
Setelah beristirahat cukup lama, di sore harinya Dunia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menemui sang kakak yang masih dirawat.
Dunia hanya berdiri di sebelah ranjang rumah sakit menatap tajam kearah sang kakak yang tertidur pulas, tak berniat membangunkannya.
Tangannya mengepal kuat menahan emosi. Andai kondisi kakaknya dalam keadaan sehat, mungkin saja sebuah pukulan untuk melampiaskan amarah sudah mendarat di wajah pria itu.
Dunia sangat membenci para pria yang tega menyakiti wanita. Dari dulu ia selalu menghormati kaum hawa, karena baginya wanita adalah makhluk lembut yang harus disayangi dan tak boleh tersakiti.
Mungkin karena prinsip inilah, Dunia tak banyak memiliki pacar. Mantan pacarnya bisa dihitung beberapa orang saja. Saat ia merasa tak ada kecocokan dengan hubungan yang dijalani, Dunia lebih memilih berpisah dengan cara baik baik, ia tak berpikir untuk memanfaatkan para wanita yang dekat dengannya itu. Meskipun para wanita tersebut rela menyerahkan apapun untuk bisa bersamanya, termasuk kehormatan dan harga diri mereka.
Saat ini Dunia memilih sendiri tanpa pendamping di sisinya. Masalah bisnis serta penyakit kakaknya sudah cukup menguras energinya, hingga tak ada waktu lagi buat ia bersenang senang memikirkan dirinya sendiri.
Tak berselang lama, Langit mulai terbangun, matanya mengerjap melihat kearah sang adik yang sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Apa kau sudah lama?" Langit menyapa Dunia dengan terbata bata. Nafasnya tersengal sengal saat berbicara.
"Iya, sudah lama" Dunia menjawab pendek namun tetap dengan tatapan penuh amarahnya.
"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu?" Langit menyadari ada sesuatu yang tak beres pada lawan bicaranya itu.
"Kau laki laki bangsat, andai kau tak dalam kondisi seperti ini, aku pastikan kau akan mendekam di penjara" nada suara Dunia penuh amarah.
Langit terhenyak tak percaya akan ucapan yang baru saja dilontarkan sang adik. Tak biasanya pria itu bersikap tak sopan kepadanya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau menghancurkan hidup seorang gadis remaja, dia masih terlalu kecil. dia bahkan belum tamat sekolah" Dunia semakin menjadi jadi. Amarah yang dipendamnya berhari hari tak dapat lagi terbendung. Bayangan Lufita dengan segala penderitaan yang harus ditanggungnya membuat Dunia benci sang kakak.
"Siapa?, apa yang sedang kau bicarakan ini?" Langit berusaha menanggapi perkataan adiknya itu.
"Aku menemukannya, telah menemukannya, gadis tak berdosa yang kau sakiti dan rusak masa depannya" Dunia setengah berteriak saat mengucapkan kalimat ini. Tangisnya pecah karena tak sanggup menahan amarah.
Mata langit membelalak tak percaya. Berita yang baru saja didengar dari sang adik sangat mengejutkannya.
.
.
.
Langit sangat shock mendengar ucapan darinya beberapa menit lalu. Kondisinya yang tak stabil bertambah buruk. Langit mengalami kesulitan bernafas parah hingga membuatnya harus mendapatkan penanganan serius. Hati Dunia kacau balau. Sedikit rasa sesal menyelimuti, akibat emosi yang tak terkendali membuat ia harus melihat sang kakak seperti ini.
"Bodoh banget sih gue, gak bisa nahan sabar kepada kak Langit, dia lagi sakit, gue gak seharusnya menyerang dia dengan ucapan kasar seperti tadi" Dunia bergumam sendiri. Helaan nafas berat dihembuskannya.
.
.
.
__ADS_1
Sementara itu di belahan bumi yang lain. Lufita sedang berjemur di bawah terik matahari untuk menghangatkan tubuhnya. Ia memang tak menjalani rawat inap di rumah sakit, hanya beristirahat beberapa jam di ruangan UGD sampai kondisinya memungkinkan untuk pulang. Penunjang hidup yang telah disuntikkan kepadanya benar benar sangat mujarab membuat kondisi Lufita kembali membaik.
"Nak, ayo masuk kedalam, udah terlalu panas ini cuacanya" Bu Rima menghampiri putrinya yang sedang melamun di teras depan rumahnya.
"Sebentar lagi ya Bu, Fita masih ingin menghirup udara disini, rasanya nyaman" gadis itu menjawab ucapan sang ibu. Nada suaranya masih terdengar lemah.
"Ya sudah, ibu tinggal kedalam buat bikin sarapan ya" Bu Rima kembali meninggalkan Fita sendirian.
Tak berselang lama, Wiryo yang baru kembali dari warung lewat di depan rumah Fita dan menyapa gadis itu.
"Kak Fita, bagaimana keadaan kakak sekarang?" Wiryo yang memang sangat akrab dengan Fita menanyakan kabar gadis itu.
"Aku udah sehat dek" Fita menjawab dengan senyum pertanyaan bocah kecil itu.
"Ah syukurlah kak, kami sangat khawatir" Wiryo menunjukkan kelegaan hatinya.
"Tuan Dunia juga sangat khawatir, ia bahkan menyusul kak Fita ke klinik waktu itu" Wiryo dengan polos menjelaskan apa yang di ketahuinya.
"Eh benarkah? emangnya ada urusan apa dengan beliau?" Fita terkejut mendengar ucapan Wiryo.
"Sepertinya tuan Dunia suka deh sama kak Fita, ya wajar sih kan kak Fita sangat cantik, gadis tercantik di desa ini, kalau aku udah dewasa aku juga akan menyukai kak fita dan menjadikan kakak pacarku" Wiryo berkata dengan gaya sok dewasa.
"Haha, kamu ya anak kecil bicaranya udah macam orang dewasa" Fita menyambut rayuan Wiryo dengan candaan.
__ADS_1
Bu Rima yang sedang mengawasi putrinya dari dalam mendengar perbincangan putrinya dengan Wiryo. Dalam hatinya ia membenarkan semua ucapan Wiryo, firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan kalau memang ada yang beda dengan tatapan Dunia kepada Fita. Sejak awal mereka bertemu. Andai Fita tak sakit, mungkin ini semua akan membuat putrinya itu bahagia, tapi kini, untuk sekedar membayangkan masa depan putrinya pun ia tak berani. Biarlah waktu menjawab semuanya.