
Daniel sudah kembali ke Jakarta, dia tidak mengetahui jika Rihanna memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengikutinya sampai ke Sumatera. Sebuah foto yang menunjukkan jika Daniel melamar seorang wanita bernama Zeline dan diketahui oleh Rihanna bahwa wanita itu sama sekali tidak direstui oleh kedua orang tua Daniel.
Maka Rihanna memutuskan untuk terbang ke Sumatera dan menemui Zeline, setelah Rihana tahu jika Daniel sudah kembali ke Jakarta dua hari yang lalu. Rihanna akan melakukan sesuatu kepada Zeline agar wanita itu tidak lagi menjalin hubungan dengan Daniel.
Siang harinya di tempat kerja Zeline, Zeline saat ini tengah bersama dengan Shanum sahabatnya, berencana untuk makan siang di luar, tapi saat mereka berdua hendak pergi, tiba-tiba Tian menghentikan mereka.
"Kau mau ke mana?" tanya Tian kepada Zeline, saat melihat wanita itu hendak pergi bersama dengan sahabatnya.
Shanum dan Zeline memang berteman di tempat kerja yang sama, Jadi wajar jika keduanya memang sangat dekat dan sering kali makan siang bersama ataupun pulang bareng meskipun mereka tinggal di tempat berbeda.
"Kita mau makan siang di luar Pak," jawab Zeline pada Tian.
"Kau ikut denganku!" Tian mengajak Zeline untuk ikut bersama dengannya, jelas membuat semua perhatian tertuju pada mereka.
"Maaf, Pak. Saya sudah janjian mau makan siang dengan Shanum, iya kan Shanum?" Zeline melihat ke arah Shanum dan Shanum mengangguk karena memang keduanya sudah berencana untuk makan siang di luar bersama.
Zeline sudah mendengar tentang atasannya yang ternyata adalah seorang pria playboy, tentu Zeline menolak ajakan Tian, terlebih Zeline berusaha menghargai perasaan kekasihnya–Daniel, karena dia tidak ingin menjadi salah satu korban Tian ataupun mengkhianati kekasihnya.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu penting, ini masalah pekerjaan. Jadi sekarang kau ikut denganku." Tian memaksa agar Zeline ikut bersama dengannya, tanpa penolakan.
Pekerjaan? Pekerjaan apa? Bukankah harusnya Shanum yang berurursan langsung jika ada pekerjaan, sebab Shanum kepala di devisi mereka? Itulah kiranya batin orang-orang termasuk Zeline yang mendengar itu.
Zeline merasa heran, karena sikap Tian yang seperti itu. Padahal selama ini Tian tidak pernah mendekati pegawainya sendiri, Tian anti bermain dengan orang yang ada di lingkungan kerjanya, tapi belakangan sikap pria itu semakin aneh dan memperlihatkan jika dia tengah mengejar karyawannya sendiri.
Semua itu tentu saja semakin membuat geger pegawai di sana. Banyak sekali bisik-bisik yang membicarakan keburukan Zeline dan mengira jika wanita itu sudah berbuat yang tidak-tidak sehingga Tian berani mendekatinya.
"Kok bisa sih, Pak Tian malah mendekati si Zeline itu? Padahal kan Pak Tian tipe pria yang sangat pemilih dalam hal urusan wanita, tapi bisa-bisanya dia malah mengajak Zeline makan siang di luar." Komentar dari salah seorang rekan sesama karyawan di hotel, dia adalah salah satu wanita yang tidak suka dengan Zeline.
Semua kabar tentang Tian yang mencoba mendekati pegawainya sudah menyebar luas, semua karena Tian mengajak Zeline makan siang dan terkesan memaksa. Dengan alasan pekerjaan, padahal sebelumnya Tian tidak pernah membahas tentang pekerjaan di luar kantor, apalagi mendekati pegawainya.
Dan masih banyak lagi cibiran yang terlontar dari mulut mereka semua ditunjukkan kepada Zeline, mereka yang berkomentar adalah para wanita yang sama-sama bekerja di hotel yang dipimpin oleh Tian. Mereka iri karena Tian menunjukkan jika pria itu hanya mendekati Zeline, padahal selama ini yang mereka ketahui jika Tian tidaklah pernah menjalin hubungan pertemanan atau sebagainya pada sesama pegawai ataupun bermain dengan orang yang masih di lingkungan kerjanya.
Tapi sikap Tian kepada Zeline, membuat semua orang berspekulasi. Bahwa Tian memang ada ketertarikan dengan Zeline, meskipun berulang kali Zeline bersikap acuh dan juga cuek setiap Tian berusaha untuk mendekatinya.
"Bagaimana? Ayo kita berangkat sekarang. Shanum, kau tidak ada masalah kan jika aku mengajak Zeline makan di luar?" Tian melirik ke arah shanum yang berdiri tepat di samping Zeline.
__ADS_1
"Tidak masalah, Pak. Silahkan saja, lagi pula kan tadi kata bapak bilang ada urusan pekerjaan yang harus bapak bicarakan dengan Zeline, jadi nanti saya bisa makan lain kali saja dengan Zeline." Shanum bersikap ramah dan sopan pada Tian, karena pria itu memang atasanya.
Zeline tidak punya alasan menolak lagi ajakan Tian, karena shanum sendiri tidak bisa menyelamatkannya dari pria itu. Jadi sekarang mau tidak mau Zeline harus ikut makan siang di luar bersama dengan Tian.
Meskipun banyak pasang mata yang menatap sinis ke arah Zeline karena dia baru saja diajak oleh atasannya untuk makan siang bersama di luar. Hanya mereka berdua saja. Padahal beberapa diantara mereka mengharapkan jika Tian memperlakukan mereka sama seperti Tian bersikap kepada Zeline saat ini.
"Sudah, tidak apa-apa. Kau pergi saja sama Pak Tian. Tidak usah berpikir yang aneh-aneh, abaikan saja mereka yang tidak suka. Lagi pula kan Pak Tian sendiri yang mengajak bukan kau yang mendekatinya." Shanum berbisik di telinga Zeline agar sahabatnya itu secepatnya pergi bersama dengan Tian.
Tian tahu jika Zeline merasa tidak nyaman karena menjadi perbincangan oleh para pegawai lainnya, akhirnya Tian berusaha untuk bersikap ramah kepada semua pegawainya agar mereka tidak menganggap jika Tian hanya pilih kasih saja kepada Zeline, tetapi sikapnya justru semakin membingungkan semua orang.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya." Zeline berpamitan pada Shanum dan pergi makan siang di keluar bersama dengan Tian.
Zeline dan juga Tian akhirnya pergi menuju ke salah satu restoran yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka bekerja, Tian tahu jika Zeline merasa tidak nyaman pergi bersama dengannya. Mungkin karena statusnya sebagai atasan ataupun Zeline sudah mendengar mengenai karakter Tian seorang pria playboy.
"Terima kasih banyak, karena kau sudah bersedia menemani aku makan siang di luar. Maaf jika semua ini jadi membuatmu tidak nyaman." Tian berusaha bersikap ramah untuk mendekati Zeline. Agar Zeline tidak berpikir yang macam-macam kepadanya.
"Tidak apa-apa, Pak. Lagi pula saya bawahan bapak, jadi tidak ada pilihan bagi saya selain menuruti perintah Anda," jawab Zeline dengan cuek.
__ADS_1
Tian masih belum berhasil mengambil hatinya Zeline, sebab wanita itu masih bersikap cuek dan acuh padanya. Padahal Tian sudah berusaha bersikap ramah pada Zeline, ternyata tantangan besar bagi Tian supaya bisa meluluhkan hati Zeline.
Sial, semakin acuh dia, semakin aku tertarik padanya. Batin Tian.