Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Permintaan Bu Bintang


__ADS_3

Fita terus mengusap keningnya yang baru saja disinggahi bibir seorang pria tampan. Ia masih tak menyangka, kejadian itu terjadi begitu cepat, bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya.


"Fita jangan melamun" sebuah teguran dari ibu tetangga menyadarkan Fita. Saat ini ia tengah berbaur dengan para tetangga yang sedang mempersiapkan makanan untuk acara tahlilan malam ketiga.


"Kalau masih capek istirahat saja di kamar, biar kami yang mengurus ini semua" seorang ibu tetangga yang lain berusaha menghibur Fita. Wajah pucat gadis itu membuat para ibu ibu yang ada disana bersimpati. Mereka seolah ikut merasakan bagaimana pedihnya hati Fita setelah ditinggal pergi oleh satu satunya keluarga yang ia miliki. Tak terbayangkan rasanya menjadi yatim piatu dalam sekejap mata.


"Fita baik baik saja Bu. Mau ikutan bantu bantu disini biar gak kepikiran sedih terus" gadis itu memberi tanggapan atas kepedulian para tetangganya yang baik hati.


Sementara Fita berbaur di dapur dengan para warga, Dunia larut dalam setumpuk email yang harus dibalasnya. Wajahnya fokus di depan laptop untuk mengecek satu persatu pekerjaan yang terabaikan selama berhari hari. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum saat mengingat apa yang baru saja dilakukannya kepada Fita. Entah keberanian dari mana yang ia dapatkan hingga berbuat seperti itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mencium seorang wanita dengan sepenuh perasaan.

__ADS_1


"Kamu sibuk?" Bu Bintang muncul di hadapan Dunia. Wajah wanita itu tampak tegang.


"Urusan kita di desa ini sudah selesai, secepatnya kamu minta kantor mengirim jemputan buat kita* Bu Fita menyampaikan maksud pembicaraannya.


Dunia mengernyitkan dahi pertanda sangat keheranan.


"Gadis itu menolak untuk ikut kita. Kita tak bisa memaksakan. Bentuk tanggung jawab kita atas apa yang telah menimpa dia cukup dengan menanggung biaya hidupnya disini, kalau perlu seumur hidup. Begitu juga dengan pendidikan dan kehidupannya di masa depan biar nanti orang kepercayaan ibu yang urus" Bu Bintang memaparkan alasannya.


"Kamu tidak perlu merepotkan dirimu untuk masalah ini. Susah cukup urusan ini menyita waktumu nak. Pekerjaan dan masa depan mu semuanya menjadi terabaikan hanya karena sibuk mengurusi gadis itu" Bu Bintang mulai terbawa emosi. Ia meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Ibu, ada apa? kenapa tiba tiba berubah?, bukankah kita sudah sepakat untuk membalas semua perbuatan kak Langit kepada Fita?" Dunia mengatur nada bicaranya selembut mungkin. Ia tak mungkin membantah sang ibu tercinta. Namun permintaan ibunya kali ini sungguh diluar dugaannya.


"Pokoknya kita harus kembali ke Jakarta secepatnya, ibu tidak mau berlama lama disini. Karena semakin lama disini semakin berbahaya buat kesehatan kita. Gadis itu berpenyakit dan tidak ditangani dengan baik. Dia bisa menularkan kepada orang yang ada di dekatnya. Terlalu lama kita disini ibu takut kita akan tertular" kalimat yang begitu pedas keluar dari mulut seorang wanita berpendidikan itu.


Dunia terperangah mendengar ucapan sang ibu. Wanita yang selama ini dikenalnya begitu lemah lembut dan bersahaja sekarang berkata sangat kasar dan menyakitkan hati.


Dunia mengusap kasar wajahnya. Ia menghela nafas sebanyak banyaknya untuk menjaga otaknya tetap berfungsi dengan baik. Ia sangat menghormati wanita yang sedang menjadi lawan bicaranya saat ini. Namun ucapan yang barusan terlontar dari mulut wanita itu membuatnya takut tak bisa mengendalikan emosi.


"Ibu sadar dengan apa yang ibu ucapkan?" Nada suara Dunia bergetar penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2