
Sebuah suara berisik mengusik konsentrasi ku yang saat ini sedang bersama ibu ibu tetangga di dapur. Sepertinya ada yang sedang berdebat di ruangan depan. Aku merasa mengenali suara dua orang yang sedang berteriak itu. Tuan Dunia dan sang ibu tengah bertengkar. Ada apakah gerangan dengan mereka.
Tanpa pikir panjang aku berjalan melangkah menuju ke arah ruangan yang selama beberapa hari ini ditempati oleh bu Bintang beserta stafnya. Semakin mendekati sumber suara semakin tak tenang rasanya perasaan ku, karena beberapa kali mereka saling berdebat dengan nada tinggi dengan menyebut namaku dan juga nama seorang laki laki. Langit, mereka terus menyebut nama itu.
"Fita mendapatkan penyakit terkutuk itu karena kak Langit, dia lah orang yang telah melakukan perbuatan keji malam itu kepada Fita" aku mendengar kalimat ini begitu sampai di depan pintu yang tak tertutup rapat.
__ADS_1
Aku tak mampu untuk bertumpu pada kakiku sendiri. Tubuhku gemetar, rasanya tulang belulang ku dihantam pukulan beribu ribu palu raksasa begitu mendengar kalimat pengakuan yang baru saja keluar dari mulut tuan Dunia. Dua orang terhormat yang sangat aku hormati karena kebaikannya kepadaku ternyata menyimpan sebuah rahasia besar.
"Mereka tak bermaksud berbaik hati kepada ku. Mereka hanya mau membeli penderitaan ku dengan sedikit kebaikan yang ditunjukkan agar aku tak lagi mengejar keluarga mereka dengan dosa dan kutukan. Sungguh keluarga biadab. Tak kusangka mereka sekejam ini mempermainkan hidupku. Aku tak akan mengampuni mereka", bisikan bisikan penuh kebencian meracuni pikiran ku saat ini.
Aku berusaha berontak namun tak berdaya, setengah tubuhku mati rasa, aku masih sepenuhnya sadar namun tak mampu bereaksi.
__ADS_1
Pria itu berteriak histeris seolah ketakutan akan terjadi sesuatu hal kepadaku. Ia meminta pertolongan orang orang di sekitar. Ia begitu tampak mengkhawatirkan kondisi ku. Sungguh aktor yang sangat hebat. Ku acungi jempol untuk akting yang luar biasa dari pria ini.
Setetes air jatuh membasahi pipiku. Air mata kah ini?, air mata pria ini?, wah sungguh luar biasa. Bisa bisanya ia menyempurnakan drama ini dengan sebuah tetesan air mata. Seolah olah ia tampak begitu peduli kepadaku. Aku sungguh sangat muak. Pria menjijikkan yang sangat pintar memanipulasi ini terus memeluk tubuhku. Andai aku bisa melepaskan diri saat ini pasti akan ku lakukan. Lagi lagi aku menyesali penyakit terkutuk yang membuat tubuh ringkih ku ini semakin lemah tak berdaya.
Hingga perlahan aku tak lagi mampu menguasai diri. Kesadaran ku menghilang. Aku tak mengingat apapun lagi. Entahlah bagaimana kacaunya keadaan rumah saat itu. Acara pengajian untuk mendiang ibu yang seharusnya berjalan tenang dan lancar sudah pasti batal terlaksana. Maafkan Fita ibu, bahkan disaat ibu sudah berada di samping Allah pun Fita masih belum mampu membahagiakan ibu.
__ADS_1