
Pagi menjelang.
Dunia terbangun dengan tubuh yang lelah. Namun semangatnya untuk hadir di sekolah Lufita pagi ini begitu menggebu.
Setelah merapikan diri dan menyantap sarapan yang disiapkan bi Imas, pria tampan itu bersiap berangkat menuju sekolah, tempat kerja barunya.
Kali ini Dunia berangkat ke tempat kerja barunya menggunakan motor matic persis seperti Lufita. Zayn telah menyiapkan semua kebutuhan sang bos besar dengan sempurna. Mulai dari kebutuhan sehari hari hingga kebutuhan transportasi, semua tak luput dari perhatian sang asisten teladan itu.
Dunia menoleh kearah tetangga seberang rumahnya.
"Sepertinya Fita sudah berangkat" Dunia bergumam sendiri.
Pria yang bertransformasi menjadi guru sekolah tampan itu bergegas berangkat dengan melajukan motor matic barunya.
.
.
.
"Selamat pagi dear", Dunia memasuki ruangan kelas 3A tempat dimana ia harus mengisi materi pagi ini. Ruangan kelas dimana Fita sang gadis dalam mimpinya berada.
"Selamat pagi pak" semua murid kompak menjawab dengan hangat sapaan pria tampan itu.
Dunia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kelas, matanya langsung mengunci sesosok gadis manis bermasker yang duduk di bagian pojok belakang.
"Apa kalian merindukan saya?" Dunia memulai kelasnya.
"Sangat pak, beberapa hari bapak menghilang, Dunia kami terasa hampa" Mia si murid genit membalas ucapan guru muda nan tampan itu.
__ADS_1
"Huuu..." sontak beberapa murid pria menyoraki gadis itu. Mereka tak suka dengan candaan yang dilontarkan sang guru, kedudukan mereka sedikit terancam.
Dunia tersenyum simpul melihat tingkah para muridnya.
"Sudah..sudah, itu hanya intermezo, sekarang mari kita mulai pelajaran kita" Dunia mengakhiri perdebatan dan mulai menjalankan tugasnya.
.
.
.
Setengah jam sudah berlalu dari jadwal pulang sekolah. Dunia masih berdiri di pintu gerbang menunggu Lufita yang masih belum juga keluar dari dalam perpustakaan.
Ya, Dunia memang sengaja menunggu gadis itu untuk mengajaknya pulang bersama, namun sepertinya apa yang sudah direncanakan tak berjalan mulus. Fita tak kunjung keluar dari gedung sekolah itu.
Di tengah kegelisahannya, Dunia akhirnya bisa bernafas lega. Siswi manis yang ditunggu tunggu akhirnya muncul juga. Lufita berjalan menunduk ke arah parkiran motornya, ia tak menyadari kalau di hadapannya ada seorang pria yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Tu ..tuan" Lufita mematung di posisinya, rasa canggung menyerang persendiannya hingga tak bisa bergerak.
"Ayo bareng" Dunia mengulang kalimatnya. Ia berusaha bersikap santai seolah biasa saja, padahal jantungnya berdegup sangat kencang saat ini.
"Sa...saya bawa motor sendiri Tuan" Fita akhirnya berhasil menguasai kegugupannya. Ia menolak ajakan Dunia.
"Iya aku tau, kita beriringan sampai rumah ya" Dunia terus memaksa.
Tak ingin berdebat, Lufita membiarkan sang bapak guru mengikutinya dari belakang. Fita tak ingin memikirkan apapun saat ini. Ia hanya ingin secepatnya sampai di rumah dan beristirahat.
"Fita, tunggu sebentar" Dunia memberhentikan laju motornya persis di depan sebuah air terjun yang mereka lewati.
__ADS_1
Dunia dan Fita memang melewati jalan yang berbeda dengan saat mereka berangkat. Itu karena jalan yang biasa mereka lewati ditutup akibat terjadinya tanah amblas.
Fita yang dipanggil oleh pak guru yang beriringan di belakangnya mau tak mau ikut memberhentikan perjalanan.
"Ada apa tuan?" Fita bertanya kepada Dunia.
"Aku baru pertama lewat sini, lihatlah air terjun itu begitu indah, aku sangat menyukainya, temani aku sebentar ya" Dunia mengajak Fita untuk menikmati sejenak indahnya pesona alam di hadapannya.
Belum sempat Fita mengiyakan ataupun menolak ajakan Dunia, pria itu sudah berlarian bak anak kecil menyusuri jalur menuju kearah air terjun.
Fita menyunggingkan seulas senyum di bibirnya. Ia terhibur akan kelakuan pak guru yang terlihat seperti seorang bocah menemukan mainan itu.
.
.
.
"Wushhhh....wushhh" Cipratan air ke wajahnya mengusik lamunan Fita. Gadis itu menoleh kearah sumber air yang menyiram wajahnya.
"Hei, ayo turun sini, airnya sangat sejuk" Dunia tersenyum menggoda Fita dengan mimik wajah lucu.
"Lanjut pak, saya tunggu disini aja" Fita menolak ajakan Dunia. Air terjun yang begitu segar sebenarnya sangat menggoda Fita. Apalagi di tengah cuaca yang sangat terik yang dirasanya saat ini. Namun ia merasa segan harus bermain air bersama seorang pria asing. Ia tak ingin suatu kejadian buruk kembali terulang kepadanya.
"Ayolah, sangat menyenangkan berendam dibawah air segar ini" Dunia terus mengajak Fita. Pria itu kegirangan dan tampak begitu manis, jauh beda dengan sikapnya saat menjadi seorang tuan muda penguasa lahan di daerah yang saat ini Fita tempati.
Fita ikut terbawa suasana melihat tingkah konyol Dunia. Ia tertawa begitu lebar saat Dunia berlarian kesana kemari menikmati air terjun diatas kepalanya. Seluruh pakaian pria itu telah basah kuyup.
Melihat gadis itu tertawa begitu lepas untuk pertama kalinya, Dunia terdiam, ia terpesona. Lufita begitu cantik dan membuat jantungnya kembali berdetak tak beraturan.
__ADS_1
Wajah Fita bersemu merah saat ini. Untuk pertama kalinya ia merasakan kembali rasanya tertawa bebas dan lepas. Hidupnya terlalu menegangkan beberapa tahun ini. Ia tak menikmati sama sekali indahnya masa muda.