
”Ze, aku ada pekerjaan mendesak. Aku tidak bisa menjaga Daniel, tolong temani dia sampai dia sadar atau paling tidak sampai aku kembali!" ucap Nick yang sudah kembali dengan membawa obat untuk Daniel.
Zeline ingin sekali menolak, berdua bersama Daniel hanya akan membuatnya semakin sulit untuk melupakan Daniel. Namun, Zeline juga tak bisa untuk menolak permintaan Nick, sebab hatinya tidak akan tega meninggalkan pria yang dicintainya itu sendirian dalam keadaan kurang baik seperti sekarang.
"Baiklah, tolong jangan terlalu lama, Kak!" jawab Zeline yang hanya diangguki oleh Nick, sebelum akhirnya pergi.
Zeline menunggu Daniel terbangun, dengan menghabiskan waktunya bermain ponsel yang sudah sangat jarang digunakan. Sebelumnya ia sudah sempat kembali ke rumah, mengambil ponsel lalu mengunci pintu rumahnya dan kembali ke tempat Daniel, atau bisa dikatakan apartemen lamanya.
Melihat Daniel yang belum juga sadar, Zeline keluar dari kamar untuk membuatkan Daniel bubur. Dua puluh menit selesaj dengan pekerjaannya di dapur, Zeline kembali ke kamar meletakkan nampan berisi bubur dan obat di atas nakas, Zeline duduk di lantai, tepatnya di samping tempat tidur Daniel. Ia menatap mata yang terpejam itu dengan seksama. Wajah itu terlihat begitu kusam menurutnya, rambut-rambut halus yang ada di dagu dan rahang mantan kekasihnya itu tak lagi terurus, benar-benar terlihat tak terawat berbeda dengan Daniel yang selama ini begitu menjaga penampilannya.
Zeline mengusap lembut wajah itu. Hatinya benar-benar sakit setiap kali mengingat hubungan mereka yang berakhir tragis. Ia sangat berharap bisa menjadi istri Daniel. Awal menjalin hubungan, Zeline berpikir jika dia akan menjadi wanita paling bahagia karena memiliki kekasih seperti Daniel. Namun nyatanya dia justru menjadi wanita paling menyedihkan saat ini.
"Cobalah mengatakan jika kamu akan menikahiku, Niel. Berikan aku janji, berikan aku alasan untuk bertahan. Jangan gantung aku seperti ini, tanpa sebuah harapan. Berjanjilah kamu akan menikahiku, Niel, maka aku akan menunggumu. Menunggu sampai batas waktu yang wajar," ungkap Zeline pelan sebelum akhirnya ia terlelap saat rasa kantuk mulai menyerangnya.
Zeline yang begitu kelelahan itu tertidur masih dalam posisi yang sama, yaitu duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di atas ranjang Daniel.
Beberapa saat setelah wanita itu terlelap. Pria yang sedari tadi ditatap olehnya itu membuka matanya, dengan mata berkaca-kaca ia menoleh ke samping pada wanita yang begitu ia cintai dan ia tahu juga mencintainya.
Rasa bersalah begitu besar ia rasakan karena sudah menyakiti wanitanya itu. Daniel benar-benar mencintai Zeline dan ia berpikir untuk mengambil langkah dimana ia bisa kembali bersama wanitanya itu. Apapun cara yang ada, akan ditempuh jika itu bisa membuat mereka kembali bersama. Tekadnya.
__ADS_1
Daniel perlahan turun dari tempat tidur. Dengan sangat hati-hati ia bergerak agar tak membangunkan Zeline. Setelah berdiri di samping ranjang, pria yang tangannya terluka cukup parah itu berusaha mengangkat tubuh Zeline untuk meletakkannya di atas tempat tidur.
Wajah tampan itu terlihat menahan sakit saat ia berusaha mengangkat Zeline, namun ia tak mengurungkan niatnya sekalipun perban yang ada di tangannya kembali memerah oleh darah saat lukanya kembali terbuka.
Meski sedikit kesulitan Daniel berhasil membaringkan Zeline di atas tempat tidur, tanpa membangunkannya. Ia mengatur posisi tidur kekasihnya agar merasa nyaman, setelah itu terdiam memandangi wajah cantik yang terlihat sembab karena menangis itu, mengabaikan tangannya sendiri yang terluka dan berdarah.
"Sayang, kita pasti akan menikah. Hanya kamu wanita yang aku cintai, dan aku tidak akan pernah mencintai wanita lainnya. Aku bersumpah tidak akan pernah mencintai wanita lainnya, selain kamu." Dengan sangat lembut ia mengecup dahi Zeline, lalu kembali berbaring di samping Zeline, sembari membawa wanita itu masuk ke dalam pelukannya.
Esok harinya.
Zeline terbangun dari tidurnya dan merasakan tangan seseorang tengah memeluknya, untuk itu ia yang panik langsung membuka matanya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah orang yang memeluknya.
Ia bernafas legah setelah membuka matanya melihat orang yang memeluknya adalah orang yang sama, satu-satunya pria yang pernah menyentuhnya.
"Selamat pagi sayang," ucap pria yang tidur memeluknya dengan santai mengecup dahinya seakan tak ada masalah diantara mereka.
"Niel, kamu mengangkatku ke atas ranjang?" tanya Zeline, namun sesaat kemudian ia sontak terbangun dan langsung mengecek tangan Daniel.
"Bodoh! Lihat ini berdarah bahkan sudah mengering!" seru wanita itu merasa kesal dan panik secara bersamaan melihat tangan Daniel yang perbannya sudah mengering oleh darah.
__ADS_1
Zeline dengan sigap turun dari tempat tidur lalu mengambil kotak obat dan membersihkan tangan Daniel lalu kembali mengobatinya.
Selama wanita itu mengobati tangannya, Daniel sama sekali tak meringis seolah tak merasakan perih di tangannya, tatapannya fokus pada wanita yang tengah serius mengobatinya itu.
"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu, aku berjanji akan menikahimu!" ucap Daniel membuat Zeline terdiam sejenak saat mendengar ucapannya. Zeline merasa amat senang mendengar hal tersebut namun setelahnya ia kembali melanjutkan pekerjaanya mengobati tangan Daniel saat ia pikir mungkin saja Daniel tengah meracau.
Setelah selesai mengobati tangan Daniel, Zeline yang melihat jam masih ada waktu untuknya membuat sarapan untuk Daniel segera turun dari tempat tidur dan dengan cepat menuju dapur yang ada di sana, kembali membuatkan bubur untuk Daniel.
Daniel yang melihat hal itu, tentu tak tinggal diam. Ia mengikuti Zeline, namun sebelumnya mencuci wajah dan menggosok giginya.
Ia duduk dengan begitu tenangnya melihat Zeline yang tengah berkutat di dapur.
Sepuluh menit kemudian, Zeline selesai dengan pekerjaannya, lalu menghidangkan di atas meja dimana ia lihat Daniel sudah berada di sana.
"Makan ini, habiskan!" perintahnya lalu melangkah kembali ke kamar Daniel.
"Setelah itu minum obat ini! Aku harus bekerja," ucap Zeline lagi meletakan obat yang ia ambil dari kamar Daniel, di atas meja lalu melangkah pergi dari sana.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu!" seru Daniel sedikit berteriak saat ia mendengar Zeline yang sudah membuka pintu. Daniel sadar ia tidak akan bisa menghentikan Zeline untuk tidak bekerja, saat ia tau bagaimana kekasihnya itu begitu profesional dalam bekerja dan ia juga ada urusan nantinya dengan Nick. Ada hal pentiny yang harus mereka bicarakan.
__ADS_1
Diluar sana, Zeline yang sempat mendengar ucapan Daniel dibuat tersenyum, apalagi saat ia mengingat kalimat Daniel sebelumnya yang mengatakan akan menikahinya. Meski masih merasa sangat ragu dengan ucapan Daniel tersebut, tapi ia kembali dibuat berharap pada pria itu.
"Aku berharap kamu benar-benar menikahiku, Niel."