepanjang hari di langit ibukota. Seolah ikut berduka dengan kepergian sang pemuda petualang cinta. Seorang pria yang menghabiskan hari harinya dengan pelukan dari satu wanita ke wanita lain. Seorang pria yang saat itu merasa apapun bisa dimiliki dengan kekayaan keluarganya.
.
.
.
Suasana basah semakin menambah dalam rasa sedih yang sedang dirasakan oleh seorang ibu yang kehilangan putra sulung kesayangannya.
Nyonya Bintang Prakarsa, begitulah biasanya orang orang memanggil namanya. Kehidupan sempurna yang dilihat banyak orang tak membuatnya bahagia. Putra sulung yang sangat dibanggakannya kini telah tiada. Bukan kematian lah yang ditangisi nya, namun penyebab kematian serta fakta yang terkubur bersama jasad sang putra lah yang membuatnya sangat bersedih. Ia tak henti menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Sebagai seorang ibu, dia terlalu sibuk dengan urusan sosialitanya. Ia tak memberikan waktu dan perhatian kepada anak anaknya. Ia berpikir bahwa dengan harta yang cukup maka semua kebahagiaan dapat diraihnya dengan mudah.
Kini hanya gundukan tanah merah di depan mata yang menjadi saksi bisu bagaimana sebuah jasad didalamnya telah mendapatkan karma buruk akibat perbuatannya. Langit pergi dengan membawa sakit dan penyesalan tiada tara.
Hati ibu mana yang tak hancur, anak yang seharusnya menemani di masa tua justru pergi terlebih dahulu meninggalkannya. Seharusnya sang anaklah yang mengantar orang tua ke peristirahatan terakhir. Tapi yang terjadi saat ini malah berbeda. Bu Bintang mengantar jenazah sang anak menuju peristirahatan terakhirnya. Ketakutan terus menghantui.
__ADS_1
.
.
.
Tak jauh beda dengan sang ibu.
Dunia yang setia menjaga sang ibu yang masih berdoa di samping makam Langit juga tampak begitu hancur. Dibalik kacamata hitam yang dipakainya tampak sebuah wajah lelah dan pucat. Ia tak memiliki banyak waktu untuk benar benar tidur lelap. Ia seolah dikejar oleh waktu. Ia harus mendapatkan maaf dan pengampunan dari Lufita sebelum kakaknya Langit menemui ajal. Namun ternyata semua usahanya sia sia. Ia belum berhasil mendapatkan semua itu. Langit telah pergi dengan membawa dosa besarnya. Dunia merasa gagal sebagai seorang adik untuk menyelamatkan kakaknya dari siksaan di alam kubur.
"Ma, besok kita kesini lagi ya, sekarang mama harus istirahat" Dunia berbicara lembut kepada sang ibu, membujuk wanita itu agar mau pulang ke rumah.
"Kasihan kak Langit sendirian, dia pasti kedinginan didalam sana" Bu Bintang tampak begitu sendu.
"Kita kirimkan doa ma, hanya itu yang bisa kita lakukan" Dunia kembali membujuk. Kali ini berhasil, Bu Bintang menyambut ajakan Dunia dan mereka berjalan bersama menuju mobil. Zayn dan beberapa orang kepercayaannya telah siap menunggu dan mengawal keduanya menuju rumah untuk beristirahat.
__ADS_1
"Kita ke apartemen saja, di rumah terlalu banyak orang, mama harus istirahat" Dunia memberi perintah kepada Zayn.
"Siap bos" dengan formal Zayn menanggapi perintah bosnya. Ia tak ingin mengajak bercanda untuk saat ini. Suasana hati sang nyonya dan tuan muda sedang buruk.
.
.
.
Dini hari nan sendu. Dunia masih terjaga, sepanjang malam dihabiskannya untuk berusaha memejamkan mata namun tak bisa. Sebungkus rokok dan duduk di balkon apartemen menjadi wadah pelampiasan hatinya yang kacau saat ini.
Lelah, tentu saja tubuhnya begitu lelah. Nyaris dua kali dua puluh empat jam matanya tak terpejam. Dunia tak bisa membohongi hatinya sendiri. Dia begitu takut membayangkan siksaan apa yang tengah dialami oleh sang kakak di alam sana.
Zayn sang asisten yang memang diminta menginap oleh Bu Bintang untuk menemani Dunia terus memantau keadaan pemuda itu dari ruangannya. Sebagai asisten sekaligus sahabat yang telah lama mengenal Dunia, ia sangat memahami bagaimana bersikap disaat seperti ini. Dunia butuh waktu sendirian, ia tak memerlukan orang lain saat ini, hanya waktu yang perlahan dapat merubah suasana hati pemuda itu.
__ADS_1
"Gue akan selalu ada buat jagain loe dan nyonya, meskipun gue gak terlalu memahami masalah apa yang sebenarnya terjadi, tapi orang pertama yang akan membela loe adalah gue bos" Zayn bergumam sendiri di dalam hati. Posisinya saat ini ada di belakang Dunia yang tengah duduk meringkuk di ujung balkon. Sepertinya pria itu tertidur.