
Pagi menjelang. Cahaya matahari telah masuk dengan terang menembus jendela kamar Fita. Membuat gadis malang itu terbangun dari tidur panjangnya. Tubuh yang lelah serta emosi penuh kesedihan telah menguras energi gadis itu. Hingga membuat ia tidur begitu lelap bak orang pingsan.
Fita mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia ingat adalah sang ibu. Ini adalah pagi kedua dirinya tanpa sang ibu di sisinya. Bulir bening air mata mulai kembali menggenang di pelupuk mata Fita.
" Selamat pagi neng Fita" sebuah suara menyapa gadis kecil yang sedang termenung menghadap jendela itu.
Fita menoleh kearah sumber suara dan mendapati seorang wanita muda seumuran dirinya berdiri di hadapan. Dengan membawa sebuah nampan berisi sarapan bergizi lengkap dengan susu.
"Kamu siapa?" Fita tak mengenali wanita itu. Sejak kedatangan Dunia beserta timnya banyak sekali orang orang tak dikenal yang dijumpainya.
"Saya diminta tuan Dunia membantu mengurusi semua keperluan neng Fita. Jangan sungkan ya, apapun perintah yang diberikan kepada saya akan dilaksanakan sebaik mungkin" pelayan itu menjelaskan tugasnya.
__ADS_1
Fita mengernyitkan dahinya. Dunia memperlakukan dirinya bagaikan seorang putri raja.
"Terimakasih ya. Saya mau menemui tuan Dunia terlebih dahulu. Dimana dia sekarang?" Fita bermaksud meminta maaf atas perbuatannya semalam kepada pemuda itu. Pagi ini adalah waktu yang tepat untuk membahasnya.
"Itu di depan kamar neng. Masih tidur karena semalaman berjaga di depan pintu" dengan polos pelayan yang baru diketahui namanya Anis itu menjelaskan.
Fita segera turun dari ranjangnya dan berjalan tergesa kearah pintu yang ditunjukkan. Sebuah pemandangan haru menyelimuti hati Fita melihat kondisi Dunia. Seorang tuan muda kaya raya dengan harta berlimpah dan ketampanan maksimal sedang tidur bergelung, beralaskan tikar tipis dan menggunakan sarung.
"Hai Fita, ada apa?" sebuah sapaan membuyarkan lamunan gadis itu.
Dunia yang sensitif terhadap apapun di sekitarnya terbangun saat Fita berdiri di sampingnya. Namun gadis itu tak menyadari.
__ADS_1
"Em..sa..saya mau minta maaf" Fita gugup menyusun kata kata. Tatapan teduh dari bola mata Dunia mengunci keberaniannya.
"Percayalah padaku. Aku mencintaimu Fita" kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Dunia. Posisinya saat ini sejajar dengan tubuh gadis itu dan menatap lekat manik indahnya.
"Jangan tuan. Saya mohon. Sudah sering kita bahas mengenai ini. Saya punya penyakit menular yang tak bisa disembuhkan dengan obat apapun. Jangan sia siakan hidup anda tuan" Fita mulai terbiasa untuk mengucapkan penolakan kepada pria tampan itu.
"Aku tak menerima penolakan, aku akan mendapatkan mu" Dunia berbisik di telinga Fita dan melangkah pergi meninggalkan gadis itu. Entahlah apa yang sedang merasukinya. Sejak tamparan keras Fita mengenai pipinya, sejak itu pula tekad dan keyakinan Dunia semakin kuat. Ia tak gentar sedikitpun meski akan mendapatkan penolakan berkali kali.
"Hei kalian berdua, sarapan dulu disini" Bu Bintang muncul tiba tiba dari arah dapur. Saat ini rumah yang ditempati Fita memang tengah ramai orang. Beberapa orang adalah pelayan yang dibawa oleh Dunia untuk mengurusi semua keperluan ia, ibunya dan Fita selama berada di kampung ini, dan tentu saja lebih banyak lagi tetangga sekitar Fita yang masih sibuk mempersiapkan acara tahlilan selama tiga hari berturut turut. Inilah salah satu kelebihan tinggal di kampung yang sangat disukai oleh Fita. Semua guyub rukun bahu membahu jika ada salah satu dari mereka tengah mengalami kesulitan.
Fita melangkah gontai ke tempat yang ditunjukkan oleh Bu Bintang. Mengikuti langkah Dunia yang telah lebih dulu berjalan di depannya.
__ADS_1