
"Fita"...
Dunia telah berdiri di depan pintu rumah duka. Di depannya tampak pemandangan yang begitu memilukan. Sesosok tubuh terbujur kaku tengah dipeluk oleh seorang wanita yang menangis terisak. Wanita yang menangis itu dalam posisi membelakangi Dunia. Pria itu tau pasti siapa itu. Itulah Fita yang tengah memeluk jenazah ibunya.
Fita yang dipanggil namanya menoleh dan terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Dunia beserta beberapa orang yang belum pernah dilihatnya berdiri disana.
"Tuan Dunia" Fita spontan memastikan siapa yang dilihatnya.
"Deg"....
Tanpa basa basi Dunia berlutut mensejajari tubuh Fita dan memeluk wanita itu. Pelukan yang begitu tulus dan dalam.
Fita awalnya kaget dengan apa yang dilakukan tuan muda itu, namun ia sama sekali tak menolak pelukan hangat itu. Ia sangat nyaman dan memang membutuhkannya. Ia lelah terus berusaha tegar sedari tadi. Kedatangan Dunia seolah mengangkat setengah beban yang dipikulnya. Ia merasa ada yang bisa diandalkan untuk berbagi kesedihan.
__ADS_1
"Tenanglah Fita, jangan khawatir, aku yang akan urus semuanya, kamu gak akan sendirian" bisik Dunia kepada Fita sembari tangannya mengelus lembut kepala gadis itu yang tertutup hijab. Tangis Fita kembali pecah. Dunia mendekapnya lebih erat. Semua mata yang ada di ruangan itu menatap haru drama antara dua sejoli itu. Bisik bisik antar tetangga tak dapat dielakkan lagi.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Fita melepaskan pelukannya. Ia menyadari bahwa tak sepantasnya hal itu dilakukan didepan orang banyak.
"Terimakasih tuan" Fita mundur perlahan dan kembali mendekat kearah jenazah ibunya yang terbujur kaku.
Sementara itu, Dunia merubah posisinya. Ia juga duduk mendekat kearah jenazah dan berdoa di sampingnya.
"Bu, aku akan lanjutkan tugas menjaga Fita" Dunia menyelipkan janji. Ia bertekad akan lebih memfokuskan diri menjaga Fita. Bagaimanapun penolakan yang akan didapatkannya, ia tak akan lagi pergi menjauh, ia akan berjuang untuk meluluhkan hati gadis malang itu.
Malam menjelang.
Pemakaman Bu Rima telah selesai dilakukan. Semua warga yang ikut membantu juga telah kembali ke rumah masing masing. Hanya tersisa beberapa orang tetangga dekat yang masih berada didalam rumah untuk menghibur Fita si anak yatim piatu yang malang.
__ADS_1
Fita dan ibunya tak mempunyai saudara sama sekali di desa ini. Mereka memang sengaja menjauh dari semua orang yang mengenalnya dahulu, karena insiden traumatis yang pernah menimpa Fita. Namun ternyata karma buruk masih saja tetap mengikuti pasangan ibu dan anak ini. Sang ibu terpaksa meninggalkan putrinya sendirian , sebatang kara. Akan dengan siapa lagi gadis malang itu bergantung.
Dunia terus bolak balik sedari tadi mengawasi kondisi Fita yang mulai drop. Gadis itu tengah berbaring di kamarnya. Belum ada satu suap makanan pun yang masuk kedalam tubuhnya. Dunia sangat mencemaskan situasi ini. Ia tak mau Fita mengalami dehidrasi dan memperburuk kesehatannya.
"Permisi, saya boleh masuk?" Dunia yang tak tahan sedari tadi memantau Fita dari luar kamar akhirnya memutuskan masuk kedalam kamar gadis itu. Ia meminta izin kepada beberapa orang yang juga berada di kamar itu dan sedang menghibur Fita.
Seolah mengerti, satu persatu warga berinisiatif keluar kamar dan meninggalkan dua sejoli itu.
Dunia dan Fita saling bertatapan selama beberapa detik. Tak ada yang mampu untuk saling menyapa, Fita dengan tatapan mata yang masih bengkak terlalu lemah untuk itu. Begitu juga dengan Dunia, hatinya perih melihat kondisi Fita yang memprihatinkan.
"Temani aku makan yuk" Dunia mencoba bersikap se natural mungkin.
Ia bermaksud membawa suasana lebih ringan dan tak berlarut dalam kesedihan.
__ADS_1