
Perjalanan Jakarta-Sumatera sama sekali tidak terasa melelahkan bagi Daniel, senyum nampak tersungging sepanjang perjalanan yang menemaninya sampai ke rumah Zeline. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam waktu Setempat, Daniel langsung mengetuk pintu rumah wanita yang sangat dicintainya.
Zeline baru saja selesai membersihkan diri setelah dia pulang bekerja dan membereskan rumah, suara ketukan di pintu membuat Zeline mengurungkan niatnya yang semula akan pergi ke kamar. Dia sempat bertanya-tanya siapa gerangan yang bertamu malam-malam seperti ini? Tapi karena penasaran dan Zeline berpikir jika tamu itu adalah salah satu teman kantornya, sehingga Zeline memutuskan untuk segera membuka pintu. Tapi sebelum itu Zeline ingin melihat dulu dari jendela.
"Kau, mau apa dia datang ke sini lagi?" Zeline tahu jika tamu yang datang adalah Daniel. Dia melihat pria itu dari jendela ternyata sedang berdiri di depan rumahnya. Meski mulutnya berkata seperti itu, tetapi jauh di lubuk hatinya ada perasaan berbeda.
Zeline berniat untuk mengusir Daniel, tapi saat Zeline membuka pintu rumahnya. Dia langsung kaget karena mendapatkan kejutan yang sama sekali tidak pernah terduga sebelumnya.
Daniel berjongkok lalu menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna merah yang sudah terbuka, di dalamnya terdapat cincin berlian sehingga membuat Zeline dia membeku.
"Will you marry me?" ucap Daniel dengan penuh sukacita sambil memegangi kotak cincin tersebut di hadapan Zeline.
Ternyata Daniel datang melamar Zeline dengan sangat romantis sekali, pria itu juga membawa bunga kesukaan Zeline sehingga membuat Zeline tersentuh oleh ketulusan Daniel yang sudah jauh-jauh kembali datang ke Sumatera menemui dan melamarnya.
__ADS_1
"Ini, apakah kau sedang tidak bercanda, Daniel? Maksudku, kau benar-benar melamarku?" Zeline membekap mulutnya seolah tidak percaya jika sesuatu hal yang selama ini menjadi impiannya sekarang benar-benar terjadi di hadapannya langsung.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan, dia memasangkan cincin berlian di jari manis tangan kiri Zeline. Lalu mengecup tangan wanita yang sangat dicintainya, setelah itu Daniel memberikan bunga yang terlihat sangat cantik sama seperti wanita di hadapannya.
"Maafkan aku, Ze. Karena baru hari ini aku bisa mewujudkan keinginan yang sudah lama sekali kau inginkan, bagaimana? Apakah kau menerima lamaranku dan bersedia menikah denganku?" Daniel berdiri di hadapan Zeline dengan jarak yang cukup dekat.
Zeline hanya bisa menganggukkan kepalanya karena dia tidak mampu berkata-kata saking terharunya dengan semua yang sudah dilakukan oleh Daniel hari ini, akhirnya mereka berdua kembali bersama dan saling berpelukan untuk meluapkan rasa bahagia yang memang sudah lama sekali diinginkan oleh Zeline.
"Lalu kapan kau akan menikahiku? Aku tidak akan memberikan maaf jika kau sampai membuatku hanya berharap sama seperti yang sudah-sudah." Zeline langsung melontarkan pertanyaan yang memang sejak lama selalu dia ucapkan kepada Daniel.
"Akhir bulan ini aku ada proyek yang harus diselesaikan, jadi untuk dua minggu ke depan aku akan menetap di Jakarta. Tapi setelah proyeknya selesai barulah aku akan kembali ke Sumatera menikahimu." Daniel menjawab pertanyaan Zeline dengan penuh keyakinan dan memang itulah rencana yang tersusun olehnya beberapa hari terakhir ini.
"Lalu bagaimana dengan acara selanjutnya? Apakah keluargamu juga akan datang?" Zeline harus memastikan jika rencana Daniel yang akan menikahinya kali ini benar-benar terwujud bukan hanya janji dan rayuan Daniel seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
"Untuk sementara kita menikah siri saja, karena aku pasti akan sangat sibuk sekali, baru setelah semuanya selesai dan beres barulah kita akan mengadakan pesta resepsi yang sangat mewah. Tentu saja kedua orang tuaku akan hadir dan memberikan restu untuk pernikahan kita." Daniel meyakinkan Zeline agar mereka berdua menikah secara siri, tanpa Selin ketahui ada maksud lain dibalik ucapan Daniel itu.
Daniel begitu serius meyakinkan Zeline, dengan kata-kata manis yang memang mampu saja menghipnotis wanita itu. Maka dengan mudahnya Zeline percaya begitu saja dengan apa yang barusan dikatakan oleh Daniel.
Daniel tentu saja sangat bahagia sekali karena rencananya berjalan lancar, Zeline bersedia menikah siri terlebih dulu dengannya karena Daniel akan mengurus masalahnya dengan Rihana barulah setelah itu dia bisa melanjutkan acara pernikahannya dengan Zeline secara meriah.
"Aku setuju dan percaya padamu, karena memang sudah sangat lama sekali Aku berharap dapat menikah denganmu, Aku sangat mencintaimu Daniel." Zeline langsung memeluk tubuh Daniel yang juga merengkuh pundaknya.
Obrolan keduanya sama seperti ketika sebelumnya mereka bersama, karena beberapa waktu terakhir saat Zeline memutuskan untuk mengakhiri hubungan keduanya, Zeline memilih keluar dari apartemennya dan tinggal di rumah baru. Dan malam ini baik Zeline maupun Daniel sama-sama sedang meluapkan rindu dan juga rasa cinta yang memang masih tersimpan di hati mereka masing-masing.
Situasi dan juga tidak adanya restu dari orang tua Daniel, yang membuat dirinya selalu berusaha untuk memberikan kenyamanan kepada Zeline. Dan karena hal tersebut yang menyebabkan beberapa kali Zeline ingin menyudahi hubungan mereka, sebab Zeline hanya meminta kepada Daniel untuk secepatnya meresmikan hubungan keduanya ke jenjang pernikahan. Malam ini keduanya tertidur dengan saling berpelukan dan berpegangan tangan, satu sama lain sangat erat sekali.
Aku mohon, Tuhan. Jika ini mimpi, tolong biarkan aku bermimpi, jangan bangunkan aku dari mimpi yang indah ini. Batin Zeline.
__ADS_1