
Pagi hari baru menyambut semangat baru. Terutama buat seorang gadis manis yang bersiap untuk pulang kerumah setelah menjalani tiga hari perawatan di klinik desa. Gadis manis itu bernama Lufita.
"Udah beres semua?" Dunia muncul dari balik pintu menyapa Fita dan ibunya yang sedang mengemas barang barang yang akan dibawa pulang.
"Udah nak, tinggal menunggu infus di tangan Fita dilepas" Bu Rima menjelaskan situasinya.
Bu Rima kini tak lagi memanggil Dunia dengan panggilan tuan, karena pemuda itu juga meminta kepadanya untuk menganggapnya layaknya seorang anak. Dunia tak ingin Bu Rima terlalu menghormatinya hanya karena ia pemilik lahan di desa yang wanita itu tempati. Dunia ingin memangkas segala jarak yang tercipta antara dirinya dengan keluarga Fita. Ia perlahan masuk kedalam kehidupan Fita dengan cara lembut dan kekeluargaan.
"Sini aku yang bawa tasnya, biar dimasukkan ke mobil dulu" Dunia mengambil tas besar berisi pakaian yang sedang dipegang oleh Bu Rima. Dengan segera ia berlalu dan menghilang di balik pintu. Fita terus memperhatikan sikap Dunia yang begitu peduli kepada dirinya dan sang ibu.
Tak berapa lama perawat jaga yang bertugas datang memasuki ruangan Fita. Ia melepas jarum infus yang tertancap di tangan Fita. Dengan ramah ia mengajak gadis itu mengobrol.
__ADS_1
"Jaga kesehatan ya mba, jangan sampai masuk angin dan basah kuyup lagi. Karena dengan kondisi seperti mba ini, tidak boleh terpapar infeksi sedikitpun. Jika pada orang biasa terkena flu merupakan hal lumrah dan biasa sembuh dengan mudah, tidak begitu halnya dengan anda. Flu ringan itu bisa saja memperburuk kondisi mba" perawat itu menjelaskan.
"Iya suster, terimakasih sudah diingatkan" Fita menanggapi dengan sopan.
"Ya sudah, ayo saya antar sampai depan" suster ramah itu mempersilahkan Fita pindah ke kursi roda untuk memudahkan perjalanan Fita ke depan gerbang klinik.
"Mba, tuan muda Dunia itu siapanya? dia sangat perhatian kepada anda?" sang perawat membisikkan pertanyaan kepada Fita disela sela tugasnya mendorong kursi roda Fita.
"Ah gak mungkin mba, sepertinya dia menyukai anda, duh beruntungnya" si perawat kembali berceloteh.
"Itu lebih tidak mungkin lagi suster, gadis desa penyakitan seperti saya ini gak ada apa apanya. Pasti di kota sana beliau sudah mempunyai kekasih. Beliau baik ke saya karena kasihan saja" Fita mengeluarkan isi hatinya. Ia yakin dan pasti Dunia hanya memperlakukannya baik karena toleransi kemanusiaan saja.
__ADS_1
Tanpa disadari Fita, Dunia mendengar semuanya. Ia yang sebelumnya kembali ke kamar Fita dan menemukan gadis itu telah keluar kamar bersama seorang perawat berusaha menyusul dari belakang. Ia memperlambat langkahnya karena mendengar percakapan kedua wanita itu. Dan kalimat terakhir Lufita sangat menyentuh perasaannya. Sekali lagi, dadanya merasakan pukulan palu Godam dahsyat hingga membuatnya berhenti melangkah dan terdiam di posisinya berdiri saat ini.
.
.
.
Kesadaran Dunia kembali muncul setelah beberapa detik mematung terpaku. Iya bergegas menyusul Fita dan susternya yang telah menunggu di depan parkiran mobil.
"Udah siap semua?" suara Dunia terdengar serak. Saat ini Fita susah duduk didalam mobil di sebelah Dunia yang bersiap menyetir, sementara bu Rima duduk di kursi penumpang belakang.
__ADS_1
Fita mengangguk bersemangat. Tenaganya terisi full setelah dirawat beberapa hari.