Wanita Kesayangan Tuan Daniel

Wanita Kesayangan Tuan Daniel
Bercerita Pada Tian


__ADS_3

Tian masih dipenuhi dengan beragam tanya, aksi Zeline yang memeluknya secara tiba-tiba membuat Tian terkejut seolah tidak percaya apa yang dilakukan oleh wanita itu kepadanya.


Sikap cuek dan acuh Zeline yang selalu ditunjukkan kepada Tian, membuat tentu saja tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan kejutan seperti ini, tangan Zeline begitu kuat memeluk pinggangnya dan wanita itu masih menangis sesegukan.


Berulang kali Tian menanyakan apa yang terjadi kepada Zeline, tapi wanita itu tetap saja bungkam dan tidak bicara apapun kepada Tian untuk menjawab pertanyaannya.


"Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu Zeline? Kau masih saja diam seperti ini sehingga membuatku menjadi bingung." Tian tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak ingin jika sampai tangisan Zeline mengundang perhatian orang-orang yang ada di restoran itu.


Tian memutuskan untuk membawa Zeline keluar dari restoran tersebut, karena jika Tian tidak secepatnya membawa Zeline pergi, maka orang-orang yang ada di restoran itu pasti akan berpikir yang tidak tidak padanya.


"Kita pulang sekarang juga, ayo." Tian membantu Zelin untuk berdiri dan langsung menggendong wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


Zeline pasrah dan menurut saja ketika Tian menggendongnya keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil pria itu, Zeline tidak punya kekuatan dan kehilangan akalnya. Kabar buruk yang disampaikan oleh Rihana padanya, membuat seluruh ingatan dan juga apapun mengenai dirinya luruh seketika.


Bagi orang-orang yang melihat pemandangan itu, pasti akan berpikir jika Tian adalah pria yang sangat romantis dan sangat memanjakan kekasihnya. Padahal Tian hanya tidak ingin jika mereka melihat dan berpikir macam-macam karena Zeline menangis dan memeluknya secara tiba-tiba.


Kondisi Zeline sama seperti sebelumnya, dia masih saja menangis sesegukan. Seolah tenaganya terkuras habis oleh air mata itu, Tian semakin bingung karena dia tidak ingin berpikir dan menduga-duga takut menjadi salah. Sehingga Tian tetap berusaha mendesak dan memaksa Zeline untuk mengatakan apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


"Ayolah, Zeline. Bicaralah, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba kau menangis seperti ini? Siapa sebenarnya wanita yang tadi bicara denganmu?" Dengan beragam pertanyaan Tian mendesak Zeline agar mau menceritakan kejadian apa yang menyebabkannya sampai menangis seperti itu.


"Saya mau minta tolong sama, bapak. Saya minta izin untuk tidak kembali ke kantor, karena saya ingin pulang saja ke rumah." Bukannya menjawab pertanyaan Tian, tapi Zeline justru meminta izin pada pria itu untuk tidak melanjutkan pekerjaannya di kantor.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah." Tian setuju dan segera menyalakan mobilnya lalu meninggalkan halaman parkir restoran.


Meskipun sebenarnya Tian masih penasaran apa yang terjadi pada Zeline, Tian belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang tadi dia lontarkan pada wanita itu. Mungkin sekarang Zeline masih butuh waktu dan dia ingin tenang dengan pulang ke rumahnya, akhirnya Tian pun setuju dan mengantarkan Zeline.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Zeline, wanita itu tetap terdiam dengan matanya yang menetap kosong ke sembarang arah. Sesekali masih terdengar suara Isak tangisnya yang membuat Tian tidak sabar lagi ingin secepatnya sampai ke rumah dan kembali bertanya pada Zeline tentang apa yang terjadi padanya.


"Sudah sampai, Zeline." Tian memegang bahu Zeline karena sekarang mereka sudah sampai di depan rumah Zeline.


Zeline tersentak kaget dan melihat ke sekelilingnya, ternyata benar sekarang dia sudah sampai di depan rumahnya. Zeline menganggukkan kepalanya dan hendak membuka pintu mobil untuk keluar.


"Kau tetap diam di dalam mobil, biar aku yang buka pintunya." Tian menahan tangan Zeline dan memerintahkan agar wanita itu tetap diam.


Lagi-lagi Zeline tidak membantah, dia hanya diam saja menunggu Tian membukakan pintu mobil dan membantunya turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


Tian sangat mencemaskan keadaan Zeline yang lemah seperti itu, sehingga Tian memutuskan untuk menemani Zeline di rumahnya sampai kondisi wanita itu sudah lebih baik.


Sesampainya di ruang tamu rumah Zeline, yang pertama dilakukan oleh Tian adalah pergi ke dapur dan mengambil minum untuk Zeline.


"Minumlah, agar kau sedikit membaik. Aku akan menemanimu di sini, sampai kau benar-benar siap untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tian duduk di hadapan Zeline yang masih diam membisu.


Zeline kembali menangis, hatinya masih terasa sakit ketika mengingat apa yang disampaikan oleh Rihana padanya, bahkan undangan yang dibaca langsung oleh Zeline kembali terbayang, jika nama yang tertera di undangan tersebut adalah nama pria yang sangat dicintainya dan juga merupakan calon suaminya.


"Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu? Sejak tadi di restoran bahkan sampai di rumah, kau masih saja menangis tanpa bercerita padaku mengenai apa yang sebenarnya terjadi? Aku mohon, Zeline. Bicaralah. Jangan hanya menangis saja seperti ini, karena aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkanmu jika aku saja tidak mengetahui penyebab kau menangis." Tian hampir putus asa dan kembali mendesak agar Zeline buka suara dan cerita padanya.


Kehadiran Tian yang sekarang menemani Zeline di rumahnya dalam kondisi kacau balau seperti itu, membuat Zeline sadar jika dia tidak bisa membiarkan masalah yang menyakitkan hatinya dia hadapi sendiri. Bahkan Tian menggendongnya karena tubuhnya yang kehilangan tenaga karena kabar buruk tersebut.


"Wanita yang tadi mendatangiku di restoran, namanya Rihana. Ternyata dia calon istrinya Daniel, pria yang sebentar lagi akan menikah denganku. Bahkan Rihana menunjukkan undangan pernikahan mereka, sehingga aku seolah tidak percaya jika pria yang sangat aku cintai tega mengkhianatiku seperti ini. Semua keperluan untuk pernikahanku dengan Daniel sudah selesai diurus, dari mulai baju dan yang lainnya juga."


"Daniel kembali ke Jakarta dengan alasan karena dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya di sana, barulah setelah itu dia akan kembali ke Sumatera dan menikahiku. Tapi kenyataannya, Daniel ke Jakarta bukan untuk menyelesaikan proyek pekerjaannya. Melainkan menikahi wanita yang bernama Rihana itu. Jika nanti Daniel kembali ke Sumatera dia pasti akan menikahiku tapi aku dijadikan istri keduanya, dan aku tidak terima itu Aku tidak mau jika harus menjadi istri kedua." Zeline menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Zeline menangis lagi sesegukan karena dadanya terasa sakit menerima penghianatan Daniel.


Zeline menceritakan semua kepada Tian apa yang sebenarnya terjadi dan penyebab yang membuatnya menangis, sementara Tian langsung terkejut dan tidak percaya jika wanita yang ada di hadapannya harus menerima kenyataan pahit yang sudah menghancurkan perasaannya

__ADS_1


__ADS_2