
Mobil sewaan yang dikemudikan Dunia melaju perlahan menyusuri jalanan desa menuju ke rumah Fita. Hujan yang terus turun selama beberapa hari membuat jalanan ditutupi lumpur dan becek.
"Ibu, Fita, sepertinya kita gak bisa masuk sampai ke depan rumah, didepan ada longsoran tanah, jalannya tertutup" Dunia memberitahu kondisi desa mereka saat ini.
"Kita jalan kaki aja ya Bu" Fita spontan memutuskan langkah apa yang harus mereka ambil.
"Apa kamu kuat nak?" Bu Rima masih mengkhawatirkan kondisi sang putri yang masih dalam masa pemulihan pasca sakit.
"Fita kuat Bu" gadis itu memberikan senyum untuk meyakinkan sang ibu bahwa kondisinya baik baik saja.
"Tunggulah disini, biar aku ambil motor, kondisimu gak memungkinkan buat berjalan kaki terlalu jauh, aku khawatir" sebuah ucapan bernada perhatian tulus meluncur dari bibir Dunia.
"Tak apa bang, Fita mau menikmati udara, mumpung cuacanya tidak terlalu terik" Fita bersikeras dengan rencananya berjalan kaki menuju rumah.
"Baiklah" Dunia pasrah menuruti keinginan gadis manis itu. Dengan sikap siaga Dunia mengawal Fita dan ibunya, memastikan keduanya aman sampai kedalam rumah mereka.
.
.
.
"Kamu yakin masih mau melanjutkan?" Dunia sedikit cemas melihat Fita berjalan lambat dan tertatih.
__ADS_1
"Yakin dong, itu udah tinggal sedikit lagi sampai" Fita terus memompa semangatnya dengan senyuman. Hanya semangat lah yang saat ini dimilikinya. Rasa tak ingin dikasihani membuatnya terus berusaha terlihat kuat dan sehat.
Sementara itu Bu Rima tetap sigap di sebelah putrinya, menuntun gadis ringkih itu untuk terus melangkah perlahan menuju rumah mereka. Sesekali mencuri pandang kearah Dunia yang tampak begitu mengkhawatirkan kondisi putrinya.
.
.
.
Sore hari menjelang.
Dunia kembali datang berkunjung kerumah Fita. Suasana dari luar tampak lengang, sepertinya penghuni rumah sedang beristirahat didalam.
"Loh, nak ngapain disitu, silahkan masuk!", Bu Rima baru saja muncul disaat Dunia hendak membatalkan niatnya bertamu.
"Maaf saya mengganggu Bu, hanya mau memastikan kondisi Fita" Dunia memberitahukan alasan kedatangannya.
"Fita baru saja selesai mandi, tunggu sebentar ya ibu panggilkan" Bu Rima sangat bersemangat.
Dunia mengangguk setuju, ia tak sabar ingin melihat sang gadis pujaan hati muncul. Sebuah rencana untuk masa depan Fita akan diutarakannya. Rencana yang tiba tiba saja terlintas di benaknya saat tadi menuju rumah Fita.
"Ibu, Fita, saya kesini mau menyampaikan sebuah rencana" Dunia gerak cepat tak membuang waktu saat Fita dan ibunya muncul dari arah dalam rumah.
__ADS_1
"Sini duduk" Dunia menepuk lantai di sebelahnya berharap Fita mendekat. Dengan wajah kebingungan gadis itu menuruti kemauan Dunia.
"Mengenai sakit yang Fita derita saat ini, saya punya kenalan dokter di kota yang bisa mengobati, semakin cepat Fita mendapatkan penanganan maka akan semakin cepat pula kesembuhan yang kita harapkan" Dunia sangat bersemangat mengutarakan rencananya.
"Saya gak akan bisa sembuh, saya akan terus seperti ini, saya gak bisa sembuh" Fita berteriak histeris. Mendengar rencana Dunia yang ingin membawanya ke kota membuat Fita ketakutan. Trauma yang dialaminya beberapa tahun lalu mulai menghantuinya kembali.
Fita menangis terisak dan berlari masuk kedalam kamarnya lagi. Bu Rima dengan sedikit tergopoh menyusul sang putri untuk menenangkannya.
Tak berselang lama, Bu Rima kembali muncul menemui Dunia yang saat ini tengah duduk di depan teras. Pemuda itu shock atas reaksi frontal dari Fita. Gadis manis lemah lembut yang selama ini dikenalnya ternyata bisa histeris dan berteriak seperti itu. Begitu dalamnya trauma yang Fita hadapi.
"Tuan Dunia,maafkan saya untuk kali ini" Bu Rima menyapa Dunia dengan nada tegas namun sopan.
"Saya rasa anda sudah terlalu jauh mencampuri kehidupan Fita. Saya berharap dengan sangat agar anda bisa menghormati dia, menghargai keinginan dia, jangan campuri apapun yang bukan menjadi urusan anda" nada suara Bu Rima bergetar. Ia menahan emosi saat berbicara dengan pemuda yang ada di hadapannya saat ini. Ia merasa Dunia sudah melewati batasnya sebagai orang luar.
"Dari awal Fita sudah tidak mau membahas apapun tentang penyakit yang dideritanya. Ia sudah cukup bahagia selama ini dengan cara berusaha melupakan apa yang sedang terjadi di tubuhnya. Ia sibuk menghibur dirinya sendiri setiap hari, ia menyemangati dirinya sendiri" Bu Rima berbicara dengan terisak.
"Fita menutup diri agar tak ada orang lain yang mengetahui penyakitnya, tapi perlahan anda berhasil mendapatkan informasi itu, dan dengan tanpa basa basi anda mengatur kehidupannya, menawarkan bantuan yang dia sendiri tak menginginkannya. Anda tak pernah bertanya kepadanya apakah dia nyaman untuk dibahas mengenai hal itu?" Bu Rima melanjutkan kalimat penuh emosinya.
"Deg"
Dunia terhenyak.
Ia sadar atas kesalahannya. Ia terlalu agresif dan mendominasi kehidupan Fita. Ia masuk terlalu jauh tanpa memikirkan perasaan gadis itu. Dunia lupa posisinya sebagai apa seharusnya. Dari awal ia adalah tamu di rumah itu.
__ADS_1