
Paginya, Zeline sudah bersiap untuk pergi ke kantor, saat dia membuka pintu dan akan menguncinya lagi. Tiba-tiba Tian datang menjemputnya sehingga membuat Zeline kaget dan tidak menyangka jika lelaki itu seperti serius dengan tawarannya semalam.
"Selamat pagi, Zeline . Sudah siap berangkat ke kantor?" Tian turun dari mobilnya dan menyapa Zeline yang baru saja selesai mengunci pintu rumahnya.
Zeline masih kaget dengan kedatangan Tian yang tiba-tiba ke rumahnya, kemungkinan pria itu datang untuk menjemputnya dan mereka berdua pergi ke kantor bersama.
__ADS_1
"Pagi juga, iya. Aku sudah mau berangkat ke kantor ini, Bapak, Tuan, eh maksud saya, mau ngapain kau ke sini?" Saking gugupnya Zeline sampai melontarkan pertanyaan konyol seperti itu.
Zeline selalu saja keceplosan memanggil Tian dengan sebutan bapap atau pun Tua padahal Tian sudah menegaskan jika Zeline tidak perlu memanggilnya seformal itu ketika sedang berada di luar kantor. Untuk itulah tadi Zeline sempat gugup karena merasa kaget dengan kedatangan Tian yang akan menjemputnya.
"Aku datang ke sini untuk menjemput kamu lah, biar kita berangkat bareng ke kantor. Kita harus bersandiwara secepat mungkin, meyakinkan orang-orang yang ada di kantor jika kita memang mempunyai hubungan. Supaya ketika nanti Daniel datang ke sini dia pasti akan mencari tahu pada orang-orang kantor mengenai hubungan kita, setidaknya Daniel benar-benar akan percaya jika kita memang memiliki hubungan dari keterangan orang-orang kantor." Ini adalah salah satu rencana yang memang Tian pikirkan sejak semalam.
__ADS_1
"Apalagi yang kau pikirkan, Zeline ? Bukankah kau sendiri yang meminta bantuanku untuk berpura-pura menjadi tunanganmu? Menurutku, bukan hanya berpura-pura di hadapan Daniel saja. Tapi di hadapan mereka semua pun kita harus tetap melakukan sandiwara ini, agar lebih meyakinkan lagi dan juga Daniel pasti percaya jika kau memang terlibat hubungan asmara dengan atasanmu sendiri. Skandal ini pasti akan cepat menyebar sehingga mereka semua mempercayai sandiwara yang sedang kita mainkan ini." Tian kembali meyakinkan Zeline agar mereka berdua memang harus mulai melakukan sandiwara setidaknya di hadapan orang-orang kantor, Tian berfikir ke arah sana supaya saat Daniel mencari tahu dan bertanya pada teman-teman kerja Zeline , maka Daniel akan mendapatkan jawaban yang valid.
Zeline masih mempertimbangkan ide dari Tian, tapi yang dikatakan oleh Tian memang ada benarnya juga. Daniel tidak akan mungkin percaya begitu saja jika Zeline yang mengatakan jika Tian adalah tunangannya, maka Daniel pasti akan mencari tahu pada orang-orang terdekat Zeline untuk lebih meyakinkannya lagi. Jadi tidak ada salahnya jika Zeline juga berpendapat sama seperti Tian.
"Ya sudah, kalau begitu aku pun setuju. Yang terpenting Daniel tidak lagi mengejar-ngejar ku, jadi aku bisa hidup dengan tenang tanpa harus lagi berurusan dengan pria itu." Pada akhirnya Zeline setuju dengan ide Tian, karena yang dipikirkan oleh Zeline saat ini adalah, bagaimana caranya agar dia bisa menjauh dari kehidupan Daniel dan tidak lagi diganggu oleh pria itu.
__ADS_1
"Nah, begitu dong. Ini namanya keren, jika kau memang benar-benar ingin pergi jauh dari kehidupan Daniel. Maka mulai hari ini kita akan memainkan sandiwara di hadapan semua orang, jika kita adalah sepasang kekasih." Tian tersenyum senang dan dia pun membukakan pintu mobil untuk Zeline.
Tenang Ze, ini keputusan yang benar. Batin Zeline.