
Dunia melirik jam di pergelangan tangannya saat mobil tumpangannya berhenti persis di depan rumah sewanya. Sudah melewati tengah hari. Itu artinya sebentar lagi Fita akan pulang dari sekolah.
Dunia terus memandang kearah rumah Fita yang terlihat sepi. Sementara bi Imas dan sopir sibuk menurunkan barang bawaan sang juragan yang terbilang cukup banyak. Ya Dunia memang sudah berniat untuk tinggal lama di desa ini. Untuk itu semua keperluan menyangkut pekerjaan dan kebutuhan hariannya telah dipersiapkan dalam jumlah yang banyak juga.
"Bi, silahkan atur aja semua barang barang ini sesuai kemauan bibik ya, aku mau ke depan sebentar" Dunia menunjuk kearah rumah Fita yang berada persis di seberang tempat mereka berdiri saat ini. Mobil yang tadi ditumpangi telah melaju jauh pergi meninggalkan mereka.
"Baik tuan" bi Imas menjawab perintah tuannya dengan sopan.
Dunia membawa dua buah paper bag yang sejak dari Jakarta selalu dipegangnya dan tak pernah lepas. Itu adalah oleh oleh spesial yang akan diberikannya kepada gadis manis yang selalu membayangi pikirannya. Lufita Mustika Putri.
.
.
.
"Assalamualaikum" Dunia mengucapkan salam saat memasuki rumah Fita yang tampak sangat sepi.
"Waalaikumsalam" tak menunggu lama, sebuah sahutan terdengar dari dalam.
Seorang wanita yang diketahui oleh Dunia adalah pegawai di konveksi Bu Rima muncul dari dalam rumah.
"Eh tuan Dunia, maaf Bu Rima sedang ke kantor kepala desa untuk mengurus surat izin usaha" dengan ramah wanita itu menjelaskan.
"Oh gitu, kalau Fita udah pulang sekolah mba?" Dunia kembali bertanya.
"Mba Fita belum pulang sekolah,mungkin sebentar lagi" Wanita itu menjelaskan.
Namun belum selesai percakapan mereka, sebuah suara motor mendekat masuk ke arah halaman rumah.
__ADS_1
"Nah itu mba Fita pulang, saya permisi" wanita itu langsung bergegas kembali ke belakang meninggalkan Dunia yang masih membelakangi Lufita menghadap kedalam rumah.
"Deggg..." entah mengapa Dunia merasa begitu grogi bertemu kembali dengan gadis itu. Ia mematung untuk sepersekian detik.
"Pak Dunia?" sebuah suara memanggil pria itu dari arah belakang.
Dunia seketika kembali ke alam nyata, dan membalikkan tubuhnya.
"Hai Fita" dengan canggung Dunia menyambut sapaan gadis manis itu.
Hatinya begitu gembira melihat kondisi Fita yang ditemuinya saat ini. Wajah Fita tak lagi pucat, tampak segar dengan sebuah senyuman manis di bibirnya. Masker penutup wajah pun tak dipakai oleh gadis itu, membuat Dunia dapat melihat langsung keindahan di depan matanya.
"Deg...." jantung Dunia kembali berdegup.
"Bapak baru pulang dari kota ya" Lufita memulai obrolan sembari melepaskan helm di kepalanya.
"I..iya, saya ada urusan mendadak dan tampak sempat berpamitan" Dunia menjawab dengan gugup.
"Kamu apakah juga mencari saya?" ucapan Dunia keluar begitu saja tanpa disadari.
Lufita bersikap seolah tak mendengar apa yang baru saja diucapkan Dunia. Ia mengalihkan pembicaraan.
"Bapak kok gak masuk? mau ketemu ibu ya?".
"Eh aku kesini mau kasih oleh oleh buat kamu dan ibu, tadi kata mba yang didalam ibu lagi ke kantor kepala desa, gak ada dirumah" Dunia menyerahkan dua buah paper bag yang dipegangnya.
"Terimakasih pak, maaf merepotkan" dengan sopan Lufita menerima benda pemberian dari pria itu.
"Sa..saya balik ke rumah dulu ya" Dunia kembali gugup saat selesai menyerahkan kantong belanja itu kepada Fita. Ia kehabisan topik pembicaraan.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Lufita, ia segera berjalan dengan cepat kearah rumahnya. Jantung yang berdetak tak normal itu masih belum bisa dikendalikan.
.
.
.
Sore hari menjelang.
Dunia tampak sibuk di teras rumahnya dengan laptop di tangan. Ia begitu serius mengikuti meeting dengan relasi bisnisnya secara online. Sebuah kacamata yang dipakai menambah kesan wibawanya.
"Slurp"...Kopi yang dibuatkan bi Imas baru saja diseruput pria itu. Sedikit mengurangi ketegangan saraf kepalanya.
"Assalamualaikum"...
Sebuah suara salam terdengar begitu dekat di hadapan Dunia. Suara yang sangat dikenalinya.
"Gubrakkk"....
Gelas kopi panas yang sedang dipegang Dunia tumpah karena terkejut dengan kehadiran orang di depannya. Lufita berdiri persis di hadapannya saat ini.
"Awh" Dunia merasakan panas di pahanya akibat ketumpahan air kopi itu. Laptop yang sedang dipegangnya pun ikut kena dampak. Seketika benda elektronik pipih itu kehilangan fungsinya, mati dan tak dapat digunakan.
"Pak, maafkan saya yang buat anda kaget" Fita menghambur mendekat kearah Dunia. Ia segera mengambil tisu yang ada diatas meja tak jauh dari tempat Dunia duduk. Tanpa sadar ia membantu membersihkan kotoran yang tumpah di baju Dunia. Ia terus mengusap pakaian kotor itu berharap bisa menghilangkan sedikit noda disana. Tanpa disadarinya, Dunia membeku tak bisa bereaksi apapun. Tubuhnya tiba tiba kaku.
"Fita, stop, biar aku sendiri aja" Dunia memegang kedua tangan gadis itu untuk memintanya berhenti. Dunia merasakan sensasi berbeda untuk pertama kalinya disentuh seorang wanita. Ia takut tak bisa menguasai diri.
Dan untuk pertama kalinya juga, Dunia merasakan lembutnya kulit tangan Fita. Gadis yang selama ini menggunakan sarung tangan itu secara kebetulan saat ini tak menggunakannya.
__ADS_1
Lufita tersadar atas apa yang telah dilakukannya. Ia merasakan ketakutan karena Dunia menyentuh kulitnya tanpa pembatas. Tubuh Lufita gemetaran, ia bergerak mundur, membuat jarak menjauh sebelum akhirnya berlari dengan airmata menggenang.
"Fita...Fita" Dunia berusaha mencegah kepergian gadis itu. Tapi untuk mengejarnya lebih jauh Dunia tak berani. Ia membiarkan Fita sementara. Untuk memberikan waktu gadis itu menenangkan diri.