
Satu Minggu berlalu. Setelah membiarkan Fita menikmati kebahagiaan dengan peralatan desainnya, belum ada suatu gebrakan lagi yang dibuat oleh Dunia. Urusan pekerjaan di kantor yang semakin padat menyita banyak waktunya.
Pagi ini, seperti biasa setelah menyelesaikan morning report bersama para staf di kantor Dunia memantau keadaan Lufita di desa. Ada sebuah firasat tak biasa yang dirasakannya.
Dan benar saja. Beberapa panggilan tak terjawab masuk di ponselnya. Salah satunya dari pak kepala desa. Dunia mengernyitkan dahi pertanda heran karena tak biasanya seorang kades itu menghubunginya sepagi ini.
"Drttt....drtttt" ....
Ponsel pria itu kembali bergetar. Nama pak kades kembali muncul di layar ponselnya. Dengan cepat Dunia mengangkat panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Duaaarrrrr"....
Sebuah kabar mengejutkan datang dari desa. Rasa panik bercampur khawatir menyelimuti hati Dunia.
Dengan menggunakan pesawat pribadi milik perusahaan Dunia segera terbang ke pedalaman Kalimantan, tempat dimana Fita berada. Ia membatalkan semua rencana bertemu klien dan hal yang menyangkut pekerjaan lainnya. Ia tak berpikir apapun saat ini, baginya yang terpenting adalah secepatnya sampai di desa.
Kabar yang dibawa oleh pak kades begitu mengejutkan semua orang. Bu Rima, satu satunya keluarga yang dimiliki Fita. Ibu kesayangan yang selalu mensupport Fita dalam kondisi terpuruknya tertabrak mobil dan dinyatakan meninggal dunia. Tak terbayang oleh Dunia apa yang sekarang dirasakan Fita. Pasti gadis itu shock dan kehilangan tempat bersandar. Kesedihan mendalam pasti sedang menyelubungi hatinya dan Dunia harus berada di samping Fita saat ini, untuk memberikannya semangat.
Bu Bintang kali ini ikut serta bersama Dunia. Wanita itu telah mendapat semua cerita dari dunia. Ia merasa ini adalah momen yang tepat untuk mendekati gadis korban kebiadaban putra sulungnya dan memohon permohonan maaf. Sekaligus waktu yang tepat untuk mengenal gadis itu. Dari apa yang didengarnya selama ini, Dunia begitu mengagumi gadis itu, hal ini semakin menambah rasa penasaran wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Dunia terus melihat jam tangannya. Rasanya perjalanan ini begitu lama dan tak kunjung sampai. Ia benar benar sangat mengkhawatirkan kondisi Fita saat ini. Gadis itu sendirian. Dunia tak sanggup membayangkannya.
"Tenang lah, tak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa untuk saat ini. Berdoa agar gadis itu diberikan kekuatan oleh Allah untuk melewati semua cobaannya" Bu Bintang meremas tangan anaknya untuk menyalurkan energi positif.
Dunia menyambut uluran semangat dari sang ibu. Ia mencoba menarik nafas dan berdoa. Doa tulus untuk almarhumah Bu Rima, juga doa untuk Fita agar diberikan kekuatan oleh sang maha Kuasa. Hatinya sedikit tenang setelah itu.
Akhirnya, waktu yang ditunggu tiba. Pesawat yang mengangkut rombongan keluarga Dunia mendarat di landasan milik perusahaan. Bergegas rombongan itu masuk kedalam mobil yang telah menunggu mereka untuk selanjutnya diantarkan ke rumah duka. Semua telah dipersiapkan dengan baik oleh Zayn sang asisten handal.
Medan yang ditempuh begitu sulit. Jalanan menuju desa sangat buruk. Hal ini membuat Dunia dan rombongan sedikit lebih lama sampai di rumah duka.
__ADS_1
"Andai gue bisa terbang, selesai sudah ini semua" Dunia bergumam dalam hati. Ia begitu kesal dengan kondisi ini. Mengapa harus disaat seperti ini hujan datang hingga mengakibatkan banjir dan jalanan berlubang semakin parah.
Bu Bintang hanya diam sepanjang perjalanan sembari mengamati Dunia. Ia yakin anak bungsunya ini menyimpan rasa yang lain kepada gadis yang akan ditemui. Ia tampak sangat khawatir dan tak tenang. Sangat berbeda dengan Dunia yang biasanya.