
Setelah makan siang, Zeline dan Shanum kembali ke kantor. Keduanya berpisah di lobi saat Shanum harus ke toilet terlebih dulu. Zeline masuk ke dalam lift begitu juga Tian yang entah dari mana tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Zeline yang masih teringat dengan pembicaraannya sebelumnya dengan Shanum, lebeih banyak diam.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka dan saat pintu yang baru saja terbuka, terlihat Lucy yang berada di hadapan mereka.
Lucy menatap Zeline dengan tajam, lalu melirik ke arah Tian yang bisa-bisanya seorang bos berada di dalam satu lift bersama dengan karyawannya yang masih tergolong baru. Melihat itu semua rasa benci Lucy pada Zeline semakin menjadi. Dulu, Lucy pernah coba mendekati Tian, tapi Tian dengan tegas mengatakan jika antara atasan dan bawahan harus bisa bekerja secara profesional. Namun, yang terlihat sejak kehadiran Zeline semua ucapan Tian seakan hanya alasan untuk menolaknya.
“Selamat pagi pak,” sapa Lucy pada Tian, berpikir jika saja semua ucapan Tian dulu sudah tidak berlaku lagi. Namun, pria itu sama sekali tidak menghiraukan keberadaanya. Membuatnya terdiam menahan malu karena diabaikan oleh Tian di hadapan Zeline dan beberapa orang yang ada di luar lift.
Zeline keluar dari lift, tapi tidak dengan Tian yang melanjutkan naik ke lantai teratas gedung tersebut.
“Kau merasa bangga bisa dekat dengan idola semua wanita di kantor ini?” Ketus Lucy bertanya kepada Zeline, di saat Zeline baru saja melangkah menjauhinya .
“Maksudmu apa?” tanya Zeline yang merasa kesal pada wanita yang selalu saja mencoba mencari masalah padanya. Kekesalan Zeline pada Danie, belum lagi dengan sikap Tian yang membuat gempat kantor, semakin menjadi saat wanita yang ada di depannya coba mengusiknya.
Lucy tertawa dengan begitu kencang, bahkan tawanya sangat terdengar seperti kuntilanak yang menakutkan. “Jangan berpura-pura bodoh kamu! Pasti kamu paham apa yang aku maksud.”
__ADS_1
Zeline yang mendengar hanya menanggapi dengan memutar bola matanya malas meladeni orang-orang seperti ini.
'Hem... sudahlah. Sabar, sabar.' batinnya berusaha mengendalikan amarah dan rasa kesalnya saat ia sadar ia tengah berada di kantor.
Setelah mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya, Zeline memilih untuk melewati Lucy begitu saja.
“Aw...,” keluh Zeline, ketika dirinya terjatuh, karena Lucy yang menyandung kakinya dengan sengaja.
“Hahahahaha,” tawa Lucy dan teman-teman lainnya terdengar begitu kencang dipendengaran Zeline. Membuat amarah yang berusaha Zeline tahan kembali datang bahkan lebih dari sebelumnya.
“Berani sekali kamu mendorong Lucy,” seru salah satu karyawan yang selalu saja membela Lucy.
“Diamlah, jika kau tidak ingin merasakan tamparanku!" bentak Zeline menatap tajam pada wanita itu yang seketika terdiam bergidik ngeri menatapnya.
"Kalian semua punya mata, kan? Kalian bisa lihat siapa yang lebih dulu memulai?" tanya Zeline dengan ketus kepada beberapa orang yang melihatnya.
__ADS_1
Lucy yang merasa tidak terima diperlakukan seperti itu langsung berdiri dan menjambak rambut Zeline dengan begitu keras. “Dasar jalaang! Lubangmu ini tidak pernah cukup dengan satu pria saja yang memasukinya. Kamu butuh puluhan bahkan ratusan pria untuk memuaskannya, kan? Benar-benar jalaang murahan." Lucy berkata dengan begitu kasar kepada Zeline. Membuat mereka berdua kini menjadi bahan tontonan oleh para semua karyawan hotel.
"Jaga mulutmu jika tidak ingin aku memberi pelajaran pada mulut kotormu!" ancam Zeline dengan sekali hentakan melepaskan diri dari Lucy yang terus berusaha ingin menjambaknya.
"Coba saja jika kamu berani!" tantang Lucy yang dalam sekali gerakan Zeline langsung mendaratkan satu pukulan tepat di bibir wanita yang sudah membuatnya merasa amat geram.
Lucy yang mendapat pukulan dari Zeline seketika meraung kesakitan saat bibirnya berdarah, bahkan satu giginya terasa nyaris terlepas akibat pukulan yang begitu keras dari tangan Zeline.
Zeline bukanlah wanita yang akan membalas ucapan pahit seorang wanita dengan ucapan yang sama, ia lebih suka menggunakan tangannya jika ucapannya tak didengarkan oleh lawannya, dan itulah yang ia lakukan pada Lucy yang merasa sulit untuk berbicara saat bibirnya tengah terluka akibat pukulan Zeline.
"Zeline, hentikan! Sudahlah! Tidak perlu meladeni mereka," ucap Asisten manager di hotel itu yang baru saja tiba di sana langsung berusaha menghentikan pertengkaran yang terjadi.
Lucy yang melihat Zeline tengah lengah saat atasan mereka mencoba menghentikannya mengambil kesempatan akan hal itu, wanita itu mendekat dan dengan begitu kuat mendorong Zeline hingga Zeline yang tidak siap akan hal itu terjatuh dengan kepalanya yang membentur meja dan dalam beberapa detik darah mulai keluar dari pelipis Zeline.
"Ze, kepalamu berdarah!" Radit merasa panik melihat hal itu.
__ADS_1