
"Temani aku makan yuk" Dunia mulai membuka obrolan.
Fita menggelengkan kepala. Ia tak mempunyai sedikitpun selera untuk makan.
Dunia hanya diam mendapat reaksi dingin dari Fita. Ia tak henti memandangi wajah sembab gadis itu.
"Kruukkkk.....krukkk" suara perut keroncongan Dunia memecah keheningan diantara keduanya.
Fita menoleh kearah Dunia. Ia hendak memastikan kalau suara yang baru saja didengarnya berasal dari perut orang di sampingnya ini.
"Hehe, aku lapar" Dunia membuat ekspresi wajah imut menggemaskan.
"Silahkan makan diluar tuan, saya mau sendirian disini, tolong tinggalkan saya" Fita bersuara dengan nada lirih.
"Makan sama sama yuk" Dunia mencoba sekali lagi membujuk Fita.
"Terakhir makan kapan? kemarin kan?" Dunia kembali menambahkan.
"Kemarin, bareng ibu" Fita terisak. Ia kembali teringat sang ibu yang baru beberapa jam dikuburkan.
"Ibu akan sangat sedih melihatmu seperti ini Fita. Tenanglah semua akan baik baik saja, aku sengaja datang kesini untuk memastikan itu" Dunia mengusap lembut puncak kepala Fita.
Keduanya saling bertatapan, Fita menemukan ketulusan dalam mata bening milik Dunia.
"Aku ambil makanan sebentar ya, kita makan sama sama" Dunia mulai bisa membujuk Fita.
__ADS_1
.
.
.
Dunia kembali ke dalam kamar Fita setelah beberapa menit menyiapkan makanan di dapur. Namun pemandangan haru menyambutnya. Ia melihat Fita tertidur lelap dengan posisi meringkuk tak nyaman di sofa kamarnya. Tubuh gadis itu nampak sangat lelah. Terlebih lagi dengan ia menangis terus terusan membuat energinya banyak terkuras, hingga tak sengaja ia tertidur begitu lelap.
"Tenang lah Fita, aku yang akan menggantikan ibu untuk menjagamu" Dunia berbisik lembut sembari memperbaiki posisi tidur Lufita agar sedikit lebih baik.
Tengah malam tiba.
Fita terbangun karena mendengar suara perut yang riuh di sampingnya. Sejenak gadis itu menoleh dan mendapati Dunia di sebelahnya. Tidur di lantai dengan kepala beralaskan jaket. Pria itu tampak lelap.
Fita juga melihat sepiring makanan porsi lengkap terhidang di atas meja tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Ia menyadari bahwa tuan muda yang saat ini sedang bersamanya juga belum makan.
Fita mengguncang pelan tubuh Dunia dengan tujuan membangunkan pria itu.
"Deg .."
Dunia yang masih belum sepenuhnya sadar spontan menarik tangan Fita yang sedang membangunkannya. Posisi Dunia yang lebih rendah dari Fita membuat gadis itu jatuh terjerembab ke bawah, persis di pelukan Dunia. Dan tak menyia nyiakan kesempatan, Dunia memeluk erat wanita kesayangannya itu.
"Lepas" Fita yang tersadar beberapa detik setelah merasakan kehangatan dada bidang Dunia mendorong pria itu. Ia tak mau dilihat oleh orang lain dan berprasangka buruk terhadapnya.
"Maaf Fita" Dunia berhasil menguasai diri dan tersadar sepenuhnya.
__ADS_1
"Keluarlah, ku mau sendiri" Fita mengusir secara lugas.
"Aku tidak akan keluar sebelum memastikan kamu makan" Dunia dengan tegas menolak permintaan Fita.
"Makanlah, minimal beberapa suap" Dunia mulai memaksa kali ini. Rasa khawatirnya semakin menjadi karena nyaris dua puluh empat jam gadis dihadapannya saat ini tak mendapat asupan makanan.
"Ayolah, aku mohon" Dunia menurunkan tekanan suaranya.
Lufita yang menyadari bahwa ucapan nasihat dari Dunia ada benarnya akhirnya memutuskan untuk mengisi perutnya walaupun sedikit.
Fita menerima sepiring makanan yang disodorkan Dunia. Sebelum ia menyuap makanan ke mulutnya, Dunia kembali menyela.
"Fita tunggu" .
"Minum obat dulu", Dunia menyodorkan kembali sebutir tablet kecil ke hadapan Fita. Dengan sedikit bingung Fita tetap menerima tablet itu dan meminumnya. Dalam hatinya bertanya tanya, darimana pria ini mengetahui ritual wajib yang harus dilakukannya sebelum makan, dan bagaimana bisa ia menemukan tablet itu yang sebelumnya disimpan oleh mendiang ibunya.
Dunia gerak cepat dengan menyuapi satu sendok makanan ke mulut Fita. Kali ini tak ada perlawanan dan gadis itu menerima suapan Dunia.
Namun satu hal yang tak disangka Fita, Dunia menggunakan sendok yang sama untuk menyuap makanan ke dirinya sendiri.
"Jangan" Fita terlambat mencegah. Satu sendok makanan telah meluncur ke dalam mulut pria tampan itu. Dengan santainya ia mengunyah makanan itu.
"Bahaya, nanti bisa tertular penyakitku" Fita sangat panik.
"Aku gak peduli, aku mau ditularkan. Biar aku bisa bersamamu terus" dengan santai Dunia menjawab ketakutan Lufita.
__ADS_1
PLAK....
Sebuah tamparan mendarat di pipi Dunia, diiringi dengan air mata yang membanjiri pipi Fita si gadis malang.