
Zeline terus saja berlari dengan air mata yang senantiasa menemaninya. Entah Zeline menyadari atau tidak, dari arah berlawanan seseorang yang juga tengah melangkah terburu-buru sembari berbicara dengan seseorang di ponselnya juga terlihat hingga akhrinya keduanya bertabrakan.
"Aw...."
"Sial!"
Suara keduanya terdengar. Zeline melihat ke bawah dan melihat ponsel seseorang yang bertabrakan dengannya terjatuh, tanpa niat untuk mengambil atau melihat orang yang bertabrakan dengannya, Zeline berniat melanjutkan kembali langkahnya, sebab Zeline seakan tidak punya waktu untuk melakukan hal lainnya selain berlari dan mencari tempat untuk meluapkan semua tangisnya.
"Maaf," ucapnya singkat, berniat pergi.
Baru tiga langkah kaki itu bergerak, Zeline merasakan seseorang menarik lengannya hingga tubuh Zeline berputar arah menatap seseorang yang telah berani menyentuhnya.
"Apa kamu tidak punya sopan santun?" ucap pria yang bertabrakan dengan Zeline terdengar marah, tetapi sesaat kemudian amarah dari pria itu meredup saat melihat wajah cantik Zeline yang tengah bersedih.
"Aku terburu-buru. Aku tidak sengaja dan aku juga sudah meminta maaf," ucap Zeline mengangkat wajahnya menatap pria yang masih menatap intens padanya, seolah tengah menilai satu persatu apa yang ada pada Zeline.
Manik keduanya bertemu, pria itu terus saja menatap Zeline. Menatap mata cantik nan jernih berwarna coklat yang terlihat berkaca-kaca itu. Rasa ingin melindungi hadir pada Zeline.
__ADS_1
"Ada apa? Siapa yang telah menyakitimu?" tanya pria itu yang tiba-tiba terdengar peduli pada Zeline. Zeline yang mendengar itu kembali teringat akan apa yang baru saja terjadi.
"Bisa tolong lepaskan tanganku!" pinta Zeline melirik tangan pria yang masih mencengkram erat lengannya.
"Maaf," cicit pria itu melepaskan tangannya.
"Siapa yang telah membuatmu menangis?" tanya pria itu lagi membuat Zeline semakin menatap aneh padanya. Pria yang baru dia temui dan bersikap seakan-akan mereka dekat.
"Maaf, bukan urusanmu!" jawab Zeline sembari bergerak mengambil ponsel pria itu yang masih tergeletak di lantai.
"Sekali lagi aku minta maaf untuk ini, aku akan menggantinya jika ada kerusakan. Ini nomorku, hubungi aku juga ada yang perlu diperbaiki. Aku harus pergi!" ucap Zeline setelah mencatat nomer ponselnya di ponsel pria itu yang sedikit retak, lalu memberikannya kembali pada pria itu.
"Namanya Zeline. Bekerja di Nolan Hotel. Suatu kebetulan yang bagus," ucapnya mengingat nama yang sempat dia lihat melekat di seragam Zeline.
***
Zeline kembali berlari menjauh dari Nolan Hotel. Menghentikan taksi untuk pulang ke tempat tinggal barunya, perumahan tipe tiga delapan yang Zeline beli secara langsung dari seseorang, rumah yang sangat cukup untuk Zeline tempati.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Zeline tiba di tujuan. Zeline membayar ongkos taksi tanpa menghiraukan tatapan sopir taksi yang menatap heran padanya yang terus saja menangis. Setelah membayar taksi dan mengucapkan terima kasih, Zeline bergegas masuk ke dalam rumahnya.
"Apa yang membuatmu tidak pernah ingin menikahiku, Daniel? Sikapmu seperti itu selalu membuatku ragu akan perasaanmu padaku. Jika kamu tidak mencintaiku, lalu kenapa kamu harus seperti itu mengejarku? Namun jika kamu mencintaiku, kenapa sulit sekali untukmu membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius? Kenapa kamu tidak pernah bisa memberikan aku jawaban yang pasti atas semua permintaanku, Niel?" ucap Zeline jatuh terduduk lemas di balik pintu rumahnya. Zeline terus saja mengucapkan pertanyaan yang selalu ada di benaknya, tetapi tak pernah mendapat jawaban dari pertanyaanya.
Meminta berpisah dari Daniel bukan sekali dua kali dia lakukan, mereka bahkan sempat berpisah selama beberapa minggu saat itu hubungan mereka baru berusia satu tahun. Zeline memutuskan semua hubungan mereka sama seperti saat ini yang dia lakukan, tetapi bedanya saat itu ia bahkan mencoba menghilang tanpa meninggalkan jejak, membawa semua kenangan bersamanya, tetapi tetap saja Daniel dapat menemukannya.
Bersembunyi dari Daniel, adalah hal yang sulut karena Daniel akan dengan mudah menemukannya, oleh sebab itu Zeline tak pernah lagi berpikir untuk pergi jauh bersembunyi dari Daniel.
Dua tahun yang lalu, saat mereka berpisah, masalah bisa di selesaikan.
Kesungguhan dan keseriusan Daniel dalam mengejaranya saat itu, membuat Zeline kembali luluh, memaafkannya dan mau melanjutkan hubungan mereka.
Sekarang, rasa itu kembali datang, kembali datang bahkan lebih besar dari sebelumnya. Rasa putus asa atas hubungan mereka yang tidak sedikitpun bergerak maju, dan masih menggantung tanpa kepastian.
Zeline sudah bertekad jika kali ini dia tidak akan menerima Daniel kembali dalam hidupnya jika Daniel belum juga mau menikahinya. Dia akan kembali jika Daniel mampu memberi kepastian padanya.
Karena menurut Zeline, jika Daniel benar mencintainya, maka Daniel akan menikahinya bagaimanapun caranya.
__ADS_1
"Buktikan padaku jika kamu benar-benar mencintaiku, Niel. Hanya itu yang aku mau," ucapnya.