
"Ma, gimana keadaan kak Langit?" Dunia yang baru saja sampai di rumah sakit menghampiri sang ibu yang tengah duduk di depan kamar perawatan ICU.
"Dokter bilang, Masa kritisnya belum terlewati sepenuhnya, tapi setidaknya untuk beberapa hari ke depan ia aman" Bu Bintang menjelaskan apa yang didengarnya dari dokter. Tatapan wajah wanita itu tampak begitu sendu. Kesedihan mendalam terlihat jelas di wajahnya.
"Syukurlah ma, semoga kak Langit masih bisa bertahan" Dunia sedikit menghela nafas lega.
"Jika memang kondisi kak Langit udah stabil, aku ijin kembali ke Kalimantan ya ma" Dunia tak menunggu waktu untuk kembali ke tempat Lufita.
"Ada apa nak, kenapa begitu terburu buru" Sang ibu mencoba menahan anaknya yang begitu bersemangat untuk pergi.
"Ma, Dunia punya sebuah misi yang harus secepatnya dituntaskan. Ini semua menyangkut kak Langit juga ma" pria itu menjelaskan singkat apa yang sedang ingin dilakukannya.
"Apa mama masih belum boleh tau?" Bu Bintang benar benar di puncak penasaran kali ini.
"Baiklah aku jelaskan semua ma" Dunia merasa sang ibu perlu tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Aku lupa apakah sudah pernah cerita sebelumnya atau tidak kepada mama.
Kak Langit pernah memaksa seorang gadis malang tak berdaya untuk melayani nafsu bejatnya, padahal saat itu di dalam tubuh kak Langit sudah tersimpan virus mematikan ini" Dunia menjeda kalimatnya menunggu reaksi sang ibu.
__ADS_1
Bu Bintang tampak terkejut dan wajahnya menjadi pucat pasi.
"Kak Langit dihantui rasa bersalah semenjak kejadian itu, ia meminta aku untuk mencari dimana keberadaan gadis itu dan memintakan maafnya" Dunia kembali melanjutkan.
"Berbulan bulan aku mencari nya ma, tak pernah bisa kutemui. Informasi tentang siapa korban kak Langit itu sangat sulit didapatkan. Ia hilang begitu saja.
Awalnya aku berpikir mungkin saja ia sudah mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis atau mungkin sudah meninggal akibat tertular penyakit yang disebabkan kak Langit.
Sampai akhirnya, aku secara tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah desa kecil yang sangat jauh dari sini, desa di Kalimantan yang aku kunjungi saat peninjauan cabang perusahaan kita disana.
Gadis itu melarikan diri dari dunia luar dan memilih bersembunyi di tempat sepi seperti itu untuk mengobati lukanya. Ia bahkan masih berjuang hingga saat ini untuk menghapus trauma. Ia ketakutan apabila melihat orang ramai, dan ia juga menutup seluruh tubuhnya hingga nyaris tak bisa dikenali oleh siapapun" Dunia menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Fita sang korban kakaknya itu.
Bu Bintang menutup wajahnya dengan kedua belah tangan. Rasanya ia ikut berdosa dengan semua yang sudah diperbuat Langit. Ia telah gagal menjadi orang tua yang baik. Putra kesayangannya itu kini menebar penderitaan buat orang lain.
"Ma, tenanglah, aku sedang berusaha memperbaiki semua keadaan ini. Aku hanya butuh dukungan dari mama, doakan aku agar bisa melembutkan hati gadis itu" suara Dunia terdengar bergetar. Ia ikut terbawa suasana melihat kesedihan sang ibu tersayang.
Dunia menarik sang ibu yang masih sesenggukan kedalam pelukannya. Keduanya saling menguatkan dalam diam. Mereka larut dalam pikirannya masing masing.
.
__ADS_1
.
.
Hari berlalu.
Dunia sudah berada di bandara untuk bersiap melakukan penerbangan ke kota dimana Fita berada. Semangatnya menggebu ingin segera melihat gadis manis itu. Entahlah apa yang kini dirasakannya. Apakah rasa rindu atau hanya sekedar rasa penasaran yang belum tuntas.
Penerbangan kali ini membutuhkan waktu lebih kurang satu jam dan ditambah tiga jam perjalanan darat. Dunia membawa seorang asisten rumah tangga yang akan membantunya mengurus keperluan hidupnya selama tinggal di desa. Karena berdasarkan pengalaman terdahulu ia sangat kesulitan saat bersiap pergi kerja.
Dunia harus terburu buru merapikan kemeja yang akan digunakan, ia bahkan tak bisa membereskan piring bekas makanannya sendiri. Kondisi rumah sewa yang dia tempati sangat berantakan dan tak terurus meskipun baru beberapa hari saja ia disana.
.
.
.
Setelah perjalanan panjang cukup melelahkan itu, akhirnya gerbang desa yang menjadi tujuan Dunia terlihat juga. Dunia yang sedari tadi tak bersemangat mulai menunjukkan perubahan aura. Ia bersiap merapikan penampilannya seolah hendak bertemu seseorang yang penting. Bi Imas sang art kepercayaan yang duduk di belakang Dunia senyum senyum sendiri melihat perubahan sikap tuan mudanya.
__ADS_1