Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Perhatian ibu dan anak


__ADS_3

"Keluar dari sini tuan, saya mohon" Fita berujar dengan nada suara bergetar. Tangan kurusnya baru saja menampar sosok penting penguasa wilayah yang sedang ditempatinya saat ini.


"Tidak mau" Dunia menjawab perkataan Fita dengan santai. Tak ada kemarahan di hatinya. Ia bahkan siap kalau saja wanita di hadapannya saat ini kembali menamparnya.


"Huhu" Fita mundur dari posisinya dan terduduk dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Fita menangis meluapkan emosi.


Yang ada di pikiran gadis itu saat ini adalah penyesalan. Saat ini ia sendirian. Sang ibu yang selalu menjadi pelindungnya dalam menghadapi masalah apapun kini sudah tiada. Siapa lagi orang yang akan membelanya. Apalagi saat ini ia telah mencari masalah dengan sang tuan besar, pasti habislah riwayat kini.


"Ayo makan lagi, tak baik menyisakan makanan" Dunia kembali menyodorkan piring berisi makanan yang sedari tadi dipegangnya.


"Saya ini punya penyakit menular tuan. Tolong jauhi saya. Jangan sampai karena dekat dengan saya anda ikut tertular" Fita berusaha memberi penjelasan agar Dunia tak ceroboh.


"Aku gak peduli. Aku mau menanggung semuanya asal bersama kamu" Dunia tetap dengan gaya acuh tak acuhnya menjawab semua penolakan Fita.


"Habiskan makanan mu sekarang atau aku paksa dengan caraku" Dunia memberi penekanan dalam ucapannya. Namun raut wajahnya sama sekali tak tampak marah.


"Hik...ibu" Fita kembali menangis karena menahan kesal atas sikap tuan muda itu kepadanya. Sungguh sulit membuat pria itu mengerti ancaman apa yang sedang dihadapinya jika tak menjaga jarak dengan gadis berpenyakit terkutuk ini.

__ADS_1


"Permisi neng, ibu boleh masuk?" sebuah suara dari arah pintu membuyarkan lamunan Fita. Sepiring makanan masih utuh di tangannya. Fita mengedarkan pandangan kearah sumber suara. Dunia ternyata sudah tak ada di kamar itu. Ia hanya sendiri.


"Ibu siapa? apa temannya almarhumah ibu saya?" Fita merasa tak mengenali sosok wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini. Dari penampilannya tampak begitu anggun dan berkelas. Jelas bukanlah warga di sekitar sini.


"Saya Bintang Prakarsa, ibunya Dunia" dengan lembut wanita kaya nan baik hati itu memperkenalkan diri.


"Maaf nyonya, sa saya bersikap tak sopan" Fita merasa begitu segan sang nyonya besar ternyata ada di rumahnya sedari tadi namun ia tak menyapa sama sekali.


"Tenanglah neng, saya disini sebagai ibunya Dunia. Saya turut berdukacita atas kepergian ibunda tercinta kamu" Bu Bintang berkata dengan tulus. Matanya menatap lekat wajah lelah gadis di hadapannya saat ini. Wajah yang begitu manis dan teduh. Pantaslah putra kesayangannya sangat menggilai perempuan ini.


"Bolehkah saya meminta satu permintaan kepada kamu?" Bu Bintang mulai membuka pembicaraan. Saat ini keduanya duduk berhadapan.


"Silahkan Bu" dengan sopan Fita menjawab.


"Makanlah. Sudah seharian belum ada asupan apapun di tubuhmu. Kami khawatir akan kondisi mu" Bu Bintang menyampaikan permintaannya.


"Jangan bingung begitu. Saya datang ke kamar ini memang diminta bantuan oleh Dunia. Ia sangat khawatir dengan kondisimu saat ini" sebuah informasi rahasia baru saja dibocorkan oleh Bu Bintang. Ia merasa patut memberi tahukan kepada Fita bagaimana khawatirnya sang putra saat ini. Senyuman penuh arti wanita paruh baya itu membuat Fita salah tingkah.

__ADS_1


"Ayo makan, saya tidak diperbolehkan pergi dari sini oleh Dunia sebelum makanan kamu habis" ujar Bu Fita bercanda. Suasana yang tadinya kaku menjadi cair dan hangat. Wanita bersahaja itu sangat pandai mengambil hati gadis malang itu.


.


.


.


"Usahakanlah tidur kembali. Masih ada waktu sebelum pagi. Tubuhmu perlu banyak istirahat" Bu Bintang memberikan nasihat kepada Fita setelah gadis itu menghabiskan makanan di piringnya. Ia sangat senang karena Fita begitu patuh kepadanya.


"Terimakasih Bu" Fita sangat menghargai perhatian Bu Bintang. Sebelum wanita itu beranjak pergi Fita menyampaikan ucapan terimakasihnya.


"Sama sama nak, jangan terlalu bersedih ya. Saya dan Dunia mulai hari ini akan menjaga kamu" dengan senyum simpul Bu Bintang mengusap puncak kepala Fita.


"Deggg" hati Fita tersentuh.


Ibu dan anak pemilik tempat ini sangat baik kepadanya. Ia merasa sangat berkesan.

__ADS_1


__ADS_2