Wanita Kesayangan Dunia

Wanita Kesayangan Dunia
Menjalin keakraban


__ADS_3

"Fita bisakah saya meminta pertolongan?" setelah suasana antara Fita dan Dunia mencair, pria itu mulai melancarkan aksinya.


"Pertolongan apa pak?" Lufita tampak antusias.


"Temani saya ke warungnya Bu Made, saya mau beli kartu selular baru" Dunia menjelaskan.


Bu Rima yang diam diam mendengarkan percakapan mereka berdua sedari tadi dibuat senyum senyum sendiri. Tampak jelas kalau Dunia berusaha dekat dengan Lufita anaknya.


"Semoga Fita mau, biar dia gak lagi berkurung diri di rumah" Bu Rima bergumam sendiri.


Lufita memang tak menutup diri sepenuhnya. Ia memiliki beberapa orang teman di daerah sini meskipun tak terlalu akrab. Lufita pun sering terlibat dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh para pemuda desa. Akan tetapi, itu semua hanya dilakukan Lufita sebagai sebuah kewajiban. Ia hanya tak mau terlalu larut dalam masalah dan membuat ibunya sedih, setelah semua kegiatan selesai Lufita akan kembali ke rutinitas awalnya, berdiam diri.


Bu Rima terkadang sedih memikirkan nasib sang anak. Bagaimana nanti masa depan putrinya itu. Akankah ia memiliki seseorang yang menerimanya tulus apa adanya. Jika pikiran ini datang, Bu Rima pasti selalu gelisah.


.


.


.


"Pergilah temani tuan Dunia nak, kasihan beliau tak tahu dimana tempatnya, dan Bu Made kan juga tak terlalu bisa bahasa Indonesia, nanti dia kebingungan berkomunikasi" Bu Rima membujuk Lufita yang tampak ragu.


"Udah, tinggalkan dulu kerjaannya, sekalian ibu titip minuman segar ya" Bu Rima memaksa putrinya itu berdiri dan pergi bersama Dunia. Pria itu tersenyum malu mendapat bantuan dan dukungan dari ibu gadis incarannya.


"Ya udah pak, Fita temani" Lufita mengambil keputusan. Sekali lagi sebuah senyuman sangat mempesona muncul di bibir Dunia.


"Bapak bisa pakai motor?" Lufita berkata sambil menyerahkan kunci ke hadapan Dunia.


"Bisa dong, kita ke warung itu pakai motor ya?" Dunia sangat bersemangat.


"Iya pak, lumayan jauh" Fita menjelaskan kondisinya. Sekali lagi, ekspresinya tampak biasa saja. Terlihat ia tak terpengaruh sama sekali dengan senyuman senyuman maut yang ditebar Dunia berkali kali.


"Ok baiklah, saya yang bawa motor" Dunia kembali tersenyum.


"Permisi ya pak" Lufita meminta izin sebelum duduk di boncengan belakang.


Deg...Deg....Deg....

__ADS_1


Jantung Dunia kembali berdetak tak beraturan. Lufita dalam boncengannya membuat dirinya sedikit grogi.


"Udah pak ayo jalan" Lufita menegur Dunia yang tak bergerak cukup lama.


"Eh...i...iya..." Dunia mulai menghidupkan motor dan melaju menuju tempat yang ditunjukkan penumpang spesial di belakangnya.


.


.


.


Karena kondisi jalanan desa yang buruk, atau memang karena Dunia tak dapat mengendalikan debaran jantungnya, beberapa kali keduanya hampir masuk kedalam kubangan lumpur. Cara mengemudi Dunia sangat buruk kali ini.


Begitu sampai di depan warung Bu Made yang cukup besar dan lengkap itu, Dunia baru menyadari kalau pakaian bagian bawah Lufita kotor penuh lumpur.


"Maaf ya Fita, gara gara saya pakaian kamu jadi kotor" Dunia merasa tak enak hati.


"Tak apa pak, memang jalanan nya sulit dilalui, dulu waktu awal Fita disini juga sering jatuh" gadis itu menjawab menenangkan hati Dunia.


Setelah membeli apa yang menjadi tujuannya, serta beberapa tambahan makanan dan minuman ringan, Dunia membayar tagihannya.


Lufita tersenyum mendengar ucapan ibu penjaga kasir itu serta menanggapi dengan ikut menggunakan bahasa daerah setempat. Dunia semakin kebingungan.


"Dia bilang apa tadi?" Dunia mendekati Lufita saat telah selesai membayar.


"Ibu tadi bilang, anda pasti bukan orang di desa ini, karena anda begitu tampan" Lufita menjelaskan apa yang diketahuinya.


"Hahaha, benarkah begitu?" Dunia salah tingkah.


"Kalau menurutmu apakah benar yang diucapkan ibu penjaga warung itu?" Dunia memancing Lufita agar memuji dirinya.


"Biasa aja sih pak" Lufita menjawab dengan santai dan berjalan mendahului menuju motor.


"Astaga, baru kali ini ada seorang wanita yang tak mengakui ketampanan ku" Dunia menggelengkan kepalanya dan segera berjalan menyusul Lufita.


.

__ADS_1


.


.


Hari berlalu.


Meskipun hubungan mulai mencair antara Lufita dan Dunia, tapi keduanya tetap saling menjaga jarak.


Pagi ini Dunia masuk kedalam kelas Fita untuk mengajar. Seperti biasa Dunia berusaha memancing interaksi antara dirinya dan Lufita namun gadis itu tetap sulit dijangkau. Saat di kelasnya Fita banyak diam dan tak menonjol. Berbeda dengan kesehariannya saat dirumah, begitu ceria dan penuh semangat.


"Apakah gadis ini punya kepribadian ganda?" Dunia sering membatin sendiri melihat sikap Lufita.


"Hai Fita. saya boleh duduk disini?" Dunia menghampiri Lufita yang tengah makan siang di kantin. Tak terlalu sulit mencari gadis itu di tengah keramaian. Dia yang memakai sweater dan biasanya sendirian, itulah Lufita.


"Hai pak, anda makan siang disini juga?" Lufita sedikit terkejut dengan kehadiran Dunia namun tetap menggeser duduknya untuk memberikan tempat kepada guru tampannya itu.


"Saya tertarik melihat tempat ini yang selalu rame, sepertinya makanan disini lezat" Dunia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menandai menu makanan apa yang akan dinikmatinya untuk makan siang.


"Itu soto ayamnya mba Iin enak pak, lontong karinya pak Dito juga enak, bapak bisa cobain" Lufita memberikan rekomendasi menu favoritnya.


"Itu yang kamu makan apa?" Dunia tertarik dengan isi mangkok milik Lufita.


"Bubur ayam, bisa dipesan disitu" Lufita menunjuk ke salah satu gerai di sebelah kanannya.


"Sepertinya enak, saya mau pesan yang sama" Dunia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju gerai yang ditunjukkan Lufita.


Semua mata tertuju kearah Lufita. Banyak yang memandang tak suka melihat keakraban Lufita dengan guru baru favorit mereka itu. Namun meskipun begitu, Lufita tak mau peduli. Dia nampak cuek dan tak mempedulikan. Bubur di mangkoknya masih tersisa setengah dan lebih menarik perhatiannya.


Dunia kembali ke mejanya di sebelah Lufita. Semangkok bubur ayam yang masih berasap ada di tangannya. Dunia melemparkan senyum kepada Fita sebelum duduk berhadapan.


"Selamat makan Fita" Dunia mulai menikmati makanannya dengan penuh semangat. Tak ada percakapan apapun diantara mereka.


"Hallo pak guru ganteng, kami boleh gabung?" Mia teman sekelas Fita yang terkenal cantik dan populer datang merusak suasana. Kehadirannya dilengkapi dengan dua orang dayang dayang setia yang juga tak kalah cantiknya. Mereka memang sangat populer di sekolah. Jauh dibanding Lufita.


"Hai, iya boleh silahkan gabung" Dunia bersikap ramah kepada para murid itu.


"Fita, geser dikit dong" Mia secara frontal menunjukkan ketidaksukaannya.

__ADS_1


"Silahkan lanjut, gue udah selesai" Lufita mengemas peralatan makannya dan berlalu dari tempat itu. Dunia hanya diam melihat kepergian Lufita tanpa bisa menahan kepergiannya.


__ADS_2