Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Semakin akrab


__ADS_3

Dunia larut dalam pemikirannya sendiri hampir setengah jam. Ia duduk di teras rumah Lufita. Ia beralasan menumpang istirahat karena cahaya matahari siang itu sangat menyinari rumah sewanya, membuat suasana sangat panas, berbeda dengan rumah Lufita yang teduh dan sejuk.


"Assalamualaikum" Dunia terhenyak saat mendengar sebuah suara mengucap salam kepadanya.


"Wa..alaikumsalam" Dunia tergagap menjawab salam dari orang itu yang tak lain adalah Lufita. Karena begitu larut dalam lamunannya Dunia tak mendengar suara motor Lufita masuk ke pekarangan, hingga akhirnya gadis itu berdiri di sampingnya kini.


"Pak Dunia melamun?" Lufita dengan ramah mengajak Dunia berbicara.


"Eh gak kok, tadi lagi fokus mikirin sesuatu" Dunia tersipu malu mendengar pertanyaan Lufita.


"Kok gak masuk pak, disini panas" Lufita sangat ramah, sikapnya tampak biasa dan tak terkesan genit atau sombong seperti kesan awal perjumpaan mereka.


"Disini saja, anginnya sepoi sepoi" Dunia kembali menanggapi Lufita.


"Ya sudah pak, silahkan lanjutkan, Fita mau masuk dulu" Lufita dengan sopan pamit masuk kedalam rumah. Meninggalkan Dunia dengan debar jantungnya yang tak terkendali.


Drrrtttt....


Drrrtttt....


Ponsel Dunia bergetar pertanda ada panggilan masuk. Dunia membaca nama yang muncul di layar ponselnya.


"Hallo...Hallo" sinyal yang buruk di tempat itu membuat sambungan telepon Dunia terputus. Pria itu melambai lambaikan tangannya ke atas bermaksud mencari sinyal.


"Pak ngapain?" Lufita yang telah berganti pakaian menegur Dunia yang bersikap aneh.


Saat ini gadis itu memakai pakaian santai yang sopan lengkap dengan masker penutup wajahnya.


"Eh ini dari tadi saya kesulitan mendapat sinyal, saya khawatir banyak rekan bisnis yang menghubungi namun tak bisa" Dunia menjelaskan kegelisahannya.


"Bapak menggunakan provider apa?" Lufita duduk di kursi yang tadi ditempati Dunia. Gadis itu bersikap sangat bersahabat.


"Provider xxxx" Dunia menjawab pertanyaan Lufita.


"Disini susah sinyal pak, sebaiknya bapak ganti provider YYYY, biar komunikasi bapak bisa lancar" Lufita memberi arahan.


"Oh benarkah, dimana bisa didapatkan?" Dunia memberanikan diri duduk di sebelah Lufita. Kursi kayu panjang itu sangat cukup untuk dipakai dua orang.

__ADS_1


"Bapak ke warung Bu Made saja, beliau menjualnya" Lufita kembali menjelaskan. Sikap gadis itu membuatnya nyaman. Rasanya betah berlama lama mengobrol dengan pemilik mata indah itu.


"Wah lagi pada ngobrol disini, ayo kita makan siang dulu, udah disiapkan didalam" Bu Rima mendatangi keduanya yang sedang mengobrol santai.


"Maaf merepotkan Bu" Dunia masuk kedalam rumah mengekor di belakang Bu Rima dan Lufita.


Umumnya ritual sebelum makan adalah berdoa bersama dan menikmati hidangan. Namun beda halnya dengan Lufita. Ia hanya duduk menemani ibu dan tamunya makan.


"Lufita gak ikut makan?" Dunia merasa sedikit heran.


"Silahkan duluan pak, Fita harus menunggu lima menit lagi" dengan ramah gadis itu menjawab.


"Fita baru saja meminum obatnya, harus dijeda minimal 10 menit baru boleh konsumsi nasi" Bu Rima menambahkan informasi karena melihat jawaban Fita tak membuat Dunia puas.


Deg...


Dunia merasakan Dejavu.


Dia teringat kebiasaan kakaknya saat dulu sebelum dirawat. Mengkonsumsi obat yang diminum sepuluh menit sebelum makan dan tidak boleh dilanggar.


"Gak...gak mungkin" Dunia bergumam sendiri. Dia panik membayangkan penyakit Lufita. Apakah mungkin itu penyakit yang sama dengan yang diderita oleh kakaknya Langit?.


"Ya Allah ini bisa saja terjadi, mungkinkah kak Langit menularkan virus laknat itu kepada...?" Dunia keringat dingin. Makanan yang terhidang tiba tiba terasa hambar di lidahnya. Dunia merasakan asam lambungnya naik hingga tenggorokan akibat stres. Pria itu mual tak tertahankan dan berlari pulang ke rumahnya. Bu Rima dan Lufita bingung melihat sikap Dunia yang aneh.


Sore hari menjelang.


Dunia kembali datang ke rumah Bu Rima. Pria itu berhasil menenangkan dirinya dan kini ia berniat meminta maaf kepada tuan rumah atas sikapnya yang tak sopan saat tadi makan siang.


"Sore Bu" Dunia menyapa ramah Bu Rima yang sedang menjahit pakaian dengan mesin.


"Bagaimana keadaan anda pak? apa semua baik baik saja?" Bu Rima tampak khawatir mengingat kondisi Dunia sebelumnya.


"Sudah lebih baik Bu, tadi asam lambung saya kumat" Dunia tak bohong, masalah di lambungnya memang benar menjadi salah satu pemicu dirinya lari dari makan tadi siang.


Mata Dunia tertuju ke arah meja belakang tempat seorang Lufita sedang fokus mengerjakan sesuatu, sementara beberapa pegawai lainnya sibuk dengan aktivitas masing masing. Saat ini di ruangan itu ada lebih dari lima orang pekerja, termasuk Lufita dan ibunya.


Bu Rima menyadari tatapan mata Dunia kearah putrinya.

__ADS_1


"Lufita itu desainer kami disini pak, rata rata model pakaian yang akan dijahit dirancang olehnya" Bu Rima menjelaskan.


"Boleh saya mendekat kesana?" Dunia tak sabar melihat bakat gadis itu.


"Silahkan pak" Bu Rima memberi jalan masuk agar Dunia bisa melangkah menuju meja dimana Lufita sedang fokus.


Dunia sampai di depan meja Lufita, gadis itu begitu fokus dengan apa yang sedang digambar nya, hingga ia tak menyadari ada orang lain di hadapannya kini yang sedang memperhatikan.


"Rancangan yang sangat luar biasa" Dunia memuji dengan tulus apa yang dilihatnya. Karya rancangan Lufita memang sangat bagus, meskipun ia melukisnya dengan peralatan sederhana.


Dunia tersenyum sendiri melihat Lufita yang masih belum menyadari kehadirannya. Gadis itu terlihat lucu dalam jarak dekat. Dengan wajah serius dan ekspresi menggemaskan. Masker penutup wajahnya tak dipakai, hingga menunjukkan wajah cantiknya secara sempurna.


"Pak Dunia?" Lufita terkejut saat ia mendongak kan kepala nya yang terus menunduk sedari tadi. Sebuah senyuman begitu mempesona diberikan Dunia yang kini berada persis diatas kepalanya.


Lufita mundur selangkah, mengambil jarak yang cukup untuk mengobrol dengan seorang pria serta memasang maskernya.


Dunia menyadari ketidaknyamanan Lufita. Ia merasa tak enak hati.


"Maaf Fita, saya tadi tertarik dengan rancangan ini, makanya ingin melihat lebih dekat" Dunia memberikan alasan.


"Bapak tadi kenapa? sakit?" Lufita tak merespon ucapan Dunia namun mengganti topik pembicaraan.


Iya sedikit mual akibat asam lambung, tapi sekarang sudah jauh lebih baik" Dunia menjawab pertanyaan Lufita.


"Sebaiknya istirahat saja pak, kalau ada apa apa, hubungi saja ibu atau Fita, nanti biar kami kesana" Lufita mengkhawatirkan kondisi bos besar itu.


"Iya terimakasih ya, kamu dan ibu mu benar benar warga yang paling baik, saya banyak merepotkan" Dunia menanggapi.


"Sama sama pak, sudah kewajiban sebagai sesama umat manusia, selagi masih ada umur kita harus berbuat baik, siapa tau besok atau lusa kita udah pergi meninggalkan kehidupan ini" Lufita menjelaskan dengan sangat diplomatis.


Dunia mengangguk mengiyakan. Didalam hatinya semakin mengagumi gadis yang masih muda namun berpikiran dewasa ini.


"Oh iya, kamu bikin rancangan apa? boleh saya lihat?" Dunia kembali teringat akan tujuan awalnya.


"Hanya rancangan biasa pak" Lufita mengambil beberapa lembar kertas hasil rancangannya. Ia menyerahkan kepada Dunia.


"Wah kamu hebat ya, sangat berbakat. ini semua bukan hal biasa, sangat luar biasa" Dunia mengagumi hasil karya Lufita.

__ADS_1


Waktu di sekolah kamu belum menjawab apa yang menjadi hobi mu, sekarang terjawab sudah, ini adalah hobi yang sangat mengagumkan" Dunia kembali memberi semangat kepada Lufita.


Mereka tertawa bersama. Semakin akrab dalam batas wajar.


__ADS_2