
Zeline mengangkat tanganya lalu dapat merasakan basah dari darah yang mulai keluar dari pelipisnya. Ia mengusap pelipisnya dan melihat darah di tanganya, melihat itu Zeline langsung bangkit dan menatap Lucy dengan tatapan yang begitu tajam. Amarahnya benar-benar memuncak mendapati hal itu.
Zeline mendekati Lucy lalu menampar Lucy berulang-ulang, bukan hanya menampar dan memukul Lucy, Zeline bahkan menerjang Lucy dengan begitu keras hingga wanita itu terjatuh dan dengan cepat Zeline kembali membabi buta menghajar wanita yang nyaris tidak bisa bergerak karena Zeline menduduki tubuhnya.
"Tolong….," teriak Lucy menggema di sana. Orang-orang yang ada di sana coba menghentikan Zeline yang begitu brutal menghajar Lucy, tapi tak ada yang dapat menghentikannya yang tengah seperti orang kesetanan itu.
Radit dan Shanum yang melihat hal itu dengan cepat berlari mencari bantuan, begitu juga seorang pegawai yang dengan sengaja berpikir untuk mencari perhatian Tian.
“Pak, anu Pak...” ucap orang itu terbata-bata, karena nafasnya yang masih tersengal-sengal akibat berlari tadi.
“Berani sekali kau masuk tanpa mengetuk pintu!" bentak Tian yang masih diselimuti kekesalan mengingat sikap acuh Zeline saat di lift.
"Maaf Pak. Ini keadaan darurat," ucap pria itu masih berusaha mengatur deru nafasnya.
"Ada apa? Kau kalau bicara yang jelas! Sudah masuk tanpa ketuk pintu dulu, sekarang malah seperti ini,” protes Tian yang kini terlihat menyilangkan tangannya di depan dada menatap jengah pada bawahannya itu.
“Itu, Pak. Zeline, dia sedang bertengkar dengan Lucy,” lapornya setelah nafasnya sudah kembali normal.
Braaakkk, Tian menggebrak meja dengan kuat, “Bagaimana dengan Zeline? Apa dia terluka? Awas saja jika berani menyentuh Zeline,” sentaknya dengan keras.
Sontak saja pria itu langsung mengelus dadanya yang merasa terkejut dengan reaksi bosnya yang tiba – tiba.
‘Fix, tidak salah lagi. Pak Tian benar-benar punya hubungan dengan Zeline Dia mengkhawatirkan Zeline, itu artinya ucapannya tadi pagi benar jika Zeline adalah kekasihnya. Dia mengkhawatirkan Zeline. Apanya yang terluka? Harusnya dia khawatir jika nanti Lucy itu mati karena ulah wanita itu yang sangat brutal,’ batin pria itu, merasa jika bosnya telah salah mengkhawatirkan target.
Tanpa menunggu jawaban bawahannya yang menurutnya sangat lama, Tian segera mengayunkan kakinya untuk mendatangi lokasi kejadian dan melihat langsung bagaimana keadaan Zeline.
"Tolong, tolong!!" Tian yang baru saja keluar dari lift di lantai tujuh itu langsung mendengar suara teriakan orang minta tolong dan itu semakin membuatnya merasa panik dan mempercepat langkahnya.
Sesampainya di lokasi kejadian, betapa terkejutnya Tian, yang melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang sedang dilakukan oleh Zeline kepada Lucy.
__ADS_1
Bahkan seorang keamanan berusaha melerai tak luput dari serangan Zeline yang membabi buta itu
“Berhenti, lepaskan tanganmu darinya!” teriak Tian mencengkram kerah baju security yang tengah berusaha menarik Zeline untuk melepaskan Lucy.
Setelah menjauhkan pria itu dari Zeline, Tian kembali mendekat dan dengan cepat menangkat tubuh Zeline dari tubuh Licy dengan melingkarkan tangannya di perut Zeline.
“Lepaskan aku! Aku harus memberikan pelajaran kepada wanita laknat ini. Berani sekali dia mengatakan aku jalaaang, dia juga sudah berani membuatku terluka, aku akan membunuhnya! Lepaskan,” Zeline terus saja meronta di dalam pelukan Tian yang semakin erat memeluknya agar Zeline tak kembali menyerang Lucy yang benar-benar terlihat sudah babak belur akibat serangan Zeline.
“Sabar, Ze, Sabar, jangan kesetanan seperti ini, kamu bisa membunuhnya! Ayo kita obati lukamu!” ucap Tian yang terlihat begitu peduli pada wanita itu.
Tian berusaha untuk tenang di tengah rasa terkejutnya akan tingkah Zeline.
Dia tidak pernah melihat Zeline semarah ini, terlihat seperti orang yang tengah kesurupan.
"Pak. Dia sudah sangat kelewatan, dia hampir saja membunuh Lucy!" ucap beberapa perempuan coba mendekati Luvy yang sudah terlihat begitu lemah meringis mengadu sakit yang begitu sakit di sekujur tubuhnya.
"Apa yang terjadi di sini sebenarnya?" tanya Tian dingin pada semua orang masih dengan memeluk erat tubuh Zeline yang terus saja berusaha memberontak.
"Hei…. berani sekali kau memfitnahku! Dia yang memulai, dia berkata aku jalaang, dia juga dengan sengaja membuatku terjatuh, dia yang lebih dulu menyerangku. Jaga mulutmu jika tidak ingin aku menghajarmu lebih parah dari dia," bentak Zeline menggelegar membuat wanita itu langsung berlari ketakutan menjauh pergi dari sana.
"Ze, tenanglah! Aku percaya padamu," bisik Tian dengan sengaja menempelkan bibirnya di telinga Zeline yang semakin berusaha memberontak agar terlepas dari Tian.
"Lepaskan aku! Lepas!" teriakannya, tapi Tian semakin mengeratkan pelukannya.
Semua orang yang ada di sana menatap iba pada Lucy dan menatap heran pada Tian yang justru terlihat melindungi Zeline yang sudah nyaris membunuh Lucy.
“Radit,” panggil Tian pada asistennya itu.
“Iya, Pak. Apa kita perlu memanggil orang pintar?" jawab Radit yang juga merasa jika Zeline tengah kesurupan.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Tian bingung.
"Zeli i sepertinya kesurupan. Kita harus memanggil orang pintar untuk mengobatinya," ucap Radit tertawa pelan membuat Zeline semakin kesal mendengarnya.
Zeline menolehkan kepalanya menatap Tian dan Radit dengan tajam, seakan-akan ingin memakan pria itu saat ini juga.
“Sayang, sadar sayang…" ucap Tian tanpa ia sadari dan itu membuat semua orang tercengang mendengarnya.
“Aw...,” jerit Tian ketika Zeline yang terus memberontak itu menginjak kakinya dengan begitu kuat.
“Urus anak bawahan kesayanganmu itu sebelum dia benar-benar mati,” seru Zeline menatap sinis pada Lucy yang tergeletak tak sadarkan diri, lalu dengan cepat menyambar tasnya dan berlalu pergi dari sana masih dengan pelipisnya yang mengeluarkan darah.
“Ze, mau kemana?” Teriak Andra memanggil wanita yang kini sudah mengarah masuk ke dalam lift.
Namun, yang ditanya malah diam sambil menatapnya tajam, lalu menunjukan jari tengah kepada Tian, menandakan Fucck untuk Tian. Tian yang melihat itu semua bukannya marah, ia justru tersenyum dengan lebar melihat aksi Zeline yang semakin membuatnya begitu terpukau.
“Aku semakij menyukaimu,” lirihnya pelan, sambil terus memandang lift yang kini telah tertutup rapat.
“Urus wanita itu sekarang! Segera bawa dia ke rumah sakit.
Setelah dia sadar, katakan padanya untuk tidak lagi datang bekerja. Aku memecatnya. Dan ingatkan dia! Agar tidak berani macam-macam apalagi untuk melaporkan Zeline ke polisi. Pastikan dia tidak mengusik Zeline jika hidupnya masih ingin tenang,” perintah Tian pada Radit dengan begitu tegas.
Semua orang lagi-lagi di buat tercengang akan sikap Tian yang justru membela Zeline. Dari kejadian itu dapat mereka simpulkan jika benar ada hubungan lebih serius antara Zeline dan GM mereka, serta anggapan mereka selama ini jika atasan mereka bijak dan profesional dalam bekerja salah.
Setelah mengatakan semua itu, Tian ingin pergi untuk menyusul Zeline yang dia yakini pasti memilih untuk pulang. Ia masih merasa cemas pada Zeline yang sempat ia lihat jika pelipis wanita itu berdarah.
Namun, baru saja dirinya ingin melangkah masuk ke dalam lift, Tian teringat akan satu hal yang sangat-sangat penting menurutnya. Pria itu kembali membalikan tubuhnya dan melihat Radit yang saat ini juga sedang melihatnya.
“Pastikan tidak ada satupun manusia yang merekam kejadian tadi! Hapus! Dan musnahkan siapapun yang mengabadikan kejadian hari ini! Apa kamu mengerti?” perintahnya pada Radit.
__ADS_1
“Baik, Pak,” jawab Radit.
“Jangan sampai kecolongan!” ujar Tian lagi, lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam lift menyusul Zeline.